Aisha Mayra, CNBC Indonesia
26 May 2026 12:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Dalam beberapa tahun terakhir, dunia berkali-kali melihat hal yang sama yakni harga makanan bisa melonjak sangat cepat.
Perang Rusia-Ukraina sempat mengganggu pasokan gandum global. India membatasi ekspor beras ketika cuaca ekstrem mengancam produksi domestik. Di banyak negara, harga roti, minyak goreng, hingga pakan ternak ikut terdampak.
Yang menarik, pemicunya sering datang dari tempat yang sama.
Dunia modern ternyata masih sangat bergantung pada beberapa negara untuk memasok pangan utama bagi miliaran orang. Ketika salah satu produsen besar terganggu oleh perang, kekeringan, atau kebijakan ekspor, efeknya bisa langsung terasa sampai supermarket dan dapur rumah tangga di berbagai belahan dunia.
Peta Pangan Dunia Sangat Terkonsentrasi
Produksi pangan global ternyata tidak tersebar merata.
Amerika Serikat mendominasi jagung dan kedelai. Brazil menjadi raksasa ekspor kedelai dan daging. India memegang posisi penting di pasar beras, sementara Rusia dan Ukraina selama bertahun-tahun menjadi pemasok utama gandum dunia.
Skalanya besar.
Sekitar seperlima perdagangan gandum global sebelum perang berasal dari Rusia dan Ukraina. India juga menyumbang lebih dari 40% ekspor beras dunia pada beberapa periode terakhir.
Artinya, gangguan di satu kawasan saja bisa langsung menggerakkan harga pangan global.
Negara yang Menggerakkan Pasar Pangan
Amerika Serikat
Amerika Serikat masih menjadi salah satu pusat pangan terbesar dunia, terutama untuk jagung dan kedelai.
Negara ini rutin menyumbang sekitar sepertiga ekspor jagung global. Sebagian besar hasilnya masuk ke rantai pakan ternak dunia, yang berarti ikut memengaruhi harga daging, susu, dan telur global.
"American agriculture feeds far beyond its borders," kata Menteri Pertanian AS Tom Vilsack.
China
China bukan eksportir pangan terbesar, tetapi pengaruhnya sangat besar.
Negara ini harus memberi makan lebih dari 1,4 miliar penduduk atau hampir 18% populasi dunia. Karena itu, perubahan impor kedelai atau gandum China sering langsung menggerakkan pasar global.
India
India memegang salah satu posisi paling penting dalam perdagangan beras dunia.
Negara ini menyumbang lebih dari 40% ekspor beras global. Ketika New Delhi membatasi ekspor beras pada 2023, harga beras dunia langsung melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade.
Brazil
Brazil sekarang bukan cuma identik dengan kopi.
Negara ini berkembang menjadi eksportir utama kedelai, jagung, gula, daging sapi, hingga ayam. Dalam beberapa tahun terakhir, Brazil bahkan sempat melampaui Amerika Serikat sebagai eksportir kedelai terbesar dunia.
Karena itu, kekeringan di Brazil sering langsung menjadi perhatian pasar komoditas.
Lumbung Gandum Dunia
Ukraina
Sebelum perang, Ukraina dikenal sebagai salah satu breadbasket terbesar dunia.
Negara ini menjadi eksportir utama gandum, jagung, dan minyak bunga matahari lewat Laut Hitam. Ketika perang pecah pada 2022, harga gandum global langsung melonjak tajam.
Rusia
Rusia merupakan salah satu eksportir gandum terbesar dunia.
Pasokan gandum Rusia sangat penting bagi Afrika Utara, Timur Tengah, dan sebagian Asia. Karena skalanya besar, gangguan kecil saja bisa langsung memengaruhi harga internasional.
Kanada dan Australia
Kanada dan Australia juga memegang peran besar di pasar gandum global.
Namun keduanya sangat sensitif terhadap cuaca ekstrem dan El Niño. Itu sebabnya, kekeringan di dua negara ini sering ikut menggerakkan pasar pangan dunia.
Kekuatan Beras Asia
India, Thailand, dan Vietnam masih menjadi tiga kekuatan besar di perdagangan beras global.
Beras bukan sekadar komoditas. Untuk miliaran orang Asia, ini makanan pokok sehari-hari.
Karena itu, ketika India membatasi ekspor atau cuaca ekstrem mengganggu panen Asia, pasar pangan biasanya langsung tegang.
Indonesia memang bukan eksportir besar beras. Tetapi sebagai salah satu konsumen terbesar dunia, kondisi produksi domestiknya tetap penting bagi stabilitas pasar regional.
Pemasok Protein Dunia
Pangan dunia ternyata bukan cuma soal gandum dan beras.
Brazil, Amerika Serikat, dan Argentina juga menjadi pemain utama untuk kedelai, soybean meal, hingga daging global. Produk-produk ini sangat penting untuk industri peternakan dan rantai protein dunia.
Artinya, ketika harga kedelai naik, efeknya bisa ikut terasa sampai harga ayam dan daging di supermarket.
Rantai Pangan Dunia Sangat Rapuh
Beberapa tahun terakhir menunjukkan pola yang sama: gangguan di satu negara bisa langsung terasa di seluruh dunia.
Perang Rusia-Ukraina mengganggu ekspor Laut Hitam. India membatasi ekspor beras. El Niño memicu kekeringan di Asia dan Australia.
Reaksinya sering sangat cepat.
Karena rantai pangan global hari ini saling terhubung sangat erat. Gandum dari Laut Hitam bisa menjadi roti di Timur Tengah. Kedelai Brazil dipakai untuk pakan ternak di China.
"Global food markets are increasingly vulnerable to shocks," kata Kepala Ekonom FAO Maximo Torero.
Dunia modern mungkin terlihat sangat maju dan global. Tetapi sistem pangannya ternyata masih bertumpu pada beberapa kawasan pertanian utama.
Pangan Kini Jadi Isu Strategis
Pangan hari ini bukan lagi sekadar urusan pertanian.
Banyak negara mulai melihat food security sebagai bagian dari keamanan nasional. Ketika harga makanan naik terlalu tinggi, dampaknya bisa cepat berubah menjadi tekanan ekonomi dan sosial.
Perubahan iklim ikut memperbesar risiko tersebut.
El Niño, kekeringan, banjir, hingga cuaca ekstrem semakin sering mengganggu produksi pertanian. Harga pupuk, biaya logistik, jalur pelayaran, hingga konflik geopolitik kini ikut menentukan harga makanan global.
Ketika Dunia Baru Sadar dari Mana Makanan Berasal
Sebagian besar orang mungkin tidak terlalu memikirkan dari mana gandum untuk roti, kedelai untuk pakan ternak, atau beras di supermarket berasal.
Namun ketika perang pecah, cuaca ekstrem datang, atau ekspor dihentikan, dunia biasanya baru sadar bahwa sistem pangan global ternyata sangat bergantung pada beberapa titik di peta.
Di tengah populasi dunia yang terus bertambah dan iklim yang semakin tidak menentu, negara-negara yang mampu memproduksi pangan dalam skala besar kemungkinan akan menjadi semakin penting.
Bukan cuma bagi perdagangan global, tetapi juga bagi stabilitas sehari-hari miliaran orang.
(mae/mae)
Addsource on Google

3 hours ago
4

















































