Utang RI ke China Tembus Rekor Tertinggi Sepanjang Masa, AS Ditinggal?

19 hours ago 4

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

16 April 2026 09:55

Jakarta, CNBC Indonesia - Utang luar negeri (ULN) Indonesia yang bersumber dari China naik pada Februari 2026 dan mencetak rekor tertinggi sepanjang masa. Di saat yang sama, utang Indonesia dari Amerika Serikat (AS) juga meningkat, sementara utang berdasarkan mata uang yuan ikut menembus level tertinggi baru.

Berdasarkan Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) edisi April 2026 yang dirilis Bank Indonesia pada Rabu (15/4/2026), posisi ULN Indonesia pada Februari 2026 tercatat sebesar US$437,9 miliar atau tumbuh 2,5% secara tahunan (year on year/yoy).

Bila dikonversi ke rupiah, nilai utang luar negeri Indonesia hingga Februari 2026 mencapai sekitar Rp7.501,22 triliun (asumsi kurs Rp17.130/US$1). 

Nilai ini lebih tinggi dibandingkan Januari 2026 yang sebesar US$434,9 miliar dengan pertumbuhan 1,7% yoy.

Kenaikan ULN pada Februari terutama masih ditopang oleh utang pemerintah, sementara ULN swasta masih mengalami kontraksi.

Utang Luar Negeri China Tembus Rekor

Dari sisi negara kreditur, posisi utang luar negeri Indonesia kepada China pada Februari 2026 tercatat mencapai US$25,574 miliar. Angka ini naik dari Januari 2026 yang sebesar US$25,123 miliar. Kenaikan ini sekaligus membuat utang Indonesia dari China mencetak rekor tertinggi baru.

Sebelumnya, rekor tertinggi utang Indonesia dari China sempat berada di kisaran US$25,048 miliar pada Agustus 2025. Artinya, posisi Februari 2026 sudah melampaui level tertinggi sebelumnya dan menegaskan bahwa peran China sebagai salah satu kreditur utama Indonesia masih terus membesar.

Jika ditarik lebih jauh, kenaikan utang dari China ini juga menunjukkan tren yang masih cukup kuat dalam beberapa tahun terakhir. Dalam lanskap kreditur global Indonesia, China tetap menjadi salah satu pemberi utang terbesar dan kini posisinya makin dekat dengan AS.

Di sisi lain, utang luar negeri Indonesia dari AS juga ikut naik. Pada Februari 2026, nilainya mencapai US$27,803 miliar, naik dari US$27,066 miliar pada Januari 2026. Dengan angka tersebut, AS masih menjadi kreditur dengan nilai pinjaman lebih besar dibandingkan China.

Meski demikian, jarak antara posisi utang Indonesia ke AS dan China kini semakin menyempit. Per Februari 2026, selisih keduanya tinggal sekitar US$2,23 miliar. Ini menunjukkan bahwa meskipun AS masih berada di atas China, laju kenaikan utang ke China terlihat semakin signifikan dan terus mendekati posisi AS.

Apabila tren ini berlanjut, bukan tidak mungkin dalam beberapa waktu ke depan posisi utang Indonesia dari China bisa melampaui utang dari AS. Pernyataan ini merupakan pembacaan tren dari data posisi kreditur terbaru.

Utang RI Berdasarkan Mata Uang Yuan Juga Pecah Rekor

Kenaikan utang dari China ini juga berjalan seiring dengan naiknya ULN Indonesia berdasarkan denominasi mata uang yuan China. Pada Februari 2026, posisi ULN dalam mata uang yuan (CNY) tercatat sebesar US$15,356 miliar, naik dari US$14,977 miliar pada Januari 2026. Nilai ini juga menjadi rekor tertinggi baru.

Sebelumnya, posisi utang berbasis yuan sempat menyentuh US$14,775 miliar pada Desember 2025. Kini, levelnya sudah menembus batas baru di atas US$15 miliar.

Kenaikan ini menarik karena menunjukkan bahwa eksposur utang Indonesia terhadap yuan terus bertambah, sejalan dengan makin besarnya hubungan pembiayaan dan transaksi dengan China.

Meski demikian, Bank Indonesia menegaskan struktur utang luar negeri Indonesia hingga Februari 2026 masih tetap sehat.

Hal ini tercermin dari rasio ULN terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang sebesar 29,8%, dengan komposisi yang tetap didominasi utang jangka panjang mencapai 84,9% dari total ULN. Dengan struktur seperti ini, risiko pembiayaan ulang dinilai masih cukup terkendali di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

"Dalam rangka menjaga agar struktur ULN sehat, Bank Indonesia dan Pemerintah terus memperkuat koordinasi dalam pemantauan perkembangan ULN," tulis BI dalam rilis resminya.

BI menambahkan, ULN akan terus dioptimalkan untuk menopang pembiayaan pembangunan dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan, dengan tetap meminimalkan risiko terhadap stabilitas perekonomian.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |