Dolar Nyaris Rp17.000, Ini Untung Rugi Bagi Pengusaha Sepatu

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan nilai tukar rupiah yang terus tertekan mendekati level Rp17.000 per US$ mulai memantik kekhawatiran pelaku industri alas kaki. Fluktuasi kurs dapat berdampak pada struktur biaya produksi hingga daya saing produk. Apalagi rantai pasok global yang mayoritas bertransaksi menggunakan dolar.

"Dolar itu kalau untuk sepatu, karena domestik banyak impor dolar, tapi ekspor kan dolar. Jadi kalau untuk harga, pasti yang ekspor harganya pasti akan lebih kompetitif, tapi yang lokal pasti kena harganya imbasnya lebih tinggi," kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Harijanto usai Munas XI Aprisindo di Hotel Borobudur, Rabu (21/1/2026).

Di satu sisi, pelemahan rupiah memang bisa menjadi angin segar bagi eksportir karena harga produk Indonesia terlihat lebih murah di pasar internasional. Namun di sisi lain, kondisi ini menciptakan tekanan baru bagi pasar domestik, terutama karena bahan baku dan komponen masih sangat bergantung pada impor. Akibatnya, harga produk lokal justru berisiko ikut terkerek naik.

Bagi industri alas kaki, kondisi ini menciptakan dilema yakni ekspor diuntungkan, tetapi pasar dalam negeri harus menanggung konsekuensinya. Padahal, keseimbangan antara pasar lokal dan global juga penting untuk keberlanjutan industri, apalagi ketika konsumsi domestik masih menjadi penopang utama saat permintaan global melambat.

Fluktuasi yang terlalu tajam justru membuat perencanaan usaha menjadi sulit, mulai dari penentuan harga, kontrak dengan pembeli, hingga perhitungan biaya produksi jangka panjang.

"Jadi yang paling bagus itu juga jangan terlalu fluktuatif, karena itu merugikan ekspor juga, merugikan lokal apa impor juga harga lokal gitu kan," kata Ketum Aprisindo Anton J. Supit.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, kinerja ekspor industri alas kaki justru menunjukkan ketahanan yang patut dicatat. Indonesia kini menempati posisi strategis dalam peta industri sepatu dunia.

"Indonesia mengukuhkan diri sebagai produsen ekspor alas kaki terbesar ketiga di dunia dengan total nilai ekspor USD 32 miliar selama periode 2020-2024," ungkap Anton.

Setelah sempat mengalami fluktuasi, pemulihan pasca-pandemi menjadi angin segar bagi sektor ini. Tahun 2024 menjadi momentum penting dengan lonjakan ekspor dua digit.

"Nilai ekspor melonjak signifikan pada 2024 sebesar 13,13% menjadi US$7,28 miliar. Hingga November 2025, kinerja ekspor tetap stabil di US$7,25 miliar, tumbuh 9,08% secara tahunan," jelasnya.

Amerika Serikat masih menjadi pasar utama bagi sepatu buatan Indonesia, meski tantangan tarif tak bisa dihindari.

"AS tetap mitra utama dengan kontribusi lebih dari 30%. Walaupun menghadapi tarif resiprokal 19% sejak Agustus 2025, ekspor ke AS hingga November 2025 masih naik 7,73% menjadi US$2,54 miliar," kata Anton.

Sementara itu, pasar Eropa dinilai relatif stabil dan berpotensi menjadi motor pertumbuhan berikutnya, seiring implementasi penuh perjanjian dagang dengan Uni Eropa.

"Eropa menunjukkan stabilitas dengan nilai US$1,59 miliar hingga November 2025, dan IEU-CEPA dengan target tarif 0% akan menjadi katalis pertumbuhan ke depan," ujarnya.

Berbeda dengan China yang justru mencatat penurunan dalam beberapa tahun terakhir.

"China mengalami kontraksi dalam tiga tahun terakhir dengan nilai US$500,87 juta hingga November 2025, sehingga butuh strategi penetrasi pasar yang lebih spesifik," tutup Anton.

(fys/mij)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |