Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melaporkan, tingkat kepercayaan industri nasional masih sangat kuat di tengah ketidakpastian global dan pelemahan rupiah. Namun di sisi lain, pengusaha mencemaskan kondisi 6 bulan ke depan akibat pelemahan rupiah yang terjadi saat ini.
Sebagai informasi, nilai tukar rupiah ditutup ambruk terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (26/5/2026), menjelang libur panjang Iduladha. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak dalam tekanan. Rupiah dibuka stagnan di level Rp17.730/US$, lalu berbalik melemah hingga sempat menyentuh Rp17.790/US$.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda mengakhiri perdagangan di level Rp17.775/US$ atau melemah 0,25%. Posisi ini kembali menjadi level terlemah sepanjang masa rupiah dan semakin mendekatkan mata uang Garuda ke level psikologis berikutnya di Rp17.800/US$.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief mengatakan hal ini ditandai dengan lonjakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Mei 2026 yang mencapai 53,56. Dengan posisinya yang di atas 50, menunjukkan IKI Mei 2026 masih di level ekspansi.
IKI Mei 2026 ini naik 1,81 poin dibandingkan IKI April 2026 yang sebesar 51,75. Juga naik 1,45 poin dibandingkan IKI Mei 2025 yang sebesar 52,11.
"IKI yang naik signifikan ini menurut Kemenperin merupakan optimisme pelaku industi atas keputusan Presiden Prabowo yang tidak menaikkan harga BBM subsidi," katanya dalam konferensi pers IKI Mei 2026 yang ditayangkan kana Youtube resmi Kemenperin, Selasa (26/5/2026).
"Kebijakan tidak menaikkan harga BBM subsidi tersebut membuat inflasi tetap terkendali, sehingga daya beli masyarakat terutama atas produk manufaktur meningkat. Kita tahu 80% output manufaktur untuk memasok kebutuhan dalam negeri. Dan sisanya 20% ekspor, " tambahnya.
Optimisme Pelaku Usaha
Berdasarkan optimisme pelaku usaha, ujar Febri, laju kondisi kegiatan usaha secara umum pada bulan Mei 2026 meningkat.
"Kondisi kegiatan usaha secara umum pada bulan Mei 2026 meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya. Sebanyak 75,6% responden menyampaikan kegiatan usahanya Membaik dan Stabil," bebernya.
Di mana, terangnya, proporsi industri yang menyatakan kondisi usahanya Membaik pada bulan Mei 2026 sebanyak 34,2%, naik 3,4% dibandingkan bulan lalu. Sedangkan persentase responden yang menjawab kondisi usahanya
Stabil sebesar 41,4%, turun 0,3%.
"Persentase pelaku usaha yang menyatakan kondisi usahanya Menurun di bulan Mei 2026 turun 3,2% menjadi 24,4%," katanya.
Hanya saja, Kemenperin mencatat, optimisme pelaku usaha 6 bulan ke depan menunjukkan perlambatan.
Disebutkan, tingkat optimisme pelaku usaha pada bulan Mei 2026 terhadap kondisi usahanya 6 bulan ke depan masih menurun dibandingkan beberapa bulan terakhir, yaitu sebesar 69,9%.
"Angka ini melambat 0,2% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya," ujarnya.
Sebanyak 22,7% pelaku usaha menyatakan kondisi usahanya stabil selama 6 bulan mendatang. Angka ini turun 0,8% dibandingkan dengan persentase bulan sebelumnya.
"Persentase pesimisme pandangan pelaku usaha terhadap kondisi usaha 6 bulan ke depan sebesar 7,4%, naik 1,0% dibandingkan dengan persentase bulan
sebelumnya," ungkap Febri.
"Hal ini menurut kami terjadi karena masih adanya ketidakpastian global terutama pada rantai pasok bahan baku industri dalam negeri. Kami menghitung, rantai pasok industri, bahan baku yang berasal dari impor itu sekitar 24% dari total bahan baku yang dibutuhkan industri," jelasnya.
Kondisi inilah, ujarnya, yang memengaruhi persepsi pelaku usaha mengenai kondisi 6 bulan ke depan.
Untuk itu, Febri mengungkapkan, Kemenperin akan mengambil langkah yang dapat jadi strategi untuk menopang industri nasional.
"Tadi kami sebutkan struktur bahan baku 24% itu impor. Selain krisis di Selat Hormuz, saat ini kita mengalami pelemahan nilai tukar rupiah. Dengan struktur itu, industri di Tanah Air disarankan memanfaatkan LCT, local currency transaction. Jadi pembelian bahan baku industri tidak menggunakan dolar, tapi menggunakan mata uang lokal. Dan, kepada industri dalam negeri yang biasanya memaki bahan baku impor bisa dilihat diversifikasi bahan baku dari negara lain," ujarnya.
"Kami juga sampaikan kepada investor, ini saatnya bangun fasilitas produksi yang memproduksi substitusi bahan baku impor tersebut. Kalau seandainya bahan baku impor itu dinilai lebih mahal, tentu industri akan memilih bahan baku yang diproduksi lokal itu untuk meningkatkan daya saingnya," kata Febri.
IKI Mei 2026 Melonjak Dimotori 20 Subsektor Industri
Febri memaparkan, dari 23 subsektor industri yang dianalisis (berdasarkan KBLI 2 digit), 20 subsektor mengalami ekspansi, sedangkan 3 lainnya mengalami kontraksi.
Febri mengatakan, 2 subsektor nilai IKI tertinggi adalah pakaian jadi (KBLI 14) serta industri kertas dan barang dari kertas (KBLI 17).
Sedangkan 3 subsektor yang mengalami kontraksi adalah industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki (KBLI 15), industri pengolahan lainnya (KBLI 32), dan subsektor industri reparasi pemasangan mesin dan peralatan (KBLI 33).
Sebagai informasi, IKI adalah indikator derajat keyakina atau tingkat optimisme industri manufaktur terhadap kondisi perekonomian.
Mengutip akun Instagram pusdatin_kemenperin, IKI digunakan untuk mendiagnosa permasalahan sektor industri serta penyelesaiannya secara cepat dan tepat.
Variabel pembentuk IKI adalah pesanan baru, produksi, dan persediaan produk. Data dikumpulkan dari seluruh perusahaan industri di Indonesia. Pelaporannya dilakukan perusahaan pada portal SIINas setiap bulan pada tanggal 12-23, yang hasilnya akan dirilis setiap akhir bulan berjalan.
"Nilai IKI variabel pesanan baru mengalami percepatan sebesar 2,04 poin atau mencapai 53,47. Selanjutnya, variabel produksi juga mengalami percepatan sebesar 3,86 poin atau mencapai 55,20," kata Febri.
"Sebaliknya, nilai IKI variabel persediaan produk mengalami perlambatan sebesar 1,80 poin atau mencapai 51,33," tambahnya.
Dari sisi orientasi pasar produk industri, paparnya, IKI ekspor dan IKI pasar domestik masih ekspansif.
"IKI Ekspor pada bulan Mei 2026 mencapai 53,73. Masih ekspansi dengan percepatan 1,45 poin dibandingkan dengan bulan April 2026 yang sebesar 52,28," katanya.
"Hal yang sama, pada perusahaan industri berorientasi pasar domestik, nilai IKI Mei 2026 mencapai 53,46 ekspansi dan mengalami percepatan 2,56 poin dibandingkan dengan bulan April 2026 yang sebesar 50,90," ujar Febri.
Materi paparan Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief terkait Optimisme Pelaku Usaha 6 Bulan Ke Depan Menunjukan Perlambatan dalam konferensi pers IKI Mei 2026, Selasa (26/5/2026). (Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Perindustrian RI) Foto: Materi paparan Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri Antoni Arief terkait Optimisme Pelaku Usaha 6 Bulan Ke Depan Menunjukan Perlambatan dalam konferensi pers IKI Mei 2026, Selasa (26/5/2026). (Tangkapan Layar Youtube/ Kementerian Perindustrian RI)
(dce/dce)
Addsource on Google

1 hour ago
2

















































