Jakarta, CNBC Indonesia - Harga minyak dunia saat ini menunjukkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, harga yang sering dikutip secara global, seperti Brent, terlihat masih lebih rendah dibanding puncak krisis sebelumnya. Namun di sisi lain, harga minyak fisik (spot) yang siap kirim justru melonjak tajam dan mencerminkan kondisi pasar yang jauh lebih ketat.
Melansir The New York Times, jika mencari harga minyak di internet, biasanya akan muncul dua patokan utama, yakni harga di Amerika Serikat dan Eropa. Harga ini berasal dari pasar berjangka (futures), yang bergerak cepat mengikuti ekspektasi pelaku pasar terhadap nilai minyak dalam beberapa bulan ke depan.
Namun, kondisi di lapangan berbeda. Jika perusahaan membutuhkan minyak dalam bentuk fisik dan segera dikirim, harganya jauh lebih mahal.
Pada Selasa lalu, sebelum Presiden AS Donald Trump mengumumkan gencatan senjata antara AS dan Iran, harga Brent berada di kisaran US$109 per barel. Angka ini masih di bawah level tertinggi tahun 2022 yang sempat menembus US$130 per barel.
Sebaliknya, di pasar fisik, yakni perdagangan minyak yang benar-benar dikirim melalui kapal tanker, harga mencapai hampir US$145 per barel. Angka ini menjadi rekor baru dan melonjak lebih dari dua kali lipat dibandingkan sebelum serangan AS dan Israel ke Iran pada 28 Februari, menurut data Argus Media.
Perbedaan ini terjadi karena dua jenis harga tersebut berasal dari mekanisme pasar yang berbeda. Harga kontrak berjangka (futures) mencerminkan ekspektasi investor, mirip seperti harga saham, sementara harga spot atau fisik terkait langsung dengan pasokan nyata minyak mentah yang bisa diolah menjadi bahan bakar seperti bensin, diesel, dan avtur.
Dalam kondisi normal, selisih antara harga futures dan spot memang ada, tetapi tidak terlalu lebar. Namun dalam beberapa pekan terakhir, jurangnya melebar drastis hingga memicu kekhawatiran para pelaku industri.
"Pasar berjangka sama sekali tidak mencerminkan realitas minyak di lapangan dan di perairan," kata Ahli Strategi Energi Global di Macquarie Group, Vikas Dwivedi, dikutip dari The New York Times, Sabtu (11/4/2026).
"Pasar ini benar-benar kacau," sambungnya.
Kekhawatiran serupa juga disampaikan oleh CEO Chevron, Mike Wirth. Ia menilai pasar berjangka tidak mencerminkan ketatnya pasokan minyak yang terjadi saat ini.
"Harga fisik dan pasokan fisik akan mencerminkan pasar yang lebih ketat daripada yang saya kira tercermin dalam kurva forward," ungkap Mike Wirth dalam konferensi energi CERAWeek di Houston.
Lonjakan selisih harga ini disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam dua dekade terakhir. Bahkan para analis energi pun belum sepenuhnya bisa menjelaskan penyebab utamanya.
"Ini adalah sebuah misteri," kata Dwivedi.
Yang jelas, perang dengan Iran telah mengguncang pasar minyak global. Diperkirakan lebih dari 10% pasokan minyak dunia terganggu karena kapal tanker kesulitan melintasi Selat Hormuz, jalur vital antara Iran dan Semenanjung Arab.
Dampaknya terasa luas. Harga energi melonjak di berbagai negara, terutama di Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari Teluk Persia. Sejumlah negara bahkan mengalami kelangkaan bahan bakar.
Di Vietnam dan Thailand, sejumlah SPBU sempat menolak pembeli karena stok habis. Sementara di Sri Lanka, pemerintah menetapkan hari libur setiap Rabu untuk menghemat energi. Beberapa negara lain juga mulai mendorong kebijakan kerja dari rumah.
Meski pengumuman gencatan senjata sempat menekan harga minyak di pasar keuangan, kondisi di lapangan belum banyak berubah. Perusahaan pelayaran masih berhati-hati melewati Selat Hormuz, sehingga sebagian besar pasokan minyak dunia masih tertahan.
"Harga fisik tersebut hanya menunjukkan betapa ketatnya situasi saat ini," kata Analis Energi di TD Cowen, Jason Gabelman.
(fsd/fsd)
[Gambas:Video CNBC]

7 hours ago
6
















































