Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
14 January 2026 14:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Dunia bisnis global kembali dikabarkan dengan kabar mega-merger dari sektor pertambangan. Dua raksasa tambang dunia, Glencore dan Rio Tinto, dilaporkan kembali membuka pembicaraan untuk bergabung menjadi satu kesatuan.
Jika kesepakatan ini terwujud, akan lahir entitas tambang terbesar di dunia dengan valuasi menembus US$260 miliar atau setara Rp4.375 triliun (kurs Rp16.800/US$). Angka ini tidak hanya akan mengubah peta industri sumber daya alam, tetapi juga menempatkan kesepakatan ini ke dalam jajaran merger terbesar sepanjang sejarah.
Diskusi ini mencuat kembali hampir setahun setelah negosiasi sebelumnya kandas. Isu utamanya adalah perlombaan menguasai pasokan tembaga global di tengah ancaman defisit pasokan hingga 10 juta ton pada 2040.
Namun, di level korporasi tertinggi, merger bukan sekadar penyatuan neraca keuangan. Ini adalah strategi geopolitik dan visi masa depan. Glencore dan Rio Tinto kini berada di ambang keputusan besar yaitu bersatu untuk menjadi perusahaan yang sangat kuat, atau berjalan secara individu di tengah kompetisi.
Lantas, seberapa besar ukuran transaksi ini jika dibandingkan dengan sejarah merger dunia?
Masuk Jajaran 6 Besar Merger Terbesar dalam Sejarah
Berdasarkan data historis yang disesuaikan dengan inflasi, potensi merger Glencore dan Rio Tinto senilai US$260 miliar akan langsung masuk ke posisi ke-6 dalam daftar kesepakatan merger terbesar sepanjang masa, menggeser posisi Glaxo Wellcome & SmithKline Beecham.
Berikut adalah daftar 15 merger perusahaan terbesar dalam sejarah (termasuk potensi deal Glencore-Rio Tinto):
Motivasi di Balik Glencore-Rio Tinto: Tembaga adalah "Emas Baru"
Berbeda dengan merger di sektor teknologi atau telekomunikasi, pemicu utama diskusi Glencore dan Rio Tinto adalah komoditas fisik yaitu tembaga.
Harga tembaga pekan ini menembus rekor tertinggi sepanjang masa di atas US$13.300 per ton. Glencore, yang berbasis di Swiss, berambisi menjadi produsen tembaga terbesar di dunia. Sementara Rio Tinto, yang memiliki valuasi lebih besar (US$162 miliar), perlu memperkuat portofolionya setelah pesaing seperti BHP semakin agresif.
Namun, jalan menuju kesepakatan tidak mulus. Batu bara menjadi batu sandungan. Rio Tinto sudah bersih dari aset batu bara sejak 2018 dan enggan kembali. Sementara Glencore, meski telah memisahkan bisnis batu baranya ke entitas terpisah, masih memiliki jejak kuat di komoditas "kotor" tersebut.
Berdasarkan aturan pengambilalihan di Inggris, Rio Tinto memiliki tenggat waktu hingga 5 Februari untuk mengajukan tawaran resmi atau mundur.
Pelajaran dari 5 Merger Terbesar Dunia
Jika Glencore dan Rio Tinto benar-benar bergabung, mereka harus belajar dari sejarah. Lima merger terbesar di atas mereka memiliki cerita unik tentang ambisi, paksaan, hingga proteksionisme negara.
Berikut adalah analisis mendalam mengenai motivasi dan cerita di balik lima kesepakatan M&A terbesar dalam sejarah, yang nilainya melampaui imajinasi.
1. Vodafone & Mannesmann (1999) | $389,42 Miliar
Vodafone (Inggris) mengakuisisi paksa Mannesmann (Jerman). Ini adalah Akuisisi Paksa (Hostile Takeover) Paling Brutal dalam Sejarah.
Ceritanya adalah tentang ambisi murni Vodafone untuk mendominasi pasar seluler Eropa yang sedang meledak. Mannesmann, konglomerat tua Jerman, baru saja sukses banting setir menjadi pemain telekomunikasi besar.
Vodafone melihatnya sebagai ancaman sekaligus peluang emas. Dengan meluncurkan tawaran paksa bernilai fantastis, Vodafone tidak hanya menyingkirkan pesaing utamanya tetapi juga secara instan merebut pasar telekomunikasi Jerman dan Italia. Ini adalah langkah "all-in" untuk supremasi pasar seluler global.
2. Shenhua Group & China Guodian (2017) | $361,17 Miliar
Penggabungan dua BUMN Tiongkok, Shenhua Group (batu bara) dan China Guodian (listrik). Ini adalah murni Konsolidasi BUMN yang Didorong Negara.
Tujuannya adalah menciptakan 'juara nasional' di sektor energi dan mengakhiri "perang harga" internal.
Shenhua adalah produsen batu bara terbesar, sementara Guodian adalah produsen listrik terbesar. Keduanya sering berkonflik soal harga pasokan. Dengan menggabungkan mereka, Beijing menciptakan raksasa utilitas terintegrasi dari hulu ke hilir. Langkah ini juga bertujuan mengurangi kelebihan kapasitas dan menciptakan entitas yang lebih efisien untuk memenuhi target lingkungan Tiongkok.
3. AOL & Time Warner (2000) | $340,16 Miliar
Penggabungan raksasa internet AOL (Ekonomi Baru) dengan konglomerat media Time Warner (Ekonomi Lama). Cerita di Baliknya: Ini adalah pertaruhan visi Konvergensi Media-Teknologi yang berakhir bencana.
Terjadi di puncak gelembung dot-com, AOL adalah raja internet dial-up yang sedang jaya. Time Warner adalah raja konten (Warner Bros., CNN, HBO).
Teorinya AOL menyediakan jutaan pelanggan, dan Time Warner menyediakan konten premium. Sayangnya, visi ini hancur total oleh benturan budaya yang parah antara kultur internet AOL yang serba cepat dan kultur media Time Warner yang birokratis, serta meletusnya gelembung dot-com sesaat setelah merger.
4. ChemChina & Sinochem (2018) | $311,84 Miliar
Penggabungan dua BUMN kimia Tiongkok, ChemChina dan Sinochem. Seperti merger energi, ini adalah Konsolidasi BUMN Tiongkok yang Didorong Negara.
Tujuannya sangat strategis yakni menciptakan satu super-korporasi kimia (Sinochem Holdings) yang mampu mendominasi pasar global.
Dengan menggabungkan dua BUMN kimia besar, Tiongkok menciptakan raksasa industri dengan skala ekonomi masif. Entitas baru ini dirancang untuk memiliki kekuatan tawar lebih besar dalam pasar bahan baku kimia global dan untuk bersaing langsung dengan raksasa kimia Barat seperti BASF atau DowDuPont.
5. Gaz de France & Suez (2007) | $283,67 Miliar
Penggabungan dua perusahaan utilitas Prancis, Gaz de France (BUMN gas) dan Suez (swasta listrik & air). Merger ini didorong oleh Proteksionisme dan Pembentukan juara nasional yang sangat kuat.
Cerita utamanya bersifat defensif. Saat itu, beredar rumor kuat bahwa perusahaan energi Italia, Enel, bersiap mengakuisisi paksa Suez. Pemerintah Prancis panik, tidak rela harta karun nasionalnya jatuh ke tangan asing.
Prancis pun menggabungkan Suez dengan Gaz de France. Langkah yang didukung penuh oleh pemerintahan saat itu ini menciptakan satu raksasa energi terintegrasi yang "terlalu besar untuk dicaplok", sehingga efektif mengamankan aset strategis nasional. Kesepakatan untuk merger itu diumumkan oleh PM Prancis Dominique de Villepin.
Kini pasar menanti, apakah Glencore dan Rio Tinto akan mencatatkan nama mereka di posisi ke-6 sejarah dunia pada Februari mendatang, atau kembali gagal karena perbedaan visi.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

3 hours ago
1
















































