Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
21 January 2026 12:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Nilai tukar rupiah sedang berada dalam tren melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal 2026. Padahal pada saat yang sama, dolar AS justru terlihat melemah di pasar global.
Kondisi ini membuat pergerakan rupiah terasa janggal karena ketika dolar menguat rupiah tertekan, namun saat dolar melemah rupiah juga belum mampu berbalik menguat.
Mengacu data Refinitiv, rupiah pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026) kembali mencetak rekor level penutupan terlemah sepanjang masa di Rp16.945/US$ dan kian mendekati level psikologis Rp17.000/US$.
Jika ditarik sejak awal tahun (year-to-date/ytd) yang baru memasuki pekan ketiga, rupiah telah terdepresiasi 1,65%.
Tekanan ini sebenarnya sudah terasa sejak sepekan terakhir. Rupiah sempat menembus level penutupan terlemah sepanjang masa pada Kamis (15/1/2026), saat ditutup melemah 0,15% ke Rp16.880/US$.
Level tersebut melampaui rekor sebelumnya pada 24 April 2025, ketika rupiah ditutup di Rp16.865/US$.
Setelah itu, pelemahan terus berlanjut hingga pada Senin (19/1/2026) rupiah ditutup melemah 0,33% ke Rp16.935/US$, lalu sehari setelahnya rekor kembali pecah di Rp16.945/US$.
Yang membuat situasi kali ini terasa janggal adalah saat rupiah melemah, dolar AS justru sedang melemah di pasar global. Hal ini terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY), yaitu indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama dunia.
Dalam kondisi yang biasanya terjadi, mata uang negara berkembang termasuk rupiah cenderung bergerak berlawanan arah dengan DXY. Saat DXY naik, mata uang lain cenderung melemah. Sebaliknya, saat DXY turun, mata uang lain biasanya punya ruang untuk menguat karena tekanan dolar berkurang.
Namun belakangan, polanya tidak berjalan seperti itu. Pada Selasa 20 Januari 2026, DXY mengalami tekanan jual besar dan ditutup turun 0,76% ke level 98,641. Ini menjadi pelemahan harian terdalam sejak 1 Agustus 2025.
Foto: Refinitiv
USD/IDR vs DXY
Pelemahan dolar AS tersebut terjadi seiring menguatnya aksi jual aset Amerika atau sentimen "Sell America".
Pemicu utamanya adalah memanasnya ketegangan politik antara AS dan Eropa terkait Greenland. Sikap keras Gedung Putih mengenai masa depan Greenland membuat pasar khawatir tensi ini akan memperpanjang ketidakpastian kebijakan dan menaikkan risiko berinvestasi di aset AS.
Akibatnya, investor ramai mengurangi eksposur atau melakukan lindung nilai, sehingga dolar ikut kehilangan tenaga di pasar global.
Masalahnya, rupiah tidak ikut memanfaatkan momentum ini. Meski dolar melemah secara global, rupiah tetap berada di zona lemah pada penutupan perdagangan dan kembali tertekan pada Rabu 21 Januari 2026. Hingga pukul 10.30 WIB, rupiah masih melemah 0,09% di level Rp16.960/US$.
Artinya, ketika DXY melemah, rupiah justru ikut melemah, bukan menguat seperti yang sering terjadi dalam pola umum pergerakan dolar dan mata uang lainnya.
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menilai pasar saat ini ikut mencermati konsistensi kebijakan fiskal dan kebutuhan pembiayaan utang pemerintah. Menurutnya, persepsi defisit yang melebar berpotensi meningkatkan premi risiko pada aset rupiah, sehingga tekanan ke rupiah bisa tetap terasa meski dolar AS sedang melemah di pasar global.
"Untuk proyeksi rupiah dalam waktu dekat, arahnya masih rentan berfluktuasi dengan bias melemah ringan; perkiraan jangka sangat dekat berada di kisaran sekitar 16.900 per dolar, dengan proyeksi sekitar 16.956 pada akhir Maret 2026 dan masih bisa bergerak ke area 17.000 ribu bila sentimen global dan fiskal belum membaik." Ujar Josua kepada CNBC Indonesia Selasa (20/1/2026).
Pola Ini Sudah Terlihat Sejak 2025
Fenomena rupiah yang bergerak searah dengan DXY sebenarnya bukan hal baru. Sepanjang 2025, DXY ditutup melemah 9,37%, tetapi rupiah justru tetap melemah terhadap dolar AS sebesar 3,60% dalam setahun.
Jika ditarik lebih panjang pada periode 2005 hingga 2025, pergerakan tahunan DXY dan rupiah tercatat lebih sering berlawanan arah, yakni 15 kali. Namun ada juga enam kali dalam periode tersebut ketika rupiah bergerak searah dengan DXY.
Ini menunjukkan bahwa DXY melemah tidak selalu otomatis membuat rupiah menguat. Pada periode tertentu, faktor dalam negeri, arus modal, dan persepsi risiko terhadap Indonesia bisa lebih dominan dibandingkan arah dolar secara global. Dalam kondisi seperti itu, rupiah tetap bisa tertekan meski DXY sedang turun.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)

2 hours ago
1















































