Kisah Pasutri Miskin Naik Haji Gegara Paku Bengkok Mbah Kholil Bangkalan

2 days ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Ibadah haji 2025 sangat dinantikan oleh jemaah yang sudah mendaftarkan diri jauh-jauh hari, bahkan ada yang beberapa tahun lalu. Haji tahun ini akan dilaksanakan pada Juni 2025, tapi berangkatnya sudah sejak 2 Mei lalu untuk jemaah yang berasal dari Indonesia.

Haji merupakan ibadah yang diwajibkan bagi muslim yang memiliki kemampuan menunaikannya. Kemampuan ibadah haji tidak hanya dilihat dari finansial, tapi juga aspek fisik dan kesehatan.

Ibadah haji hanya bisa dilaksanakan di Tanah Suci dan waktunya pada Dzulhijjah. Jarak Indonesia ke Arab Saudi yang sangat jauh membuat perjalanan haji memerlukan biaya yang tidak kecil.

Namun demikian, banyak muslim yang mendambakan melaksanakan ibadah haji, terlebih pahalanya adalah surga bagi yang meraih kategori mabrur/mabruroh. 

Dalam realitanya, selalu ada cara umat Islam melaksanakan haji. Bahkan, orang miskin pun jika sudah dipanggil Allah ke Tanah Suci, ia akan berangkat. Hal ini seperti dialami sepasang suami istri (pasutri) miskin yang haji karena paku bengkok ulama besar Syaikhona Kholil Al Bangkalani atau Mbah Kholil Bangkalan

Simak berikut kisah selengkapnya yang disarikan dari laman Pesantren Syaichona Moh. Cholil, Rabu (7/5/2025).

Saksikan Video Pilihan Ini:

Basarnas Kirim Personel untuk Bantu Penanganan Gempa Cianjur

Kisah Pasutri Miskin Ingin Haji ke Mbah Kholil

Dikisahkan, ada pasutri yang berkeinginan berangkat haji tapi terkendala biaya. Alhasil, sang istri meminta suami untuk sowan ke Mbah Kholil Bangkalan untuk agar bisa berangkat haji.

Setelah sampai di kediamannya Mbah Kholil, sang suami mengutarakan hajatnya ingin menunaikan haji ke Tanah Suci. 

“Kiai saya minta barokahnya agar bisa ke Makkah,” tuturnya.

Mendengar keinginan orang tersebut, Mbah Kholil bergumam, “Kalau dipikir-pikir naik haji itu harus dengan uang.”

Kemudian Mbah Kholil pergi ke kamarnya. Ia mencari sesuatu untuk diberikan kepada orang tersebut. Namun, Mbah Kholil tidak menemukan sesuatu di kamarnya. Hanya ada paku bengkok yang biasa digunakan untuk menggantung bajunya.

Tanpa pikir panjang, Mbah Kholil  mencabut paku tersebut dan diberikan kepada orang tadi. Sebelum diberikan, Mbah Kholil meminta orang tersebut menghabiskan hidangan yang disuguhkan.

“Ini genggam dan bawa pulang jangan kamu buka sebelum sampai ke rumahmu,” kata Mbah Kholil setelah tamunya menghabiskan hidangan yang ia suguhkan.

Orang tersebut senang dan pulang ke rumahnya. Ia mengira yang diberikan Mbah Kholil itu adalah mutiara atau sebatang emas yang bisa jadi modal untuk pergi haji.

Kaget ketika Tahu Hanya Paku Bengkok

Sesampainya di rumah, suami itu kaget bukan main. Sebab, yang ia genggam selama perjalanan dari dalem Mbah Kholil ke rumahnya ternyata hanya sebatang paku bengkok.

Berhubung paku tersebut diberikan Mbah Kholil, ia memutuskan untuk menyimpannya.

Beberapa hari kemudian, sang suami melihat ada kapal bersandar yang digeromboli banyak orang. Dia mendekat dan bertanya apa yang sedang terjadi. Ternyata, kapal milik Amerika yang bersandar itu diakibatkan kunci peti harta simpanan mereka jatuh ke laut dan tidak ada satu pun yang menemukannya.

Alhasil, orang Amerika itu mengadakan sayembara. “Barang siapa yang bisa membuka peti ini maka separuh dari isinya boleh diambil,” demikian isi sayembaranya.

Barokah Paku Bengkok Mbah Kholil

Mendengar ada pengumuman tersebut, sang suami ingat dengan paku bengkok pemberian Mbah Kholil. Ia lari ke rumahnya dan mengambil paku tersebut. Setelah itu, balik lagi ke tempat di mana kapal milik Amerika bersandar.

Dengan penuh keyakinan, sang suami mengutarakan keinginannya untuk membuka peti mereka seraya mengeluarkan paku bengkok pemberian Mbah Kholil. Namun, sang suami itu malah ditertawakan.

“Sebagus-bagusnya kunci tidak bisa membuka peti ini apalagi paku bengkok nan karat ini,” kata yang mengadakan sayembara.

Sang suami tetap mencoba untuk membuka peti itu dengan paku bengkok Mbah Kholil. Atas izin Allah SWT dan barokahnya Mbah Kholil, paku bengkok itu mampu membuka peti dengan mudah. Melihat kejadian itu, semua orang yang melihatnya kagum pada sang suami itu.

Sesuai perjanjian, orang Amerika itu membagikan setengah dari isi petinya. Sang suami bersyukur dan bahagia. Ia pulang ke rumah dan menceritakan kepada istrinya.

Akhirnya, dengan uang pemberian orang Amerika pasutri itu bisa pergi haji. Tak lupa, mereka mengajak Mbah Kholil untuk melaksanakan haji bersama.

Demikian kisah pasutri yang berangkat haji karena barokah Mbah Kholil Bangkalan. Dari kisah ini dapat kita ambil hikmah bahwa ketika seseorang senang dan mahabbah terhadap ulama, insya Allah keinginannya akan dimudahkan oleh Allah SWT.

Wallahu a’lam.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |