Laju Saham Kapal Lagi Melambat, Saatnya Buy atau Bye?

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten kapal dan pengangkut LNG tengah dalam fase pelemahan setelah terbang tinggi.

Dengan tren pelemahan ini apakah saham kapal masih menarik dibeli?

Mayoritas saham sektor pelayaran berada di zona merah, baik secara harian maupun dalam sepekan terakhir. Tekanan terlihat cukup merata di hampir seluruh emiten.

Dalam satu minggu terakhir, pelemahan terdalam dipimpin oleh PT Pelayaran Nasional Bina Buana Raya Tbk (BBRM) yang terkoreksi 11,90%. Tekanan serupa juga terjadi pada PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) yang turun 11,45% serta PT Logindo Samudramakmur Tbk (LEAD) yang melemah 11,11%.

PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) juga mengalami koreksi signifikan sebesar 11,31% dalam sepekan, disusul PT GTS Internasional Tbk (GTSI) yang turun 9,64% dan PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) yang melemah 8,42%.

Sementara itu, tekanan relatif lebih terbatas terjadi pada PT Soechi Lines Tbk (SOCI) yang turun 3,70%, PT Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS) terkoreksi 3,57%, PT Trans Power Marine Tbk (TPMA) turun 2,42%, serta PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) yang melemah 1,99%. PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) menjadi salah satu yang paling minim koreksi dalam sepekan, yakni turun 1,87%.

Secara year to date, kinerja saham juga masih cenderung beragam. PT Soechi Lines Tbk (SOCI) mencatatkan penguatan tertinggi sebesar 30,52%, disusul PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) yang naik 25,00%. Namun, sejumlah saham masih berada di zona negatif sejak awal tahun, seperti PT Mitrabahtera Segara Sejati Tbk (MBSS) yang terkoreksi 44,41% dan PT Rukun Raharja Tbk (RAJA) yang turun 28,03%.

Menariknya, dibalik penurunan harga saham emiten sektor perkapalan dan yang masih ada hubungannya sama LNG, story fundamentalnya masih belum berubah.

Artinya, ini lebih ke aksi taking profit jangka pendek dan antisipasi risiko kondisi makro ekonomi yang lagi banyak ketidakpastian, seperti tarif Presiden AS Donald Trump, rebalancing MSCI, dan lainnya.

Story fundamental masih running di sektor ini.

Industri kapal tanker global saat ini berada dalam fase super cycle. Konflik geopolitik, termasuk ketegangan di Laut Merah serta sanksi terhadap Rusia, telah memaksa perubahan rute pelayaran menjadi lebih panjang. Dampaknya, permintaan ton-mile meningkat dengan estimasi pertumbuhan sekitar 3% CAGR sejak 2024.

Kondisi tersebut kini semakin diperkuat oleh dinamika terbaru di Timur Tengah. Biaya sewa kapal tanker minyak super besar atau very-large crude carrier (VLCC) dilaporkan melonjak tajam seiring meningkatnya risiko serangan besar Amerika Serikat terhadap Iran. Selain faktor geopolitik, kepemilikan armada yang semakin terkonsentrasi turut memperketat pasokan di pasar.

Data Baltic Exchange menunjukkan pendapatan VLCC di rute Timur Tengah-China hampir tiga kali lipat sepanjang tahun ini menjadi US$151.208 per hari, level tertinggi sejak 2020. Lonjakan ini mengindikasikan pasar tanker berada dalam kondisi sangat ketat, dengan tarif yang terdorong oleh kombinasi risiko geopolitik dan keterbatasan armada.

Sebelumnya, utilisasi super tanker memang sudah diproyeksikan mencapai sekitar 92% pada 2026.

Di sisi lain, pasokan kapal baru relatif terbatas karena galangan kapal global lebih banyak memprioritaskan pembangunan kapal kontainer dan LNG. Dalam kondisi seperti ini, setiap gangguan pasokan atau peningkatan risiko kawasan akan langsung tercermin pada kenaikan tarif.

Selain segmen minyak mentah, pertumbuhan juga datang dari LNG. Permintaan LNG global diproyeksikan meningkat 70% hingga 80% dalam tiga hingga empat tahun ke depan, membuka ruang ekspansi tambahan bagi pelaku industri pelayaran energi.

Di Indonesia, momentum global ini berpotensi menjadi peluang strategis. Pemerintah tengah mengkaji sejumlah insentif untuk mendorong kebangkitan industri galangan kapal nasional, antara lain bea masuk nol persen untuk komponen kapal impor guna menekan biaya produksi, insentif pembangunan kapal baru bagi galangan lokal, serta skema kredit pembiayaan jangka panjang dengan tenor 15 hingga 30 tahun.

Apabila kebijakan tersebut terealisasi di tengah siklus tarif yang tinggi, dampaknya bisa signifikan. Tidak hanya meningkatkan utilisasi galangan kapal dalam negeri, tetapi juga memperkuat rantai pasok industri maritim nasional dan mengurangi ketergantungan pada armada asing.

Dengan kombinasi super cycle, lonjakan tarif VLCC, serta dukungan kebijakan domestik, sektor tanker dan maritim berpotensi memasuki fase ekspansi yang lebih panjang dibandingkan siklus sebelumnya.

Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(saw/saw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |