Bagaimana Jika Trump Deklarasikan AS Menang Perang? Apa Respons Iran?

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan intelijen Amerika Serikat (AS) tengah mengkaji secara mendalam kemungkinan reaksi Iran jika Presiden Donald Trump secara sepihak mendeklarasikan kemenangan dalam perang yang telah berlangsung selama dua bulan. Mengutip laporan eksklusif Reuters pada Rabu (29/04/2026), langkah ini dilakukan di tengah meningkatnya beban politik bagi Gedung Putih akibat konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa tersebut.

Para pejabat senior pemerintah meminta komunitas intelijen untuk menganalisis implikasi jika Trump memutuskan untuk menarik diri dari konflik. Langkah ini dipicu oleh kekhawatiran para penasihat bahwa perang yang tidak populer ini dapat menyebabkan kekalahan telak bagi Partai Republik pada pemilihan sela (midterm) akhir tahun ini.

"Tujuan analisis ini adalah untuk memahami implikasi dari potensi mundurnya Trump dari konflik yang dikhawatirkan dapat berkontribusi pada kekalahan besar Republik di pemilihan sela nanti," ujar salah satu sumber yang mengetahui masalah tersebut.

Meskipun keputusan belum diambil, deeskalasi cepat dianggap dapat meredakan tekanan politik terhadap presiden. Namun, risiko besarnya adalah Iran bisa merasa di atas angin dan berpotensi membangun kembali program nuklir serta rudal mereka yang mengancam sekutu AS di kawasan tersebut.

Sumber intelijen menyebutkan bahwa jika Trump menyatakan menang namun tetap mempertahankan kehadiran pasukan besar-besaran, Teheran kemungkinan besar akan melihatnya hanya sebagai taktik negosiasi. Sebaliknya, jika AS menarik pasukan, Iran akan menganggap hal tersebut sebagai kemenangan mutlak bagi mereka.

"Jika Trump mendeklarasikan kemenangan dan AS menarik pasukannya di kawasan tersebut, Iran kemungkinan besar akan memandangnya sebagai sebuah kemenangan bagi mereka," kata sumber tersebut.

Hingga saat ini, biaya politik yang harus dibayar Trump sangatlah tinggi. Jajak pendapat terbaru menunjukkan bahwa kampanye militer ini sangat tidak populer di mata warga Amerika, di mana hanya 26% responden yang menganggap perang ini sepadan dengan biayanya. Selain itu, penutupan Selat Hormuz oleh Iran telah melonjakkan harga energi global dan harga bensin di SPBU Amerika Serikat.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, menyatakan bahwa pemerintah tetap mengedepankan keamanan nasional dan tidak akan terburu-buru mengambil kesepakatan yang merugikan. Ia menegaskan posisi Trump bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

"Presiden hanya akan menandatangani kesepakatan yang mengutamakan keamanan nasional AS, dan dia telah menegaskan bahwa Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir," tegas Kelly.

Meski opsi militer seperti serangan udara susulan terhadap pemimpin politik dan militer Iran masih tersedia, opsi serangan darat ke daratan Iran kini dinilai semakin kecil kemungkinannya dibandingkan beberapa minggu lalu. Di sisi lain, Iran dilaporkan telah memanfaatkan masa gencatan senjata sejak 8 April untuk memperbaiki infrastruktur militer, peluncur rudal, dan drone mereka yang sebelumnya hancur akibat pemboman AS dan Israel.

(tps/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |