Turis Asing Teriak Buang-Buang Waktu, Awas Pariwisata Bali Terancam

1 day ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Bali selama ini dikenal sebagai etalase pariwisata Indonesia di mata dunia. Dari sisi budaya, alam, hingga daya tarik destinasi, Pulau Dewata kerap disejajarkan dengan destinasi unggulan di Asia Tenggara seperti Thailand dan Malaysia. Namun dalam beberapa tahun terakhir, daya saing Bali dinilai mulai tertinggal.

Senior Associate Director Colliers Indonesia Ferry Salanto menilai persoalan utama Bali bukan terletak pada kualitas produknya, melainkan pada berbagai hambatan struktural yang belum terselesaikan. Menurutnya, secara konsep dan pengalaman wisata, Bali sejatinya tidak kalah dibanding negara tetangga.

"Kalau kita lihat secara produk, Bali itu sebenarnya nggak kalah dengan tempat wisata di negara tetangga seperti Malaysia ataupun Thailand. Tapi memang ada kendala-kendala yang harus diperbaiki," ujar Ferry dalam konferensi pers, Rabu (7/1/2025).

Salah satu masalah krusial ialah maraknya vila dan homestay ilegal dengan harga murah, sehingga hotel resmi yang membayar pajak kalah saing.

Selain itu, masalah berikutnya adalah infrastruktur, khususnya transportasi. Kemacetan di sejumlah kawasan wisata utama, terutama di Bali Selatan, telah menjadi keluhan klasik wisatawan. Kondisi ini dinilai menggerus kualitas pengalaman berlibur, terutama bagi wisatawan mancanegara.

"Contohnya di Canggu, macetnya sudah luar biasa. Wisatawan asing jadi frustrasi karena untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain butuh waktu lama. Buat mereka ini wasting time," ungkap Ferry.

Ketertinggalan Bali juga terlihat jika dibandingkan dengan Thailand dan Vietnam yang agresif membangun infrastruktur pariwisata. Ferry menyoroti rencana pembangunan LRT di Bali serta proyek jalan tol dari pelabuhan Gilimanuk yang hingga kini belum juga terealisasi akibat persoalan penentuan rute dan berbagai pertimbangan lainnya.

"Secara planning sebenarnya sudah ada LRT, tapi dari sisi rute saja masih jadi kendala. Ini sudah bertahun-tahun kita monitor, selalu ada saja kemundurannya, Padahal secara kemampuan, kita bisa membangun itu. Lalu koneksi tol dari Gilimanuk penting karena bisa menyerap wisatawan domestik yang mobilisasinya lewat jalur darat, apalagi di saat tiket pesawat relatif mahal," jelas Ferry.

Wisatawan pun mulai membandingkan antara Bali dan destinasi pariwisata lain, Bali tidak lagi berdiri sendirian sebagai pilihan utama, melainkan mulai dibandingkan secara langsung dengan destinasi lain di kawasan Asia Tenggara. Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur yang baru-baru ini melakukan kunjungan ke Penang, Malaysia juga menilai Bali sebenarnya tidak kalah, namun ada banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan.

"Masalah Bali hari ini bukan kurang popularitas atau pengunjung, melainkan ketiadaan penyangga ekonomi. Pariwisata massal membawa konsekuensi tekanan lingkungan, kemacetan, krisis air, tata kota yang terus dipaksa beradaptasi, hingga risiko komodifikasi budaya," jelasnya.

Sobur menilai, di balik tekanan tersebut, Bali sebenarnya memiliki ruang yang sangat luas untuk melangkah ke fase berikutnya. Penguatan ekonomi berlapis dinilai menjadi kunci, terutama melalui pengembangan industri kreatif bernilai tambah tinggi, ekonomi berbasis pengetahuan, wellness dan health tourism yang terukur, hingga produk budaya premium yang berorientasi ekspor.

"Tata ruang dan daya dukung lingkungan harus kembali menjadi rujukan utama. Ketegasan regulasi dan kontrol yang konsisten bukan anti-investasi, justru menjadi syarat agar Bali tetap layak dihuni, bukan hanya layak dipasarkan," kata Sobur.

Keunggulan negara tetangga diantaranya ada kedai kuliner lintas generasi, hingga layanan spa berkonsep kesehatan berpadu dalam satu ekosistem kota yang tertib dan berkarakter. Daya tarik itu lahir bukan dari kemewahan, melainkan dari konsistensi sistem dan kualitas.

"Bali tidak perlu menjadi Penang karena Bali sudah istimewa. Namun Bali perlu belajar dari Penang bahwa sistem yang rapi dan disiplin mampu mengangkat pulau kecil menjadi pemain penting dalam ekonomi global. Dengan jiwa budaya yang besar, Bali justru membutuhkan sistem yang kuat agar tidak runtuh oleh keberhasilannya sendiri," ujar Abdul Sobur.

(dce)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |