Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) terus berupaya mendorong agar kerja sama investasi ekosistem baterai kendaraan listrik antara konsorsium perusahaan asal China, Zhejiang Huayou Cobalt Co, dengan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) dapat segera terealisasi.
Sekretaris Satuan Tugas Hilirisasi dan Ketahanan Energi Nasional Ahmad Erani Yustika menjelaskan bahwa kedua perusahaan hingga saat ini masih melakukan pembahasan dan kajian terkait proyek tersebut.
"Masih ada inilah, ada beberapa kerja sama antara Antam dengan Huayou itu masih belum inilah, sampai sekarang masih dalam kajian," kata Erani saat ditemui di Kementerian ESDM, Jakarta, Rabu (21/1/2026).
Erani memastikan bahwa proyek baterai ini masih berlanjut. Namun demikian, ia mengakui untuk proses finalisasi masih memerlukan waktu yang lebih panjang.
Oleh karena itu, Kementerian ESDM belum menetapkan target peletakan batu pertama alias groundbreaking proyek tersebut. Namun, sesuai arahan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, proyek ini harus bisa segera dieksekusi.
"Pak Menteri dalam hal ini ketika memimpin sih belum ada, tapi ini kan mesti dieksekusi secepat yang mungkin bisa dilakukan. Karena kan sumber dayanya ada, anggaran seharusnya tidak menjadi persoalan gitu kan," ujarnya.
Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan bahwa Antam dan Huayou tengah menyelesaikan perjanjian kerja sama untuk proyek investasi ekosistem baterai listrik bernama Proyek Titan. Meski begitu, ia tidak membeberkan hal apa yang belum disepakati antar kedua pihak tersebut.
"Titan ini kita lagi dorong untuk percepatan kerja sama antara Antam sama Huayou, lagi menyelesaikan perjanjian," ungkap Yuliot saat ditemui usai Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Senin (20/10/2025).
Sebagaimana diketahui, Zhejiang Huayou Cobalt resmi menggantikan LG Energy Solution (LGES) pada proyek investasi baterai kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) di Indonesia. Adapun, perusahaan asal China tersebut nantinya akan menggarap proyek senilai US$ 8,6 miliar atau sekitar Rp 139 triliun.
(wia)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1















































