Jakarta, CNBC Indonesia - PT Pertamina Patra Niaga tengah membangun dua kilang Bahan Bakar Minyak (BBM) dengan produk bensin pada fasilitas eksisting di Dumai dan Cilacap.
Kedua kilang yang baru saja diresmikan pembangunannya oleh Presiden Prabowo Subianto kemarin, Rabu (29/4/2026), ditargetkan rampung dan bisa mulai berproduksi pada akhir 2030 mendatang.
Direktur Infrastruktur Project dan Aset Integritas Pertamina Patra Niaga Setyo Pitoyo menjelaskan bahwa proyek peningkatan kapasitas produksi bensin nasional itu tengah di tahap penghitungan indikator investasi. Tidak lain tujuannya agar memberikan dampak positif bagi negara.
Dia menyebut target pengoperasian pada 2030 tersebut masih merupakan jadwal sementara sembari menunggu hasil studi teknis lebih lanjut.
"Sementara dijadwalkan selesai di tahun 2030, sementara ya. Itu kan kami belum melakukan studi engineering, belum melakukan apa pun itu gitu kan," ujarnya saat ditemui di Cilacap, dikutip Kamis (30/4/2026).
Untuk mencapai target tersebut, Pertamina tengah mempertimbangkan upaya percepatan pembangunan dengan menggunakan teknologi modular. Metode tersebut memungkinkan komponen kilang dikerjakan secara paralel di luar lokasi proyek agar proses instalasi akhir berjalan lebih efisien dan cepat.
"Moga-moga dengan adanya studi-studi atau upaya-upaya percepatan misalkan dengan pembangunan menggunakan modular jadi kita bangun secara paralel di luar nanti tinggal kayak main puzzle tuh. Kayak main puzzle tuh moga-moga bisa lebih cepat," paparnya.
Kedua fasilitas kilang baru tersebut dirancang bisa memproduksi produk bensin dengan standar oktan tinggi. Setyo menekankan bahwa spesifikasi produk yang dihasilkan minimal akan setara dengan kualitas bahan bakar jenis Pertamax (RON 92).
"Gasoline itu bensin, bensin ya. Betul. Standarnya kalau yang nanti itu langsung minimum itu kualitas Pertamax," tambahnya.
Investasi untuk membangun masing-masing kilang tersebut diperkirakan menyentuh angka US$ 600 juta atau setara Rp 10,4 triliun (asumsi kurs Rp 17.337 per US$). Artinya, Perusahaan membutuhkan total pendanaan hingga US$ 1,2 miliar atau setara Rp 20,82 triliun untuk pembangunan dua kilang bensin baru tersebut.
"Masing-masing US$ 600 juta, sehingga total akan sekitar US$ 1,2 miliar ya. Itu belum termasuk misalkan kita harus melakukan upgrade utilities atau upgrade fasilitas dan lain-lainnya," jelasnya.
Diresmikan Presiden Prabowo
Perlu diketahui, pada Rabu (29/4/2026), Presiden Prabowo Subianto meresmikan 13 proyek hilirisasi fase ke-2 dengan perkiraan investasi mencapai Rp 116 triliun. Dari 13 proyek hilirisasi tersebut, 5 proyek berasal dari sektor energi, 5 proyek sektor mineral, dan 3 proyek di sektor pertanian.
Presiden menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah fundamental dalam mentransformasi struktur ekonomi Indonesia menuju ekonomi berbasis industri bernilai tambah tinggi yang lebih tangguh terhadap dinamika global.
"Tadi sudah disebut hilirisasi tahap pertama ada 13 proyek di 13 lokasi dan beberapa saat ini, tahun ini juga kita akan tambah hilirisasi 6 lagi proyek, dan terus menerus akan kita tambah. Mungkin ada tahap ke 4, 5, 6, insya Allah tahun ini juga," terang Prabowo dalam acara peresmian di Cilacap, Jawa Tengah, Rabu (29/4/2026).
Prabowo menegaskan, bahwa hilirisasi sumber daya alam di Indonesia menjadi jalan satu-satunya supaya Indonesia bisa lebih makmur. Oleh karena itu, pemerintah akan terus melanjutkan pembangunan hilirisasi di Tanah Air.
"Hilirisasi adalah jalan satu-satunya untuk kita bisa lebih makmur," tegas Prabowo.
2 Proyek Kilang BBM
Nantinya, pengembangan kapasitas kilang gasoline dilakukan pada fasilitas eksisting RU II Dumai dan RU IV Cilacap. Total kapasitasnya mencapai 62.000 barel per hari (bph) yang ditargetkan beroperasi pada Kuartal IV-2030.
"Proyek ini mensubstitusi impor gasoline hingga 2 juta KL per tahun atau 9,47% gap supply-demand nasional, mendukung pemenuhan Pertamax Series dari produksi domestik, serta menurunkan impor produk sampingan termasuk propylene dan LPG," tulis Danantara dalam keterangan tertulis, dikutip Kamis (30/4/2026).
Proyek tersebut dinilai akan berkontribusi pada penguatan ketahanan energi nasional sekaligus menjaga stabilitas harga energi, yang pada akhirnya mendukung daya beli dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Selain kilang, program tersebut mencakup sektor energi, logam dan mineral, material konstruksi, serta agroindustri, yang bertujuan untuk menurunkan ketergantungan impor, memperkuat rantai pasok industri nasional, meningkatkan nilai tambah sumber daya domestik, serta mendorong terciptanya peluang kerja dan aktivitas ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat.
"Hilirisasi merupakan instrumen strategis dalam mendorong penciptaan nilai tambah di dalam negeri melalui pengolahan dan industrialisasi sumber daya alam," tambah Danantara.
Selain meningkatkan nilai tambah, hilirisasi dinilai berperan dalam memperkuat kemandirian ekonomi dengan mengurangi ketergantungan pada rantai pasok global yang dalam kondisi tertentu dapat menghadapi dinamika dan ketidakpastian, termasuk faktor geopolitik.
Melalui penguatan rantai pasok domestik, hilirisasi turut memastikan ketersediaan kebutuhan nasional secara lebih andal, sekaligus mendorong transformasi struktur ekonomi menuju basis industri bernilai tambah tinggi.
(wia)
Addsource on Google

3 hours ago
2
















































