Trump Ancam Jadikan Iran 'Neraka', Benar Berani Atau Ngomong Doang?

6 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terus memberikan peringatan keras kepada Teheran untuk segera membuka akses di Selat Hormuz. Terbaru, Trump mengancam akan meratakan Iran jika jalur perdagangan energi vital tersebut tidak dibuka sepenuhnya hingga Selasa, (07/04/2026) pukul 20.00 waktu pantai timur AS.

Ancaman ini menjadi selalu menjadi sorotan dari ketegangan yang meningkat di kawasan tersebut. Namun, alih-alih melakukan tindakan militer langsung, Trump tercatat berulang kali menggeser tenggat waktu yang ia buat sendiri.

Mengutip postingan First Post, rangkaian ultimatum ini dimulai pada 23 Maret lalu ketika Trump menyatakan, "Buka Hormuz dalam 48 jam!".Empat hari kemudian, tepatnya pada 26 Maret, janji tindakan tegas tersebut melunak menjadi, "Buka Hormuz dalam 5 hari!".

Ketidakkonsistenan ini berlanjut pada 27 Maret dengan pernyataan, "Buka Hormuz dalam 10 hari!". Memasuki bulan berikutnya, pada 4 April, Trump kembali ke retorika awal dengan berteriak, "Buka Hormuz dalam 48 jam!".

Pada 5 April, ia kembali mengubah batas waktu menjadi, "Buka Hormuz pada hari Selasa!". Puncak kegeraman Trump terlihat pada 7 April saat ia melontarkan kalimat, "Buka Selat keparat itu pada hari Selasa!", sebelum akhirnya di hari yang sama ia kembali mengundur tenggat waktu tersebut dengan mengatakan, "Buka Hormuz pada hari Rabu!".

Pola tarik-ulur ini memicu kembalinya istilah "TACO" di lantai bursa, sebuah akronim dari Trump Always Chickens Out atau Trump selalu takut dan mundur di saat-saat terakhir.  Pakar geopolitik yang berbasis di New Delhi, Srijan Shukla, menyebutkan perang melawan Iran ini telah membuat asumsi tak jelas, utamanya pada pasar keuangan global.

"Pengalaman sejak Presiden AS Donald Trump menjabat telah membawa pelaku pasar untuk sangat percaya pada gagasan TACO - Trump Always Chickens Out," kata Shukla dalam tulisannya di Lowy Institute.

Shukla memaparkan bahwa pola ini bukan hal baru. Sekitar setahun yang lalu, ketika Trump mengumumkan tarif Liberation Day, pasar sempat mengalami keruntuhan bersejarah. Namun, begitu imbal hasil obligasi AS melonjak ke wilayah berbahaya, ia menunda implementasinya selama 90 hari, yang membuat pasar kembali reli.

Pola serupa muncul saat Trump bicara soal memecat Ketua Federal Reserve Jerome Powell atau rencana pengambilalihan Greenland. Saat itu, pasar jatuh saat ancaman muncul, dan bersorak saat Trump berbalik arah.

"Dapat dikatakan bahwa bahkan selama beberapa minggu terakhir, logika inti TACO, yang dicetuskan oleh Robert Armstrong di Financial Times, sebagian besar tetap bertahan. Setiap indikasi positif sekecil apa pun dari Trump bahwa ia bermaksud mengakhiri perang di Iran telah menyebabkan reli pasar," ujar Shukla.

Shukla juga mengutip pandangan Robert Armstrong yang heran mengapa pasar terus percaya pada pesan Trump yang kontradiktif. Armstrong sendiri telah menyimpulkan bahwa sinyal yang tidak konsisten tersebut justru mengisyaratkan niat Trump untuk membungkus atau mengakhiri perang ini.

"Bagi para trader, komentar presiden tetap menjadi bahan spekulasi yang cukup meskipun hampir dipastikan hanya sekadar kebisingan."

Lebih lanjut, Shukla menilai ada kekosongan dalam analisis kebijakan luar negeri Trump. Karena tidak adanya penjelasan rasional standar, reaksi pasar kini muncul sebagai indikator utama geopolitik.

"Pasar dapat membantu menegakkan garis merah antara yang buruk dan yang sangat buruk. Selama kita tetap berada di zona buruk, bukan bencana, status quo dalam tatanan geopolitik dan ekonomi global agak dipertahankan," jelas Shukla.

Zero-Sum Game dan Senjata Nuklir

Namun, Shukla memberikan catatan penting bahwa pasar adalah indikator yang tidak sempurna karena sifatnya yang dinamis. Kembalinya kenormalan setiap kali terjadi "transaksi TACO" sebenarnya menyembunyikan pergeseran mendasar dalam kebijakan luar negeri Amerika.

Shukla mengutip esai Stephen Walt, The Predatory Hegemon, yang berargumen bahwa Trump menganggap hubungan AS dengan musuh maupun sekutu sebagai zero-sum game. Hal ini ditambah lagi dengan tak pernah digunakannya senjata nuklir AS, memicu hasrat Washington untuk menggunakannya sebagai alat negosiasi demi membentuk norma baru.

"Menerapkan hal ini pada kebijakan luar negeri Trump mengungkapkan evolusi serupa dalam tradisi tidak digunakannya norma-norma dalam menerapkan kekuatan AS. Meskipun Trump 2.0 jauh lebih predator daripada masa jabatan pertamanya, proses mempertanyakan dan membentuk kembali norma-norma lama sudah berlangsung sejak saat itu," kata Shukla.

Shukla mencontohkan mulai dari perang dagang dengan China hingga ancaman terhadap sekutu Eropa sebagai cara Trump membentuk tradisi baru dalam penggunaan kekuasaan AS. Diketahui, Trump banyak melontarkan ancaman yang keras, namun ujung-ujungnya, tetap membuka ruang negosiasi yang cukup terbuka.

"Ke depan, akan ada lebih banyak insiden TACO, tetapi mereka akan lebih mirip dengan jeda sesaat, dan bukan kembalinya status quo yang lama," pungkas Shukla.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |