Jakarta, CNBC Indonesia - Akses internet di Iran lumpuh total selama hampir 90-hari, pasca pemblokiran total yang dilayangkan pemerintah setempat. Kondisi ini telah membawa petaka besar bagi masyarakat setempat.
Bukan hanya menghantam sektor bisnis makro, tetapi juga kondisi kehidupan masyarakat sipil yang terganggu karena hambatan interaksi satu sama lain.
Berdasarkan laporan lembaga pemantau netralitas internet global, NetBlocks, estimasi kerugian ekonomi yang diderita Iran akibat pembatasan akses internet ini telah menembus angka fantastis, yakni lebih dari US$ 2,6 miliar atau setara Rp 46 triliun.
Namun, masyarakat Iran yang juga menjadi korban serangan AS-Israel, akhirnya bisa sedikit bernapas lega. Presiden Iran, Masoud Pezeskhian, telah mengeluarkan perintah untuk membuka kembali akses internet internasional, menurut laporan media setempat.
Laporan itu mengutip kepala hubungan masyarakat di Kementerian Komunikasi Iran, dikutip dari Reuters, Selasa (26/5/2026).
Mekanisme lebih lanjut, seperti bagaimana dan kapan Iran bisa kembali terhubung ke jaringan internet global, masih belum diketahui.
Mayoritas masyarakat Iran tak bisa mengakses jaringan internet global selama 87-hari, menurut NetBlocks. Hanya sebagian kecil warga yang bisa mengakses VPN canggih dengan harga mahal, di tengah pembatasan tersebut.
Pemerintah setempat memberlakukan pemadaman internet mulai 8 Januari 2026, sebagai respons terhadap protes anti-pemerintah di seluruh negeri, dengan koneksi secara bertahap kembali normal pada Februari 2026, sebelum pemadaman baru dimulai menyusul dimulainya serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026.
Dalam keadaan normal, akses ke internet global masih sangat dibatasi melalui sensor terhadap banyak situs web. Otoritas setempat mengandalkan intranet untuk menyediakan layanan terhubung tanpa bergantung pada World Wide Web, terutama untuk sekolah yang saat ini mengikuti kurikulum online.
(fab/fab)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































