Presiden AS Mendadak Jatuh Pingsan dan Muntah-Muntah

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Selama ini, kesehatan presiden Amerika Serikat selalu dijaga rapat karena menyangkut stabilitas politik dan persepsi publik. Namun pada Januari 1992, dunia menyaksikan momen langka ketika Presiden George H. W. Bush mendadak tumbang di depan tamu negara saat kunjungan resmi ke Jepang.

Insiden itu terjadi saat Bush menghadiri jamuan makan malam kenegaraan yang digelar Perdana Menteri Kiichi Miyazawa di Tokyo, 8 Januari 1992. Dalam tayangan video yang beredar, terlihat di tengah suasana formal dengan sushi mewah khas Jepang, Bush yang duduk di meja utama tiba-tiba terlihat lemas. Dalam hitungan detik, dia muntah dan mengeluarkan isi perutnya ke PM Miyazawa. Lalu tubuhnya roboh dari kursi hingga terjatuh ke lantai.

Suasana yang semula khidmat langsung berubah tegang. Miyazawa bersama agen Secret Service buru-buru membantu Bush yang tampak tak sadarkan diri selama beberapa menit. Para tamu hanya bisa terpaku menyaksikan salah satu orang paling berkuasa di dunia mendadak terlihat begitu rapuh.

Beruntung, Bush segera siuman. Dia bangkit, tersenyum, bahkan sempat mengacungkan jempol kepada para tamu sebagai tanda dirinya baik-baik saja. Setelah itu, dia meninggalkan acara untuk beristirahat di suite pribadinya di Istana Akasaka.

Menurut situs History, dokter kepresidenan kemudian memastikan Bush mengalami gastroenteritis akut, semacam gangguan lambung dan usus yang memicu mual hebat. Apakah karena makan sushi? Tidak bisa ditebak pasti. Sebab, 1-2 hari sebelumnya, agenda Bush memang sangat menguras energi.

Keesokan harinya, kondisinya disebut pulih dan dia kembali menjalani agenda kenegaraan seperti biasa.

Namun, dampak politik dari kejadian itu tak berhenti di ruang jamuan makan. Dalam pemberitaan New York Times, rekaman Bush muntah dan pingsan tersebar luas ke seluruh dunia, memicu gelombang olok-olok dari media hingga acara komedi malam di AS. Di tengah tahun politik, insiden tersebut ikut memperkuat citra Bush sebagai sosok yang mulai menua dan tidak lagi sekuat sebelumnya.

Sebaliknya, penantangnya dari Partai Demokrat, Bill Clinton, tampil dengan citra jauh lebih muda, enerjik, dan penuh vitalitas. Kontras itu menjadi keuntungan besar bagi Clinton dalam membangun persepsi publik.

Meski tentu bukan satu-satunya faktor, momen memalukan di Tokyo itu kerap disebut sebagai salah satu simbol melemahnya citra Bush menjelang pemilu 1992. Pada November tahun yang sama, Bush akhirnya kalah dalam upaya merebut masa jabatan kedua, sementara Clinton melenggang ke Gedung Putih.

(mfa)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |