Jakarta, CNBC Indonesia - Gebrakan China dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI) disebut menciptakan momentum perubahan drastis di industri teknologi global, seperti yang terjadi saat Android muncul di industri smartphone.
Tidak seperti perusahaan di Amerika Serikat, perusahaan di China memilih mengembangkan AI sebagai program open source bebas digunakan oleh siapa saja secara gratis.
Revolusi open source atau sumber terbuka diawali oleh DeepSeek, startup yang mampu mengembangkan R1 yaitu model AI yang kemampuannya setara dengan model GPT buatan OpenAI tetapi dengan biaya yang jauh lebih murah.
Kemunculan DeepSeek membuat para investor meragukan kemampuan perusahaan AS mendominasi industri AI dan mempertanyakan belanja modal besar-besaran oleh mereka untuk mengembangkan model AI serta membangun data center raksasa.
"Kesuksesan DeepSeek membuktikan bahwa strategi open source bisa mempercepat inovasi dan memperluas adopsi," kata Wei Sun dari Counterpoint Research. "Kini, kita melihat sendiri R1 mengubah lanskap AI di China. Perusahaan besar seperti Baidu merespons dengan model AI open source mereka."
Pada pertengahan Maret, Baidu merilis model AI terbaru mereka yang diberi nama Ernie 4.5 beserta model reasoning yang diberi nama Ernie X1. Keduanya digratiskan bagi pengguna perorangan, kemudian secara open source mulai akhir Juni.
Model bisnis open source adalah software yang tersedia secara bebas yang kemudian bisa dimodifikasi dan digunakan oleh pihak mana pun. Model ini sebetulnya digunakan oleh Meta dengan Llama dan Gemma milik Google. Namun, Meta dan Google membatasi penggunaan teknologi mereka dan tidak mengungkapkan data yang digunakan untuk melatih kedua model AI tersebut.
DeepSeek mendistribusikan R1 dengan lisensi MIT, yaitu lisensi sumber terbuka yang paling bebas, bahkan mengizinkan penggunaan untuk tujuan komersial.
Meskipun menggratiskan R1, DeepSeek mencari pendapatan dari API yang dibutuhkan dalam integrasi R1 dengan aplikasi lain. Namun, harga API DeepSeek jauh lebih murah dibanding harga API yang dirilis OpenAI dan Anthropic.
OpenAI dan Anthropic juga mengharuskan pengguna perorangan perusahaan untuk membayar penggunaan model AI mereka untuk tujuan tertentu. Sistem ini yang disebut sebagai model tertutup (closed-source) karena data dan algoritma tidak dibuka untuk publik.
Di China, raksasa teknologi mengikuti jejak DeepSeek. Selain Baidu, Alibaba dan Tencent secara bertahap membuka akses model AI mereka menjadi open source.
Alibaba Cloud pekan lalu membuka model AI pencipta video mereka menjadi open source, sedangkan Tencent telah merilis 5 model AI open source yang mampu mengolah perintah teks dan gambar menjadi visualisasi 3D.
Lee Kai Fu, seorang peneliti AI, menyatakan bahwa perkembangan di China akan berdampak ke OpenAI. OpenAI tidak bisa lagi menetapkan harga semaunya karena muncul pesaing yang "gratis dan tangguh."
"Perbedaan terbesar dari DeepSeek adalah open source menang," kata Lee.
Tim Wang dari perusahaan investasi Monolith Management, menyatakan bahwa DeepSeek bertindak sebagai "enabler dan multiplier" yaitu memberikan kesempatan sekaligus membuat perusahaan AI menjamur. DeepSeek membuktikan bahwa AI bisa dikembangkan dengan sumber daya yang terbatas.
Model open source menekan biaya, sekaligus membuka pintu untuk inovasi produk. Kedua hal ini, lanjutnya, adalah kelebihan utama perusahaan China.
Dia menyebut perkembangan ini sebagai "momen Android" seperti saat Google membuat sistem operasi Android sebagai open source. Hasilnya, inovasi dan aplikasi baru di luar ekosistem Apple berkembang pesat.
"Tadinya kita pikir, China 12 hingga 24 bulan tertinggal dari Amerika dalam AI, kini hanya 3-6 bulan," kata Wang.
(dem/dem)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Canggih! Saatnya Pantau Kesehatan Otak Dengan Teknologi AI
Next Article Elon Musk Tak Mau Pencipta ChatGPT Cari Untung, Bawa-Bawa Pengacara