Kiamat! 4.000 Spesies Hewan di Asia Terancam Hilang Selamanya

2 hours ago 3

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia

06 June 2026 13:00

Jakarta,, CNBC Indonesia - Lebih dari 4.300 spesies di Asia kini masuk kategori terancam punah, termasuk yang hidup di Indonesia.

Badak Jawa kini tersisa dalam jumlah yang bisa dihitung dengan jari puluhan. Badak Sumatra bernasib serupa.

Sementara soala, mamalia langka yang hidup di Pegunungan Annamite di Laos dan Vietnam, mungkin sudah menghilang bahkan sebelum sebagian besar dunia sempat mengenalnya.

Menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), lebih dari 4.300 spesies di kawasan ini kini masuk kategori terancam punah atau sangat terancam punah. Daftarnya mencakup harimau, trenggiling, gibon, ikan lele raksasa, hingga burung pemakan bangkai.

Tekanan terhadap Habitat

Asia Tenggara dikenal sebagai rumah bagi hutan hujan tropis, terumbu karang, pegunungan, dan ribuan spesies endemik yang tidak ditemukan di tempat lain.

Namun tekanan terhadap alam datang dari berbagai arah sekaligus. Kota terus meluas, hutan dibuka untuk perkebunan, laut menghangat, sementara perdagangan satwa liar belum berhenti.

Di banyak tempat, habitat menyusut lebih cepat daripada kemampuan spesies untuk beradaptasi.

Badak bercula satuBadak bercula satu Foto: Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem (KSDAE),

Spesies yang Paling Rentan

Sebagian satwa yang paling dikenal justru menjadi yang paling terancam.

Badak Jawa dan badak Sumatra kini hanya tersisa puluhan individu. Harimau, trenggiling, dan berbagai spesies gibon juga terus menghadapi tekanan akibat hilangnya habitat dan perburuan.

Ancaman yang sama terjadi di laut dan perairan darat. Ikan lele raksasa, dugong, karang, kuda laut, dan berbagai spesies lain menghadapi tekanan akibat pembangunan pesisir, eksploitasi berlebih, dan perubahan kondisi laut.

Ada pula spesies yang bahkan belum sempat dikenal luas publik.

Soala, yang dijuluki "Asian unicorn", baru ditemukan ilmuwan pada 1992. Namun hanya beberapa dekade kemudian, sebagian peneliti khawatir spesies itu sudah menghilang dari alam liar.

Hutan yang Berubah Fungsi

Tekanan terhadap habitat terlihat jelas di Laos.

Negara itu kehilangan sekitar 25% tutupan pohonnya antara 2001 hingga 2025. Banyak kawasan hutan berubah menjadi perkebunan jagung, pisang, dan singkong.

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa ancaman terhadap biodiversitas tidak selalu datang dari aktivitas ilegal. Dalam banyak kasus, tekanan justru muncul dari ekspansi ekonomi yang mengurangi ruang hidup satwa sedikit demi sedikit.

Ketika hutan berubah fungsi, yang hilang bukan hanya pohon, tetapi juga sumber makanan, tempat berkembang biak, dan jalur migrasi berbagai spesies.

Perdagangan yang Terus Berjalan

Ancaman lain datang dari perdagangan satwa liar. Asia Tenggara dikenal sebagai pusat biodiversitas. Pada saat yang sama, kawasan ini juga menjadi salah satu pusat perdagangan satwa liar terbesar di dunia.

Awal bulan ini, otoritas Laos menyita cula badak asal Afrika. Di Thailand, gading gajah masih ditemukan diperdagangkan melalui media sosial.

Cula badak, gading gajah, trenggiling, kura-kura, burung langka, karang, kuda laut, hingga berbagai jenis tumbuhan masih menjadi bagian dari perdagangan ilegal yang nilainya mencapai miliaran dolar AS setiap tahun.

Hal serupa terjadi pada kayu bernilai tinggi. Di Myanmar, kayu jati menjadi sasaran pembalakan ilegal untuk industri kapal pesiar. Di Thailand, rosewood tetap diburu untuk pasar furnitur premium.

"Far too many species-endangered or otherwise-are being stolen from the wild to feed the lucrative business of illegal trade," kata Kanitha Krishnasamy, Direktur Traffic untuk Asia Tenggara.

Tanda-Tanda Pemulihan

Di tengah tekanan tersebut, masih ada beberapa perkembangan positif.

Populasi dugong di Thailand selatan menunjukkan tanda-tanda pemulihan. Populasi harimau di kawasan hutan timur Thailand juga meningkat setelah perlindungan hutan diperkuat dalam beberapa tahun terakhir.

Laos, yang tidak lagi menemukan harimau liar selama sekitar satu dekade, berjanji meningkatkan populasi harimau dalam 10 tahun ke depan.

Pemerintah negara itu juga menargetkan penanaman 10 juta pohon tahun ini untuk membantu memulihkan tutupan hutan.

Apa yang Sebenarnya Dipertaruhkan?

Ini adalah persoalan ruang.

Manusia membutuhkan lebih banyak lahan untuk kota, perkebunan, pertanian, jalan, dan industri. Satwa liar membutuhkan ruang yang sama untuk bertahan hidup.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 1 juta spesies hewan dan tumbuhan di dunia kini menghadapi ancaman kepunahan.

Sekitar 75% lingkungan daratan dan 66% lingkungan laut telah mengalami perubahan signifikan akibat aktivitas manusia. Saat ini hanya sekitar 17% wilayah daratan dan 8% wilayah laut yang berstatus kawasan lindung.

Karena itu, PBB menargetkan perlindungan 30% daratan, sungai, dan laut dunia pada 2030, sekaligus memulihkan 30% ekosistem yang telah terdegradasi.

populasi Harimau Dunia Cuma Ada di 10 Negara Ini, Ada RI jugapopulasi Harimau Dunia Cuma Ada di 10 Negara Ini, Ada RI juga Foto: Infografis/ populasi Harimau Dunia Cuma Ada di 10 Negara Ini, Ada RI juga/Aristya Rahadian

Yang Masih Tersisa

Asia Tenggara yang selama ini dikenal sebagai salah satu pusat biodiversitas dunia kini juga menjadi tempat di mana pembangunan, konsumsi, dan konservasi bertemu dalam kecepatan yang semakin sulit diimbangi.

Pertanyaannya bukan lagi apakah kawasan ini masih memiliki kekayaan hayati yang luar biasa.

Pertanyaannya adalah berapa banyak yang masih tersisa ketika generasi berikutnya mencoba mencarinya.

(mae/mae)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |