Susi Setiawati, CNBC Indonesia
21 January 2026 08:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Penguatan harga saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diramal bisa menuju Rp900 per lembar, setelah meneken perpanjangan kontrak dua tambang dari PT Arutmin Indonesia senilai Rp10,5 triliun.
Pada perdagangan kemarin Selasa (20/1/2026) saham DEWA sempat menguat lebih dari 6% menuju level tertinggi Rp805 per lembar, sayangnya penguatan ini susut pada sesi kedua dan akhirnya ditutup hanya dengan kenaikan 1,99% ke posisi Rp770 per lembar.
Penguatan saham DEWA ditengarai sentimen perpanjangan kontrak dengan PT Arutmin Indonesia pada Proyek Pertambangan Kintap dan Proyek Pertambangan Asam Asam. Hal itu ditandai dengan penandatanganan perjanjian perpanjangan perpanjangan kontrak pada 19 Januari 2026.
Mengutip keterbukaan informasi, estimasi nilai proyek sekitar Rp 10,5 triliun. Estimasi volume produksi overburden sebesar 252 juta bcm, dan batu bara sebanyak 50 juta ton.
Sementara jangka waktu bersifat Life of Mine atau sepanjang umur tambang. Lokasi proyek ini terletak di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan.
Direktur & Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi menjelaskan pada kontrak sebelumnya, rata-rata volume produksi per tahun pada proyek pertambangan Asam Asam adalah 17,3 juta Bcm untuk overburden dan 3,8 juta ton untuk batu bara. Sedangkan pada kontrak sebelumnya di proyek Kintap, rata-rata volume produksi per tahun adalah 25,3 juta Bcm untuk overburden dan 3,8 juta ton untuk batu bara.
"Penandatanganan Perpanjangan kontrak tersebut menunjukkan kepercayaan Arutmin terhadap Perseroan sebagai mitra jangka panjang," kata Mukson dalam keterbukaan informasi yang dikutip Selasa (20/1/2026).
Penandatanganan Perjanjian Perpanjangan Kontrak life of mine ini juga disebut memberikan kepastian jangka panjang atas kegiatan operasional DEWA. Selain itu, berdampak positif terhadap kinerja dan kondisi keuangan emiten Grup Bakrie itu.
Selain katalis itu, saham DEWA juga masih terdorong sentimen dari periode buyback yang masih berlangsung sejak 19 November 2025 hingga 19 Februari 2026 dengan modal maksimal Rp1,66 triliun setara 10% modal yang ditempatkan.
Namun, tampaknya realisasi dana yang akan terpakai jauh lebih kecil hanya Rp950 miliar. Sampai kemarin Selasa update dana yang sudah terpakai baru Rp480 miliar. Sehingga, tersisa dana untuk buyback lagi sekitar Rp470 miliar.
Mendekati tenggat buyback kurang dari sebulan ini, saham DEWA diproyeksi masih bisa menguat.
Beberapa analis sekuritas memperkirakan rata-rata harga saham DEWA bisa naik ke level 820 dalam jangka pendek dan bisa mencapai kisaran 900 jika tekanan beli masih lanjut.
BCA Sekuritas bahkan menyematkan target harga lebih optimis ke Rp1.100 per saham dan UOB Kay Hian Sekuritas ke harga Rp1.500 per saham. Berdasarkan data Stockbit, saat ini ada 11 analis dari berbagai sekuritas menyematkan rating BUY untuk saham DEWA.
Sejauh ini, katalis positif masih lebih banyak dirasakan saham DEWA. Namun, ada tantangan juga yang perlu diantisipasi. Saham emiten Bakrie ini mendapatkan notasi L dari bursa akibat keterlambatan penyampaian laporan keuangan kuartal III/2025.
Hal tersebut akibat fokus perusahaan yang sedang melakukan restrukturisasi internal terkait mengeliminasi akumulasi kerugian dari tahun-tahun sebelumnya dan evaluasi penurunan nilai aset lama yang tidak produktif. Akibat notasi itu, karena sudah lewat batas pelaporan, DEWA potensi dikenai denda sebesar Rp150 juta dan Surat Peringatan Ketiga (SP3).
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(saw/saw)

2 hours ago
3
















































