Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
17 March 2026 20:10
Jakarta, CNBC Indonesia - Kopi saat ini identik dengan gaya hidup modern, produktivitas, hingga budaya kerja global. Namun, di balik secangkir kopi yang dikonsumsi miliaran orang setiap hari, tersimpan sejarah panjang yang menghubungkan dunia Islam, perdagangan global, hingga perubahan cara manusia bekerja.
Mengutip dari Superluminal, kopi pertama kali diperkenalkan ke dunia Islam oleh tarekat Shadhiliyya di Arab Selatan pada abad ke-13 hingga ke-15 Masehi. Seorang syaikh dari tarekat tersebut diyakini menemukan kopi di Ethiopia, dikenal sebagai bun sebelum membawanya ke Yaman dan memperkenalkan manfaatnya sebagai penahan kantuk.
Hingga kini, tokoh tersebut dihormati sebagai pelindung para petani kopi dan peminum kopi. Bahkan di beberapa wilayah seperti Aljazair, kopi masih disebut shadhiliyya sebagai bentuk penghormatan terhadap warisan tersebut.
Awalnya untuk Ibadah, Lalu Menyebar ke Kehidupan Sosial
Mengutip dari Folger Shakespeare Library, kopi dalam bentuk minuman panas mulai digunakan secara luas oleh komunitas sufi di Yaman pada abad ke-15. Mereka meminum kopi, untuk membantu tetap terjaga selama ritual zikir dan meditasi sepanjang malam.
Konsumsi kopi kemudian meluas ke masyarakat, bahkan pernah hadir di kawasan Masjidil Haram dan menjadi bagian dari berbagai ritual keagamaan seperti dhikr dan mawlid. Dalam bahasa arab qahwa atau kopi, sebelumnya merujuk pada anggur, yang membuat orang Eropa kemudian menjuluki kopi sebagai "Wine of Islam."
Perkembangan teknik pemanggangan biji kopi yang kini menjadi standar global juga muncul dalam fase ini, termasuk penyempurnaan oleh masyarakat Persia, yang menandai transformasi kopi dari ritual ibadah menjadi bagian dari kehidupan sosial yang lebih luas.
Di kedai kopi, seniman, pedagang, penyair, hingga pejabat bertemu dalam satu ruang yang sebelumnya tidak tersedia dalam struktur sosial tradisional. Aktivitas seperti diskusi, permainan, musik, hingga pembacaan puisi menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
Penguasa Mesir, Ahmet Pasha memanfaatkan kedai kopi sebagai tempat pelayanan publik untuk meningkatkan popularitas politiknya. Di Istanbul, kedai kopi pertama yang didirikan oleh dua pengusaha Suriah juga berkembang pesat secara ekonomi.
Larangan dan Perdebatan Ilmiah Kopi
Pada saat itu sejumlah kalangan sempat berupaya melarang kopi dengan alasan dianggap memabukkan dan mendorong perilaku menyimpang. Kedai kopi bahkan dituduh menjadi pusat pembangkangan sosial dan pesaing masjid sebagai ruang berkumpul. Sultan Murat IV pernah memerintahkan penutupan seluruh kedai kopi di Istanbul.
Pada abad ke-16 sebagian ulama ortodoks menyamakan kopi dengan zat terlarang seperti alkohol dan ganja.
Namun larangan tersebut tidak bertahan lama, kelompok pendukung kopi termasuk dokter dan ahli hukum berargumen bahwa kopi tidak disebutkan dalam Al-Qur'an dan memiliki efek yang justru berlawanan dengan alkohol. Kopi meningkatkan kewaspadaan, bukan menimbulkan efek mabuk.
Kopi Masuk Eropa
Perdagangan kopi pada awalnya berpusat di kawasan Laut Merah, dengan pelabuhan Mocha di Yaman sebagai pusat distribusi utama yang mendapat pasokan dari Ethiopia. Dari jaringan inilah kopi menyebar luas di dunia Islam sebelum akhirnya menarik perhatian bangsa Eropa.
Memasuki abad ke-17, perusahaan dagang Eropa mulai masuk ke jalur perdagangan tersebut. Inggris dan Belanda secara bertahap mengambil alih distribusi, lalu pada abad ke-18 mulai membudidayakan kopi di wilayah koloni mereka seperti Indonesia, India Selatan, Sri Lanka, dan Karibia.
Kopi sendiri mulai masuk ke Eropa melalui kota-kota pelabuhan seperti Venesia pada 1615, disusul Marseille pada 1644 dan London pada 1651. Namun, minuman ini baru benar-benar populer di kalangan elite pada 1669, ketika diperkenalkan di Paris oleh duta besar Turki, Suleyman Mustapha Koca yang kemudian menjadi titik awal ekspansi kopi sebagai komoditas global.
CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]
(mae/mae)
Addsource on Google

4 hours ago
4
















































