Update Perang AS-Iran: Negosiasi Damai, Hormuz hingga Israel-Lebanon

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran terus menunjukkan dinamika yang cepat. Mulai dari eskalasi militer hingga peluang negosiasi damai yang kembali terbuka.

Situasi di Selat Hormuz, blokade laut, hingga keterlibatan aktor kawasan seperti Israel dan Lebanon turut memperumit peta konflik, sekaligus memicu dampak global terutama pada energi dan ekonomi. Berikut update terbaru terkait situasi perang antara AS dan Iran, sebagaimana dihimpun CNBC Indonesia pada Rabu (15/4/2026).

1.Trump Isyaratkan Negosiasi Baru AS-Iran

Presiden AS Donald Trump membuka peluang baru bagi diplomasi dengan Iran. Ia menyebut putaran kedua pembicaraan dapat berlangsung dalam waktu dekat, dengan Pakistan sebagai kandidat lokasi pertemuan.

"Sesuatu dapat terjadi dalam dua hari ke depan," kata Trump dalam wawancara dengan New York Post.

Menurut sumber diplomatik, Pakistan saat ini aktif berupaya mempertemukan kedua pihak. Selain itu, negosiasi juga difokuskan untuk memperpanjang gencatan senjata selama dua minggu yang saat ini berlaku.

Jika terealisasi, pembicaraan ini dapat menjadi titik balik penting meredakan konflik yang telah mengguncang stabilitas kawasan. Sebelumnya pembicaraan gagal pekan lalu saat kedua negara bersitegang soal poin pengayaan uranium Iran. 

2.Pasar Respons: Saham Naik, Minyak Turun

Harapan terhadap meredanya konflik langsung tercermin di pasar keuangan global. Bursa saham AS mencatat penguatan signifikan, dengan indeks S&P 500 dan Nasdaq kembali ke level sebelum eskalasi konflik antara AS, Israel, dan Iran pada akhir Februari.

Kenaikan ini didorong optimisme investor bahwa jalur diplomasi mulai terbuka. Sehingga risiko gangguan besar terhadap ekonomi global dapat ditekan.

Di sisi lain, harga minyak dunia justru mengalami penurunan tajam. Minyak Brent turun ke level US$94,79 per barel atau sekitar Rp1,56 juta sementara West Texas Intermediate (WTI) berada di US$91,28 per barel atau sekitar Rp1,50 juta.

Penurunan harga minyak ini dipicu ekspektasi bahwa Selat Hormuz, jalur vital yang mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dunia, dapat kembali dibuka secara normal jika ketegangan mereda. Selat ini sebelumnya menjadi titik kritis akibat blokade dan risiko serangan militer.

3.Zelensky Tiba-Tiba Komplen Fokus AS di Perang Iran

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky secara terbuka mengkritik pergeseran fokus AS yang kini lebih tertuju pada konflik Iran. Ia menilai kondisi ini berdampak langsung pada dukungan militer dan diplomatik terhadap Ukraina.

Dalam wawancara dengan penyiar Jerman ZDF, Zelensky menyebut para negosiator AS kini "tidak punya waktu untuk Ukraina" karena intensif terlibat dalam pembicaraan dengan Iran. Ia juga menyoroti tokoh-tokoh seperti Steve Witkoff dan Jared Kushner yang sebelumnya aktif dalam diplomasi terkait Rusia, kini lebih fokus pada isu Timur Tengah.

"Jika Amerika Serikat tidak menekan Putin... dan hanya terlibat dalam dialog yang lembut dengan Rusia, maka mereka tidak akan lagi takut," tegas Zelensky.

Pernyataan ini mencerminkan kekhawatiran Kyiv bahwa konflik global yang meluas dapat mengurangi perhatian dan dukungan Barat terhadap perang di Ukraina. Perang Rusia dan Ukraina sendiri sudah terjadi sejak 2022.

4.AS Perketat Sanksi ke Iran

Di tengah peluang negosiasi, AS justru mempertegas sikap keras terhadap Iran. Departemen Keuangan AS mengumumkan tidak akan memperpanjang keringanan sanksi minyak yang sebelumnya diberikan secara terbatas.

Kebijakan tersebut sebelumnya memungkinkan penjualan minyak Iran yang sudah berada di laut untuk mengurangi guncangan pasokan global. "Otorisasi jangka pendek... akan berakhir dalam beberapa hari dan tidak akan diperbarui," demikian pernyataan resmi.

Langkah ini menunjukkan Washington tetap menjalankan strategi "tekanan maksimum" terhadap Teheran, meskipun jalur diplomasi mulai dibuka. Kebijakan ini juga berpotensi memperketat pasokan energi global jika konflik berlanjut.

5.Hizbullah Serang Israel Utara

Ketegangan di lapangan belum mereda. Hizbullah meluncurkan serangan roket ke 13 kota di Israel utara. Hal ini terjadi hanya beberapa saat setelah pembicaraan Israel-Lebanon dimulai di Washington.

Serangan ini menunjukkan adanya perbedaan dinamika antara jalur diplomasi dan kondisi militer di lapangan. Hizbullah, yang didukung Iran, tetap menjadi aktor kunci dalam konflik di perbatasan Lebanon-Israel.

Aksi ini berpotensi memicu respons militer lanjutan dari Israel. Ini sekaligus menguji komitmen kedua negara terhadap proses negosiasi yang baru dimulai.

6.Update AS Blokade Selat Hormuz

Militer AS melaporkan telah menghentikan enam kapal yang mencoba keluar dari pelabuhan Iran dalam 24 jam pertama sejak blokade laut diberlakukan. Ini menjadi bagian dari langkah Trump memblokade Selat Hormuz.

Namun, data pelacakan maritim menunjukkan bahwa beberapa kapal masih berhasil melintasi Selat Hormuz meskipun blokade telah diberlakukan. Hal ini menandakan implementasi blokade masih menghadapi tantangan di lapangan.

Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial karena merupakan jalur utama ekspor minyak dari negara-negara Teluk ke pasar global. Sebanyak 20% minyak global melewati perairan sempit antara Iran dan Oman itu.

7.Trump Kritik Negara NATO

Dalam perkembangan lain, Trump juga melontarkan kritik terhadap Perdana Menteri Italia Giorgia Meloni, yang selama ini dikenal sebagai sekutu politiknya. Dalam wawancara dengan Corriere della Sera, Trump menyayangkan sikap Meloni yang dinilai tidak cukup mendukung upaya militer terhadap Iran.

"Saya terkejut padanya. Saya pikir dia memiliki keberanian, tetapi saya salah," ujarnya.

Pernyataan ini mengindikasikan adanya perbedaan sikap di antara sekutu Barat terkait pendekatan terhadap konflik Iran. Sebelumnya Spanyol malah mendukung China sebagai mendiator perang Iran dan AS.

8.Bantuan Kemanusiaan Masuk Iran

Di tengah konflik, bantuan kemanusiaan mulai mengalir ke Iran. Palang Merah dan Bulan Sabit Merah Internasional mengonfirmasi pengiriman pasokan medis lintas perbatasan.

Pengiriman ini merupakan yang pertama sejak konflik pecah, menandai mulai terbukanya akses bantuan bagi warga sipil yang terdampak perang. Bantuan tersebut diharapkan dapat meredakan krisis kemanusiaan yang berpotensi memburuk jika konflik berkepanjangan.

9.IMF Pangkas Proyeksi Ekonomi Kawasan

Dampak perang juga terasa signifikan terhadap ekonomi kawasan. Dana Moneter Internasional (IMF) memangkas proyeksi pertumbuhan Timur Tengah dan Afrika Utara menjadi hanya 1,1% pada 2026, dari sebelumnya 3,9%. IMF memperingatkan bahwa konflik telah mengganggu ekspor minyak dan gas, terutama dari negara-negara Teluk seperti Iran, Irak, dan Qatar.

Selain itu, gangguan distribusi energi melalui jalur-jalur utama seperti Selat Hormuz turut memperburuk prospek ekonomi. Meski demikian, IMF memperkirakan pemulihan dapat terjadi pada tahun berikutnya, dengan syarat produksi energi dan sistem transportasi global kembali normal dalam beberapa bulan ke depan.

10.Israel dan Lebanon Sepakat Negosiasi Langsung

Israel dan Lebanon menyepakati dimulainya pembicaraan langsung setelah melalui "diskusi produktif" di Washington. Pertemuan ini berlangsung lebih dari dua jam dan dimediasi oleh Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan kedua negara.

Juru bicara Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa kedua pihak telah mencapai kesepahaman awal untuk membuka jalur komunikasi formal. "Semua pihak sepakat untuk memulai negosiasi langsung pada waktu dan tempat yang disepakati bersama," ujarnya, seperti dikutip AFP.

Kesepakatan ini menjadi perkembangan penting, mengingat selama ini komunikasi Israel-Lebanon lebih banyak dilakukan melalui mediator internasional. Namun, di lapangan, situasi masih sangat rapuh dengan potensi eskalasi sewaktu-waktu, terutama karena keterlibatan kelompok bersenjata seperti Hizbullah.

(tfa/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |