Kurban, Filantropi, dan Cara Baru Merawat Sesama

13 hours ago 3

loading...

Wibowo Prasetyo, Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Ketua LTN PBNU, dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia. Foto: Istimewa

Wibowo Prasetyo
Anggota Komisi VIII DPR Fraksi PDI Perjuangan, Wakil Ketua LTN PBNU, dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia

ADA satu pemandangan yang selalu berulang setiap Iduladha. Di sudut kampung, anak-anak berdiri membawa kantong plastik. Wajah mereka berbinar. Orang-orang berkumpul. Pisau diasah. Takbir menggema. Bau rumput, tanah, dan hewan kurban bercampur menjadi aroma yang hanya datang setahun sekali. Lalu daging dibagikan. Selesai.

Sering kali kurban berhenti di sana. Sebatas seremoni tahunan. Sebatas ritual yang datang lalu pergi. Padahal mungkin kita perlu bertanya ulang apakah kurban hanya tentang membagikan daging? Ataukah sesungguhnya ia sedang mengajari manusia cara mengelola kepedulian?

Tahun ini muncul gagasan yang menarik perhatian publik. Presiden Prabowo Subianto meminta agar daging dam jamaah haji Indonesia yang dikelola di Arab Saudi dapat disalurkan untuk warga Palestina, khususnya Gaza yang menghadapi krisis kemanusiaan berkepanjangan.

Gagasan itu sederhana, tapi maknanya besar. Ibadah tidak berhenti pada altar spiritual. Ia bergerak menjadi jalan kemanusiaan. Namun di titik inilah muncul pertanyaan yang lebih dekat dengan rumah kita sendiri.

Jika daging dam bisa melintasi batas negara menuju Gaza, mungkinkah pengelolaan kurban dan dam juga dirancang lebih strategis untuk menjawab persoalan sosial di Indonesia?

Pertanyaan itu sesungguhnya bukan hal baru. Beberapa tahun terakhir, pengelolaan daging dam berkembang semakin modern. Tidak lagi sekadar dibagikan dalam bentuk segar, tetapi diolah menjadi pangan tahan lama seperti kornet atau makanan kaleng dengan masa simpan panjang.

Di Jawa Tengah, gagasan itu pernah dipraktikkan. Baznas Jawa Tengah, misalnya, mengembangkan pengelolaan daging dam menjadi produk olahan seperti kornet dan pangan kaleng yang dapat disimpan lebih lama. Dengan cara itu, manfaat daging dam tidak berhenti di hari pembagian.

Ia dapat bergerak lebih jauh. Menjangkau masyarakat rentan, memperkuat bantuan kebencanaan, menjangkau daerah rawan pangan. Bahkan membuka kemungkinan menjadi bagian intervensi gizi bagi kelompok yang membutuhkan.

Model seperti ini membuka kemungkinan besar. Kurban dan dam tidak hanya hadir sebagai bantuan sesaat. Tetapi menjadi bagian dari strategi sosial yang berkelanjutan. Di sinilah kita perlu membicarakan satu kata yang mungkin terdengar akademis, tetapi sesungguhnya sangat dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia: filantropi.

Filantropi adalah praktik memberi demi kebaikan bersama. Dan Indonesia sesungguhnya adalah bangsa filantropi. Laporan World Giving Index 2024 menempatkan Indonesia sebagai negara paling dermawan di dunia selama tujuh tahun berturut-turut dengan skor 74 poin.

Laporan yang disusun Charities Aid Foundation (CAF) itu juga mencatat sekitar 90 persen masyarakat Indonesia menyumbangkan uang untuk kegiatan sosial, sementara sekitar 65 persen terlibat dalam aktivitas kerelawanan. Angka-angka itu memperlihatkan satu hal. Bangsa ini sesungguhnya tidak kekurangan orang baik. Yang sering kurang adalah cara agar kebaikan bekerja lebih panjang.

Sosiolog Zygmunt Bauman pernah mengingatkan ironi manusia modern. Teknologi membuat manusia semakin terhubung. Informasi bergerak semakin cepat. Tetapi kepedulian tidak selalu tumbuh seiring perkembangan itu.

Manusia modern dapat dengan mudah menyaksikan penderitaan orang lain, namun tidak selalu bergerak melakukan sesuatu. Kita melihat begitu banyak, tapi kadang semakin sedikit merasakan. Di titik inilah filantropi menemukan relevansinya.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |