Jakarta, CNBC Indonesia - China makin dekat dengan kemenangan di industri AI. Sementara pesaingnya Amerika Serikat (AS) masih harus berjuang untuk mengembangkan teknologi tersebut.
Laporan Indeks HAI Stanford University yang dikutip dari Fortune menyoroti hal tersebut. Salah satu alasannya adalah China unggul dalam publikasi dan penelitian AI.
Beijing disebut telah menerapkan robot integrasi AI industri yang lebih tinggi. Tingkatannya hampir sembilan kali lipat dibandingkan dengan yang dikeluarkan oleh AS.
China juga mengungguli dari segi paten. China memiliki lebih dari 74 persen dari pemberian paten AI di dunia pada 2024, dikutip dari Futurism, Senin (20/4/2026).
Jumlah tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan wilayah lainnya. AS memiliki 12% dan 3% dari Uni Eropa. Sejumlah ekonom internasional menjelaskan jumlah paten yang lebih sedikit di AS karena sangat terkonsentrasi untuk sejumlah kecil perusahaan swasta besar.
Sejak tahun lalu, AS dan China juga bergantian menjadi nomor satu untuk model AI. Misalnya DeepSeek-R1 menyamai model AS teratas pada Februari 2025.
"Hingga Maret 2026, model AS teratas unggul 2,7 persen, dengan fluktuasi selama setahun terakhir namun tetap berada di angka satu digit," kata laporan tersebut.
Meski begitu, AS unggul dalam satu kategori terkait investasi. Negeri Paman Sam itu telah menghabiskan US$258,9 miliar (Rp 4.400 triliun) hanya untuk AI tahun lalu.
Angka itu 20 kali lebih mahal dibandingkan dengan yang dikeluarkan oleh China senilai US$12,4 miliar (Rp 212,4 triliun).
(dem/dem)
Addsource on Google

4 hours ago
4
















































