Gelson Kurniawan, CNBC Indonesia
21 January 2026 14:55
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Amerika Serikat (Wall Street) baru saja mengalami hari terburuknya sejak Oktober tahun lalu. Indeks S&P 500 anjlok lebih dari 2%, menghapus seluruh keuntungan awal tahun 2026.
Bursa saham Amerika Serikat ambruk pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 870,74 poin atau 1,76% dan ditutup di level 48.488,59.
Indeks S&P 500 melandai 2,06% ke posisi 6.796,86. Sementara itu, Nasdaq Composite merosot 2,39% dan berakhir di 22.954,32. Ini merupakan sesi perdagangan terburuk sejak Oktober bagi ketiga indeks utama tersebut.
Penurunan kemarin menyeret S&P 500 dan Nasdaq ke wilayah negatif untuk 2026. Indeks pasar luas S&P 500 kini turun 0,7%, sedangkan Nasdaq yang didominasi saham teknologi melemah 1,2% sepanjang tahun ini.
Pemicu utamanya tampak jelas yaitu ketegangan geopolitik akibat ancaman tarif Presiden Donald Trump terkait isu Greenland. Namun, di balik layar, masalah struktural yang lebih dalam adalah pasar yang terlalu mahal dan terlalu bergantung pada segelintir saham teknologi. Kepanikan ini tercermin pada satu indikator utama yaitu index VIX.
VIX Indikator Ketakutan yang Kembali Memanas
CBOE Volatility Index (VIX), atau yang sering disebut sebagai "Indeks Ketakutan" Wall Street, melonjak cukup tajam menyentuh level 20,99 pada perdagangan Selasa walaupun masih jauh dari angka tertinggi sebelumnya di 52,33 pada April 2025 akibat diberlakukannya tarif Trump pada Liberation Day.
Kenaikan VIX ini adalah sinyal peringatan dini. VIX tidak mengukur arah harga saham, melainkan mengukur ekspektasi fluktuasi pasar dalam 30 hari ke depan berdasarkan aktivitas opsi di S&P 500.
Sederhananya, ketika pasar tenang dan percaya diri, VIX cenderung rendah (di bawah 15). Namun, lonjakan ke level 21 menandakan bahwa investor institusi mulai panik dan berebut membeli proteksi (asuransi) karena mereka memperkirakan "guncangan" besar akan terjadi dalam waktu dekat.
Brad Long: Pasar "Priced for Perfection" yang Rapuh
Brad Long, Chief Investment Officer di Wealthspire, menilai koreksi tajam ini sebenarnya adalah hal yang wajar dan sudah diprediksi, terlepas dari pemicu beritanya.
Menurut Long, pasar saham AS sudah berada dalam kondisi "Priced for Perfection". Artinya, harga saham-saham saat ini sudah sangat mahal karena investor menaruh ekspektasi yang terlampau tinggi bahwa ekonomi dan kinerja perusahaan akan berjalan sempurna tanpa adanya gangguan.
"Valuasi sudah tinggi dan ekspektasi pendapatan (earnings) juga tinggi," ujar Long kepada CNBC.
Ketika pasar berada di posisi ini, sedikit saja sentimen negatif seperti tarif non-ekonomi yang dilontarkan Trump sudah cukup untuk meruntuhkan ekspektasi dan juga kondisi market tersebut sehingga tidak ada ruang untuk kesalahan atau berita buruk agar tetap konsisten berada pada laju saat ini.
Tren AI yang Tidak Sustainable
Masalah "Priced for Perfection" ini diperparah oleh struktur Indeks S&P 500 itu sendiri. Saat ini, pergerakan indeks acuan dunia tersebut sangat tidak seimbang karena terlalu ditopang oleh segelintir saham berkapitalisasi pasar jumbo, khususnya kelompok saham-saham yang terkorelasi dengan semikonduktor dan AI.
Selama setahun terakhir, narasi AI telah menggelembungkan valuasi saham teknologi ke level yang fantastis. Investor berbondong-bondong masuk dengan asumsi pertumbuhan laba yang eksponensial. Akibatnya, nasib S&P 500 kini sangat bergantung pada laporan keuangan (earnings) segelintir perusahaan ini.
Kondisi ini dinilai tidak berkelanjutan. Jika satu atau dua raksasa teknologi ini melaporkan kinerja yang mengecewakan atau memberikan panduan masa depan yang lemah, seluruh indeks S&P 500 akan terseret jatuh, terlepas dari kinerja ratusan perusahaan lainnya yang mungkin baik-baik saja. Ketergantungan akut pada tema AI membuat fondasi pasar menjadi rapuh terhadap guncangan makroekonomi.
Davos: Menanti Arah Baru Globalisasi
Di tengah gejolak pasar ini, perhatian dunia tertuju pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss. Forum ini menjadi sangat krusial karena berfungsi sebagai jembatan komunikasi untuk menentukan arah globalisasi di tengah meningkatnya proteksionisme.
Kehadiran Presiden Trump di Davos pada hari ini Rabu (21/1/2025), bersamaan dengan ancaman tarif kepada sekutu Eropa dan NATO menciptakan ketidakpastian baru. Apakah dunia akan bergerak menuju fragmentasi ekonomi dan "Perang Modal" seperti yang dikhawatirkan oleh Ray Dalio, ataukah Davos bisa menjadi wadah untuk meredakan ketegangan dagang antarnegara?
Bagi investor, hasil pembicaraan di Davos akan menjadi penentu apakah volatilitas yang tercermin di VIX saat ini hanyalah kepanikan sesaat, atau awal dari tren bearish jangka panjang akibat perubahan tatanan ekonomi global yang akan berujung pada masalah sistematik.
Foto: Sebuah logo terlihat di Pusat Kongres menjelang pertemuan tahunan Forum Ekonomi Dunia (WEF) di Davos, Swiss, 13 Januari 2024. (REUTERS/DENIS BALIBOUSE)
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)

1 hour ago
1















































