Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok pekerja makin tertekan dengan masifnya adopsi teknologi kecerdasan buatan (AI) di berbagai sektor. Banyak perusahaan yang mengumumkan PHK massal dan mengaitkannya dengan adopsi AI.
Gelombang PHK yang terus berlanjut, ditambah lesunya perekrutan karyawan baru, menjadikan posisi karyawan kian rentan. Sayangnya, perlindungan bagi karyawan di era AI masih belum menjadi fokus perhatian pemerintah di berbagai negara.
China dan Singapura sudah mengimbau perusahaan agar mengembangkan AI tidak untuk menghapus pekerjaan, melainkan untuk menambah lapangan pekerjaan yang lebih bermakna. Namun, imbauan ini belum menjadi aturan yang mengikat dalam undang-undang.
Alhasil, banyak perusahaan seakan menutup mata dengan nasib karyawan, demi tujuan efisiensi yang lebih penting bagi peningkatan laba dan pertumbuhan bisnis.
Ambil contoh di China, konsultan teknologi dari RealMan Intelligent Technology, Kenneth Ren, dilaporkan sedang melatih para 'pekerja masa depan'. Masalahnya, pekerja yang dimaksud bukanlah manusia, melainkan robot.
"Kami pada dasarnya mengajar robot untuk berpikir secara mandiri," kata Ren kepada CNBC International, di Pusat Pelatihan Data Robot Humanoid Beijing, dikutip Senin (25/5/2026).
Ren membantu menjalankan 'sekolah robot humanoid' di China. Tujuan fasilitas ini untuk menggenjot pengembangan robot, bukan hanya sebagai instrumen hiburan, tetapi juga sebagai angkatan kerja penunjang produktivitas.
Pengembangan robot humanoid merupakan bagian dari strategi industri lebih luas yang dicanangkan Partai Komunis China. Bukan cuma robot humanoid, Beijing juga menargetkan mobil listrik (EV) dan kecerdasan buatan (AS) sebagai kunci teknologi masa depan.
Para pemangku kebijakan di China sudah menetapkan robot humanoid sebagai area yang harus diprioritaskan menghadapi 2030, demi memastikan dominasi China di rantai pasok dan pasar global.
"Kebijakan industri generasi berikutnya dari China mewakili pergeseran dari intervensi sektoral ke 'kebijakan industri menyeluruh'," tulis Kamar Dagang AS dan perusahaan riset Rhodium Group dalam laporan riset tanggal 11 Mei.
Pusat robot humanoid Beijing dibekingi pemerintah setempat dan merupakan jaringan pusat-pusat serupa lainnya di seluruh China. Intinya, pusat-pusat ini melatih robot-robot untuk siap bekerja dalam berbagai skenario.
Fudi Luo merupakan salah satu dari ratusan pelatih robot tersebut. Ia merupakan mantan guru kesenian. Ia mengajari robot humanoid tentang cara memilah barang di jalur produksi pabrik.
Menggunakan kamera, pengontrol, dan penangkap gerakan, ia dan rekan-rekan instrukturnya membimbing murid-murid robot AI melalui tugas-tugas, serta mengulangi tindakan beberapa kali.
"Awalnya, robot tidak memiliki kesadaran, jadi saya harus mengendalikannya secara manual. Tetapi begitu gerakan saya menghasilkan data, robot belajar dan kemudian dapat melakukan tugas itu sendiri," katanya.
Robot-robot tersebut diajarkan keterampilan seperti membersihkan rumah, memijat, mengatur rak toko, dan memperbaiki logam. Luo mengatakan hari kerja biasanya 8 jam dengan gerakan berulang.
"Robot tidak tahu apa itu lelah, tetapi saya tahu!" candanya.
Di kampus yang sama tempat ibu kota China mempromosikan robotika, startup Beijing Inspire-Robots Technology melatih tangan robot dengan pelacakan gerakan dan sensor.
Winston Zou, sekretaris dewan direksi perusahaan, mengatakan kepada CNBC International, bahwa rata-rata sebuah tangan akan berlatih 10.000 kali untuk mempelajari keterampilan baru.
"Tangan robot kami saat ini bisa mengambil telur atau objek yang lebih kecil," kata Zou.
Amerika Patut Waspada
CEO Tesla Elon Musk dalam laporan kinerja Q4-2025 pada Januari 2026, mengatakan bahwa robot humanoid Optimus saat ini lebih canggih ketimbang buatan China dalam urusan desain tangan. Musk mengatakan tangan robot adalah yang paling susah dikuasai sejauh ini.
Namun, Musk tak menampik perkembangan China yang agresif dalam bidang tersebut. "Sejauh ini, kompetitor terkuat untuk robot humanoid adalah China. China sangat baik dalam memperkuat skala manufakturnya.
Saat ini, robot-robot di China bukan hanya dilatih di pusat-pusat pelatihan khusus, tetapi juga diterjunkan langsung dalam dunia kerja nyata.
Banyak robot berbasis AI yang diuji untuk bekerja sebagai koki restoran, bartender, waiter, hingga petugas lalu lintas.
Saat ini, banyak robot yang masih bergantung pada pengawasan dan arahan manusia. Namun, hanya tinggal menunggu waktu hingga robot-robot ini bisa melakukan pekerjaan manusia sepenuhnya.
"Tujuan kami untuk mengambil alih tugas-tugas yang berbahaya bagi manusia atau pekerjaan berulang yang tidak mau atau takut dilakukan oleh manusia," kata Ren di pusat tersebut.
"Kami tidak berniat menggantikan manusia di bidang apa pun," ujarnya.
(dem/dem)
Addsource on Google

1 hour ago
3

















































