Dari PLTS hingga SMR, Mana Teknologi EBT yang Paling Pas untuk RI?

8 hours ago 6

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Di setiap diskusi soal transisi energi, pasti muncul pertanyaan yang sama: sebenarnya teknologi apa sih yang paling pas untuk Indonesia? Jujur, jawabannya tidak sederhana. Bukan karena teknologinya rumit, tapi karena pilihan terbaik selalu tergantung pada tempatnya. Apa yang cocok di Jawa belum tentu cocok di Papua. Apa yang ekonomis hari ini belum tentu menarik lima tahun lagi. Berikut penjelasannya:

Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS)
Energi surya termasuk yang paling sering dibahas, karena Indonesia berada di garis khatulistiwa sehingga sinar matahari tersedia hampir sepanjang tahun. Secara teori, energi surya kita memiliki beberapa keunggulan seperti sinar matahari tersedia hampir sepanjang tahun, teknologi lebih modular, maintenance lebih sederhana, cocok untuk model distributed energy maupun residential prosumer.

Contohnya saja PLTS Purwakarta dengan kapasitas 100 MWp, yang saat ini menjadi pembangkit surya terbesar di Indonesia. Keberadaan proyek ini membuktikan bahwa teknologi surya dapat diimplementasikan di dalam negeri.

Namun ada kelemahan mendasar. PLTS hanya beroperasi optimal pada siang hari, sementara saat mendung atau hujan, produksinya turun drastis. Sifat intermiten ini menjadi tantangan utama. Solusi umum yang ditawarkan berupa baterai penyimpanan yang harganya relatif masih mahal.

Dengan mempertimbangkan kelebihan dan kekurangan tersebut, PLTS lebih cocok berperan sebagai sumber energi pelengkap, bukan sebagai andalan utama. Teknologi ini sangat sesuai untuk daerah terpencil yang belum teraliri jaringan listrik, maupun untuk pemasangan di atap rumah tangga yang ingin mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional.

Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB)
Selain surya, energi angin atau PLTB juga memiliki potensi meskipun tidak merata di seluruh wilayah Indonesia dan belum sekompetitif PLTS ataupun geothermal.
Kawasan timur seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara, dan Maluku diketahui memiliki kecepatan angin yang cukup baik dan wind speed yang konsisten.

PLTB Sidrap di Sulawesi Selatan menjadi contoh konkret. Dengan kecepatan angin rata-rata 6,43 meter per detik, pembangkit ini mampu menghasilkan listrik sebesar 75 MW. Angka ini memang tidak sebesar PLTS Purwakarta, tetapi tetap signifikan dalam konteks penyediaan energi bersih.

Beberapa hal yang masih menjadi tantangan adalah kecepatan angin di Indonesia (ekuator) relatif lebih rendah dibandingkan Jerman, Denmark, dan lain-lain. Karakter angin di Indonesia cenderung musiman dan fluktuatif sehingga output listrik kurang stabil dan capacity factor lebih rendah. Selain itu, Lokasi dengan potensi angin bagus umumnya jauh dari pusat demand sehingga membutuhkan investasi transmission line tambahan.

Kelebihan utama PLTB adalah biaya operasional yang rendah setelah pembangkit beroperasi. Namun demikian, PLTB juga menghadapi tantangan serupa dengan PLTS, yaitu sifat intermiten. Angin tidak bertiup sepanjang waktu, sehingga produksi listrik tidak selalu stabil.

PLTB sangat cocok dikembangkan di wilayah-wilayah tertentu yang memiliki kecepatan angin konsisten. Sayangnya, potensi ini belum banyak dimanfaatkan secara optimal, padahal kawasan timur Indonesia menyimpan peluang yang besar.

Small Modular Reactor (SMR)
Topik ini tergolong paling sensitif di antara semua pilihan teknologi. Begitu kata "nuklir" disebut, sebagian orang langsung mengasosiasikannya dengan bencana Chernobyl atau Fukushima. Perlu diketahui, Indonesia saat ini memiliki tiga unit reaktor nuklir non-daya (Kartini, Triga, dan GA Siwabessy).

Ketiganya digunakan untuk kesehatan, pangan, agrikultur, dan lingkungan. Sampai saat ini, Indonesia belum memiliki PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Teknologi nuklir terutama untuk pembangkit listrik saat ini telah berkembang jauh.

SMR merupakan reaktor generasi keempat yang dirancang untuk menyediakan energi nuklir dengan biaya yang lebih efisien dengan kapasitas maksimum 300 MWe. Teknologi ini memiliki sejumlah keunggulan: lebih fleksibel dibandingkan reaktor konvensional, biaya pemeliharaan lebih rendah, waktu pengembangan lebih singkat, dan yang terpenting, teknologi ini telah terbukti andal di berbagai negara seperti Rusia dan China.

SMR pertama kali beroperasi secara komersial pada bulan Mei 2020 di Rusia dengan kapasitas 35 Mwe dan saat ini SMR juga telah diaplikasikan di China. Mengingat target Net Zero Emission pada 2060, Indonesia memerlukan semua opsi energi rendah karbon yang tersedia.

SMR memiliki keunggulan komparatif karena tidak bergantung pada kondisi cuaca, sehingga dapat menyediakan pasokan listrik yang stabil. Yang dibutuhkan saat ini adalah kajian mendalam dan diskusi publik yang jujur mengenai potensi dan mitigasi risiko SMR secara komprehensif.

Hidrogen
Saat ini, hidrogen mulai menjadi topik yang sering dibicarakan dalam forum-forum energi. Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan berbagai jenis hidrogen. Hidrogen hijau yang bersumber dari energi baru terbarukan memiliki potensi mencapai 3.689 GW.

Hidrogen biru yang bersumber dari gas alam didukung cadangan 41,62 TCF. Sementara hidrogen cokelat yang bersumber dari batubara tersedia dalam jumlah 38,84 miliar ton. Hidrogen menjadi solusi bagi sektor-sektor yang sulit didekarbonisasi (hard to abate), seperti industri semen, baja, dan petrokimia. Selain itu, hidrogen juga dapat digunakan untuk transportasi berat, seperti truk jarak jauh dan kapal laut.

Pasokan hidrogen saat ini didominasi batubara dan gas alam. Adapun tantangan utamanya adalah biaya produksi hidrogen hijau yang masih belum kompetitif, keterbatasan infrastruktur, serta keterbatasan teknologi dan keterbatasan akses investasi dan pembayaran serta peluang dukungan kebijakan sehingga
hidrogen dapat layak secara komersial.

Namun tren global jelas menunjukkan pergerakan menuju hidrogen hijau. Indonesia yang kaya akan sumber energi baru terbarukan seharusnya dapat
memanfaatkan peluang ini secara optimal.

Pendekatan rasional
Setelah mengurai kelebihan dan kekurangan masing-masing teknologi, dapat ditarik beberapa kesimpulan. Tidak ada satu teknologi yang menjadi solusi untuk seluruh kebutuhan energi nasional.

Pendekatan yang paling rasional adalah kombinasi dari berbagai teknologi sesuai dengan karakteristik masing-masing wilayah. PLTS dan PLTB cocok untuk daerah dengan potensi alam yang sesuai. SMR dapat menjadi pilihan untuk menjamin stabilitas jaringan listrik di skala menengah. Sementara hidrogen merupakan solusi paling menjanjikan untuk industri berat dan transportasi jarak jauh.

Namun keputusan memilih teknologi saja tidak cukup. Yang jauh lebih penting adalah konsistensi kebijakan dan eksekusi yang nyata. Teknologi secanggih apa pun tidak akan berarti jika regulasi terus berubah dan proyek terbengkalai di tengah jalan. Indonesia memiliki potensi yang sangat besar. Tinggal bagaimana mengelolanya dengan serius dan konsisten.


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |