Trump Pasrah ke China, Amerika Terpecah Belah

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Keputusan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengizinkan Nvidia menjual chip kecerdasan buatan (AI) H200 ke China memicu perpecahan politik karena kekhawatiran soal keamanan nasional di Washington. Langkah tersebut dinilai melemahkan keunggulan teknologi Amerika dan mempercepat modernisasi militer Beijing.

Persetujuan resmi atas penjualan chip mengakhiri pembatasan era Biden yang sebelumnya melarang ekspor chip AI canggih ke China atas dasar keamanan nasional. Dengan diterbitkannya aturan baru, pengiriman H200 diperkirakan akan kembali berjalan dalam waktu dekat.

Namun keputusan ini mendapat reaksi keras dari legislator dan mantan pejabat keamanan nasional AS. Matt Pottinger, mantan penasihat senior Gedung Putih untuk Asia pada periode pertama Trump, mengatakan dalam sidang kongres bahwa pemerintahan Trump berada di jalur yang salah dalam kebijakan AI.

Menurutnya, penjualan H200 akan memacu kemampuan militer Beijing, termasuk dalam bidang senjata nuklir, perang siber, drone otonom, perang biologis, serta operasi intelijen dan pengaruh. Ia mendesak Kongres membangun pagar pembatas agar kebijakan serupa tidak terulang di masa depan.

Sejumlah anggota legislatif dari Partai Republik menggemakan kekhawatiran tersebut meski tidak secara langsung mengecam Trump. Michael McCaul mengingatkan bahwa China selama ini dituduh mencuri kekayaan intelektual dari AS, dan menyatakan bahwa Amerika tidak wajib menjual teknologi strategis kepada Beijing.

Legislator Demokrat bahkan menyatakan kritik yang lebih tajam. Gabe Amo menyebut langkah Trump seolah memberikan koordinat kepada lawan di tengah pertempuran dan mempertanyakan alasan AS menyerahkan keunggulannya begitu saja.

"Ini benar-benar seperti Trump menyerahkan koordinat kita kepada lawan di tengah pertempuran," kata Anggota Kongres Demokrat Gabe Amo, dikutip dari Reuters, Senin (19/1/2026). "Mengapa kita memberi keuntungan kita begitu saja?" imbuhnya.

Pemerintahan Trump melalui kepala kebijakan AI, David Sacks, berargumen bahwa menjual chip canggih kepada China justru akan menghambat upaya pemain domestik seperti Huawei untuk mengejar ketertinggalan desain chip dari Nvidia dan AMD. Namun pandangan tersebut ditolak keras oleh para hawkish dengan menyebut klaim itu sebagai fantasi.

Aturan baru sebenarnya mencantumkan sejumlah pembatasan. Sebelum diekspor ke China, chip wajib diuji laboratorium pihak ketiga, sedangkan porsi yang boleh diterima China tidak boleh melebihi 50 persen dari total chip yang dijual kepada pelanggan AS. Nvidia juga wajib memastikan stok chip di dalam negeri mencukupi sebelum pengiriman ke China dilakukan, sementara pembeli di China harus memastikan penggunaan chip tidak terkait militer.

Meski ada pembatasan teknis tersebut, sejumlah pakar menilai efektivitas aturan diragukan. Jon Finer, mantan wakil penasihat keamanan nasional AS era Biden, mengatakan bahwa aturan tersebut akan menciptakan beban besar bagi Departemen Perdagangan dan bergantung pada kejujuran pembeli China dalam mengungkap end-user teknologi tersebut.

Nvidia merespons masalah ini dengan menyatakan bahwa Amerika seharusnya menginginkan industrinya tetap bersaing dalam bisnis komersial yang telah diverifikasi dan disetujui demi mendukung lapangan kerja domestik.

Situasi ini turut menyoroti ketidakjelasan mengenai sejauh mana chip benar-benar akan mengalir ke China, mengingat laporan Reuters sebelumnya menyebut bea cukai China telah menolak chip H200 memasuki wilayahnya.

Hingga saat ini Gedung Putih dan Departemen Perdagangan belum memberikan komentar resmi, sementara Kedutaan Besar China di Washington menyatakan pihaknya mendukung kerja sama yang saling menguntungkan antara kedua negara.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |