4 Gejala Hoarding Disorder, Kebiasaan Menimbun Barang Level Akut

3 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena penghuni rumah atau kontrakan yang menimbun barang hingga menumpuk sering kali dianggap sebagai bentuk kemalasan atau kurang peduli kebersihan. Namun, dari sisi kesehatan mental, kondisi ini bisa mengarah pada gangguan serius yang dikenal sebagai hoarding disorder.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Yusuf Ryadi menjelaskan, gangguan ini ditandai dengan kesulitan ekstrem untuk membuang barang, bahkan yang sudah tidak memiliki nilai guna. Akibatnya, barang terus menumpuk hingga mengganggu fungsi ruang dan aktivitas sehari-hari.

Secara epidemiologis, kondisi ini diperkirakan dialami sekitar 2-6% populasi umum, sehingga tergolong cukup sering ditemukan dalam praktik klinis.

"Banyak individu dengan kondisi ini tetap dapat berfungsi secara sosial, sehingga lingkungan sekitar sering tidak menyadari adanya masalah hingga kondisinya sudah parah," jelas dr. Yusuf dalam keterangannya dikutip pada Selasa 7/4/2026).

Penumpukan barang, terutama di ruang tertutup, bukan hanya masalah estetika. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, infeksi, hingga paparan zat berbahaya.

Selain itu, aspek keselamatan juga menjadi perhatian. Lingkungan yang penuh barang berpotensi meningkatkan risiko kebakaran serta menyulitkan proses evakuasi saat kondisi darurat.

Secara kasat mata, ciri umum gangguan ini adalah ruangan yang penuh, tidak teratur, dan tidak lagi bisa digunakan sesuai fungsinya, seperti tempat tidur atau dapur yang tertutup barang.

Namun, dr Yusuf menegaskan diagnosis tidak bisa hanya berdasarkan tampilan.

"Penilaian harus dilakukan secara klinis, mencakup pola pikir, dorongan internal, serta dampaknya terhadap fungsi kehidupan sehari-hari," ujarnya.

Beda dengan Sekadar Koleksi

Penting untuk membedakan hoarding disorder dengan kebiasaan mengoleksi atau kondisi berantakan sementara. Pada gangguan ini, perilaku menimbun bersifat menetap dan berdampak signifikan terhadap kualitas hidup.

Gejala umum hoarding disorder antara lain:

  • Sulit membuang barang
  • Keyakinan barang akan berguna di masa depan
  • Dorongan kuat untuk terus menyimpan
  • Ruang hidup tidak lagi berfungsi normal

Dari sisi emosional, penderita bisa mengalami kecemasan, tekanan, bahkan ketidaknyamanan saat diminta membuang barang. Kondisi ini juga sering berdampak pada hubungan sosial karena lingkungan tempat tinggal yang tidak layak.

Cara Penanganan

Penanganan hoarding disorder membutuhkan pendekatan jangka panjang dan terstruktur. Salah satu terapi utama yang digunakan adalah Cognitive Behavioral Therapy (CBT), yang membantu individu memahami pola pikir dan melatih pengambilan keputusan secara lebih rasional.

Dalam keseharian, langkah sederhana seperti memilah barang secara bertahap, membuat kategori penggunaan, serta menetapkan batas waktu penyimpanan dapat membantu proses pemulihan.

Pada kasus tertentu, terapi obat juga dapat diberikan, terutama jika disertai gangguan lain seperti kecemasan atau depresi. Dukungan dari keluarga dan lingkungan juga dinilai krusial, dengan pendekatan yang suportif, bukan memaksa.

Sebagai informasi, hoarding disorder telah diakui sebagai diagnosis resmi sejak masuk dalam DSM-5 pada 2013 dan termasuk dalam spektrum gangguan obsesif-kompulsif.

Meningkatkan pemahaman masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi stigma, agar individu dengan kondisi ini bisa mendapatkan bantuan yang tepat sejak dini.

(hsy/hsy) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |