Review Sepekan
Robertus Andrianto, CNBC Indonesia
07 June 2026 08:00
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak dunia jatuh setelah serangkaian kabar buruk yang menghantui logam mulia tersebut sepanjang pekan ini.
Berdasarkan data refinitiv harga perak spot internasional tercatat di US$67,81 per troy ons pada Jumat (5/6/2026) atau turun 8,2% dalam sehari.
Harga perak yang ambles 8% lebih tersebut adalah yang terburuk sejak penurunan 14 Mei 2026 sebesar 9,02% dalam 24 jam. Penurunan dalam tersebut menempatkan harga perak di level terendah sejak 20 Maret 2026.
Dalam sepekan, harga perak ambruk 9,89% atau terendah sejak pekan ketiga Maret 2026.
Harga perak jatuh dalam disebabkan oleh berbagai faktor mulai dari lonjakan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil, data tenaga kerja AS hingga ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserves (The Fed) tahun ini.
Indeks dolar menembus level 100,07 atau level tertinggi sejak akhir Maret 2026. Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik di atas 4,54% dan yield tenor 30 tahun menembus 5%.
Pembelian perak dikonversi dalam dolar AS sehingga kenaikan dolar membuat permintaan turun. Perak juga tidak menawarkan imbal hasil sehingga kenaikan imbal hasil surat utang AS membuat perak tidak menarik.
Data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan juga memperkuat ekspektasi bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kekhawatiran inflasi yang dipicu perang di Timur Tengah juga turut memengaruhi sentimen pasar.
Data Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan non-farm payrolls bertambah 172.000 pekerjaan pada Mei, setelah direvisi naik menjadi 179.000 pada April. Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan proyeksi jajak pendapat Reuters yang memperkirakan penambahan hanya 85.000 pekerjaan.
"Kita mendapatkan data payroll yang jauh lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar," kata Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, Bart Melek, dikutip dari Reuters.
"Di tengah perang yang masih berlangsung dengan Iran, harga energi yang sangat tinggi, dan tekanan inflasi yang kuat, sangat kecil kemungkinan The Fed memiliki niat untuk menurunkan suku bunga. Implikasinya bagi perak adalah biaya kepemilikan (cost of carry) menjadi makin mahal," ujarnya.
Saat ini pasar memperkirakan peluang sekitar 72% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada Desember, berdasarkan alat FedWatch CME Group. Sebelum rilis data tenaga kerja, probabilitas tersebut hanya sekitar 50%.
Perak mendapatkan tekanan besar selama perang yang terjadi antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel. Hal ini karena adanya kekhawatiran akan kenaikan suku bunga bank sentral di dunia.
Meski perak kerap dianggap sebagai lindung nilai, alternatif dari emas, terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi umumnya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia tersebut karena meningkatkan daya tarik instrumen berbunga.
Selain itu, konflik yang berlarut memberikan tekanan terhadap pertumbuhan ekonomi dunia dan juga pelemahan industri, ujung-ujungnya juga membuat perak ambruk. Pasalnya perak, sebagai lindung nilai juga merupakan bahan baku industri. Jika ekonomi lemas, permintaan perak juga akan terpengaruh.
(ras/luc)
Addsource on Google

2 hours ago
2

















































