Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebut selera risiko investasi generasi muda saat ini, khususnya Gen Z berbeda dibandingkan masyarakat generasi sebelumnya. Ketua Dewan Komisioner OJK Mahendra Siregar mengatakan, Gen Z lebih menyukai instrumen aset investasi berisiko tinggi seperti aset kripto.
"Risk appetite-nya memang jauh lebih tinggi, dan mungkin prioritasnya sudah berubah," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Mahendra mengungkapkan, hal ini cukup menarik karena adanya perbedaan kebutuhan dalam mengelola keuangan. Umumnya Gen Z sudah paham terhadap risiko investasi berisiko tinggi seperti kripto. Artinya, pilihannya bukan semata-mata minimnya literasi, melainkan perbedaan pandangan terhadap investasi.
"Mungkin prioritasnya sudah berubah. Ini pemahaman yang memang menarik. Sehingga kalau isunya adalah semata-mata literasi edukasi yang konvensional, mungkin mereka mengatakan kami sudah ngerti, tapi apa yang ngerti itu sesuai dengan kebutuhan yang sebenarnya merupakan basis dari cara pandang yang lebih rasional, ya belum tentu," jelasnya.
Mahendra menjabarkan bahwa generasi sebelum Gen Z memiliki pandangan berbeda soal investasi. Hal pertama yang diutamakan adalah pemenuhan kebutuhan pokok. Selanjutnya, jika masih ada sisa dana akan dialokasikan ke tabungan dan income jangka panjang, lalu investasi berisiko rendah.
Selanjutnya, ada sisa dana baru masuk ke aset berisiko tinggi. "Baru kalau mau investasi masuk ke saham ataupun pasar modal. Itu pun mulai yang paling konservatif, yang fixed rate. Baru kemudian reksadana, baru sahamnya. Baru setelah masih ada uang lebih dan seterusnya baru masuk ke kripto," imbuhnya.
Mahendra mengaku, cara pandang Gen Z berbeda. Berdasarkan hasil survei, mereka yang belum memiliki pekerjaan stabil menyatakan sudah mengerti dan memahami aset investasi kripto.
"Kok bisa mereka yang relatif istilahnya mencari atau memiliki pekerjaannya sudah susah, tapi mendeklarasikan diri sudah ngerti masalah kripto dan bukan hanya ngerti, tapi masuk. Berarti melompat dari apa yang menjadi pemahaman konvensional kita Gen Z ini," sebutnya.
Mahendra menambahkan, hal ini menjadi tantangan yang cukup sulit karena perlu literasi edukasi dengan format dan pendekatan yang berbeda.
"Karena cara pandangnya betul-betul berbeda dengan apa yang biasa kita kenal," tutupnya
Sementara itu, OJK mengungkapkan potensi sektor inovasi teknologi dan digital sektor keuangan di pasar global masih sangat besar.
Kepala Eksekutif Pengawas Inovasi Teknologi Sektor Keuangan (ITSK), Aset Keuangan Digital dan Aset Kripto (IAKD) merangkap anggota dewan komisioner OJK Hasan Fauzi mengatakan, sektor ini akan terus mengalami peningkatan ke depan.
Hasan menyebut proyeksi nilai pasar di industri ini secara global untuk tahun 2033 mendatang mencapai US$ 8.567,4 miliar dengan angka pertumbuhan tahunannya yang cukup tinggi, yaitu diproyeksikan mencapai angka 26,3%.
Hasan menuturkan, industri inovasi teknologi dan digital di sektor keuangan di Indonesia masih sangat besar. Sebab, Indonesia memiliki keunggulan demografi yang mendukung keberadaan fintech. Industri ini terkait erat dengan adopsi dan penggunaan dari internet serta smartphone.
"Kita tercatat mungkin menjadi salah satu negara yang pengguna internetnya sangat besar, ada 74,6% porsi penduduk kita yang sudah menikmati layanan internet atau sekitar 212 juta jiwa dengan penetrasi dan adopsi smartphone yang luar biasa tinggi," ujarnya dalam rapat kerja dengan Komisi XI di gedung DPR RI Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Selain itu, Hasan juga mengungkapkan, pada sektor keuangan digital, bukan hanya fintech konvensional, namun fintech syariah juga sangat diminati.
"Kita (Indonesia) juga berasal survei menjadi negara ketiga di dunia yang dinilai memiliki lingkungan paling kondusif untuk pengembangan fintech syariahnya," tuturnya.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]

3 hours ago
1















































