Sering Gertakkan Gigi Saat Tidur? Hati-Hati Bisa Dipicu Stres

10 hours ago 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebiasaan menggertakkan gigi saat tidur atau bruxism tak sekadar masalah pada gigi. Kondisi ini ternyata berkaitan erat dengan kerja otak dan sistem saraf, serta bisa berdampak pada kesehatan secara menyeluruh.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi IPB University, dr Yeni Quinta Mondiani, SpN, menjelaskan, bruxism merupakan gangguan tidur yang perlu diwaspadai jika terjadi terus-menerus. Bruxism, jelasnya, adalah gerakan berulang rahang bawah saat tidur yang menyebabkan gesekan antar gigi.

Kondisi ini bisa menimbulkan suara yang cukup mengganggu, sekaligus berdampak pada gigi dan sendi rahang. Secara medis, kondisi ini terjadi akibat peningkatan aktivitas otot pengunyahan seperti masseter, temporalis, dan pterygoid. Aktivitas tersebut dipicu gangguan pada sistem saraf pusat, khususnya yang berkaitan dengan sistem dopamin.

"Kontraksi otot menjadi lebih sering dan lebih kuat dibandingkan normal, menunjukkan adanya keterlibatan sistem saraf pusat," jelasnya dalam keterangannya dikutip pada Jumat (10/4/2026).

Meski dapat terjadi pada semua usia, bruxism disebut lebih sering ditemukan pada anak usia 3 hingga 12 tahun, dengan prevalensi yang relatif seimbang antara pria dan wanita. Lebih lanjut, dr Yeni menekankan faktor psikologis seperti stres dan kecemasan menjadi pemicu utama.

Semakin tinggi tingkat stres seseorang, semakin besar risiko mengalami bruxism. Oleh sebab itu, pengelolaan stres dinilai penting, tidak hanya untuk kesehatan mental tetapi juga kualitas tidur serta kesehatan gigi dan rahang.

Dalam dunia medis, bruxism masuk kategori parasomnia, yaitu gangguan tidur yang ditandai perilaku atau gerakan tidak diinginkan saat tidur. Kondisi ini juga kerap dikaitkan dengan gangguan lain seperti sleep apnea, nyeri, hingga gangguan gerakan saat tidur.

Selain stres, sejumlah faktor lain juga bisa memicu bruxism, mulai dari faktor genetik, kurang tidur, konsumsi obat tertentu, hingga gangguan ritme sirkadian. dr Yeni pun mengingatkan, bruxism tidak boleh diabaikan, terutama jika sudah menimbulkan gejala seperti nyeri rahang, gigi retak, gigi sensitif, hingga gangguan mengunyah.

"Jika disertai sakit kepala berulang atau gangguan tidur lain, pemeriksaan lanjutan ke dokter spesialis sangat disarankan," tekannya.

Penanganan dilakukan secara menyeluruh sesuai penyebab. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain memperbaiki kualitas tidur, mengelola stres, serta menggunakan pelindung gigi (mouth guard) untuk mencegah kerusakan.

"Dalam kondisi tertentu, dokter juga dapat memberikan obat pelemas otot sebelum tidur untuk mengurangi kontraksi pada rahang," kata ia.

(fsd/fsd) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |