Asia Tak Kompak Hadapi AS: Baht Perkasa, Rupiah Gak ke Mana-Mana

2 hours ago 1

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

21 January 2026 10:25

Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar mata uang Asia bergerak bervariasi melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi ini, Rabu (21/1/2026). Pergerakan tersebut terjadi di tengah pelemahan dolar AS di pasar global.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.20 WIB, 5 dari 11 mata uang Asia terpantau menguat terhadap greenback, 2 bergerak stagnan, sementara sisanya melemah.

Penguatan dipimpin oleh won Korea yang melesat 0,62% ke level KRW 1.471,7/US$. Di bawahnya, baht Thailand juga menguat 0,32% ke posisi THB 30,96/US$.

Yen Jepang dan dolar Taiwan turut menguat masing-masing 0,11% dan 0,10%, dengan nilai terakhir JPY 157,95/US$ dan TWD 31,638/US$. Rupee India ikut menguat tipis 0,05% ke level INR 91,046/US$.

Sementara itu, rupiah Garuda justru terpantau stagnan di Rp16.945/US$ atau masih sama seperti level penutupan perdagangan kemarin, Selasa (20/1/2026). Pergerakan yang datar juga terlihat pada dong Vietnam yang bertahan di VND 26.265/US$.

Di sisi lain, yuan China menjadi mata uang Asia dengan pelemahan terbesar pagi ini, dengan penurunan 0,06% ke CNY 6,9644/US$. Pelemahan juga terjadi pada mata uang negara tetangga yakni ringgit Malaysia yang melemah 0,07% ke MYR 4,055/US$.

Adapun dolar Singapura dan peso Filipina sama-sama turun 0,03% ke level SGD 1,2838/US$ dan PHP 59,338/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini sejatinya mendapat dorongan dari kondisi dolar AS yang melemah di pasar global. Hal tersebut tercermin dari indeks dolar AS (DXY) yang pada waktu yang sama turun 0,13% ke level 98,517.

Pelemahan dolar AS berlanjut setelah pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), DXY tercatat anjlok 0,76% ke 98,641, menjadi penurunan harian terdalam sejak 1 Agustus 2025 ketika DXY sempat merosot 0,83% dalam sehari.

Tekanan terhadap dolar AS kali ini terjadi seiring menguatnya sentimen risk-off di pasar global. Sejumlah pelaku pasar menilai pergerakan kemarin mencerminkan menguatnya kembali narasi Sell America, yang ditandai investor melepas dolar AS dan obligasi pemerintah AS, sementara permintaan terhadap aset lindung nilai seperti emas meningkat.

Ketegangan politik AS dan Eropa terkait Greenland turut memperburuk sentimen. Nada ancaman dari Gedung Putih terhadap sejumlah negara Eropa terkait masa depan Greenland memicu aksi jual pada aset-aset AS, mulai dari saham hingga obligasi pemerintah. Kondisi tersebut ikut mendorong penguatan mata uang Eropa, tercermin dari euro dan poundsterling Inggris yang bergerak naik terhadap dolar AS.

Pelaku pasar menilai eskalasi ini berpotensi memperpanjang ketidakpastian kebijakan dan mengerek premi risiko terhadap aset-aset AS, sehingga investor memilih mengurangi eksposur atau melakukan lindung nilai atas portofolio mereka.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |