loading...
PM Benjamin Netanyahu jadi sasaran kemarahan warga Israel setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk akhiri perang. Foto/Avi Ohayon/GPO Israel
TEL AVIV - Banyak warga Israel dari berbagai spektrum politik bereaksi marah pada hari Senin terhadap berita kesepakatan damai sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Mereka menyebutnya sebagai bencana bagi Israel dan mengarahkan kemarahan kepada satu orang; Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu.
Pemimpin Israel itu mengatakan pada konferensi pers hari Senin bahwa dengan atau tanpa kesepakatan tersebut, dia akan terus berjuang untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir. Teheran sendiri telah berulang kali menegaskan tidak berupaya memperoleh senjata tersebut, dengan mengatakan program nuklirnya untuk tujuan sipil.
Baca Juga: Analis Israel: Kesepakatan AS-Iran Adalah Kemenangan Besar bagi Teheran
“Selama saya masih menjabat sebagai perdana menteri Israel, hal itu tidak akan terjadi,” kata Netanyahu, menekankan bahwa kesepakatan itu dibuat oleh Amerika Serikat, bukan Israel, dan bahwa dia tidak bergeming atas permintaan Iran agar penarikan Israel dari Lebanon menjadi bagian dari pakta tersebut.
“Iran ingin kami menarik diri dari sana, tetapi itu tidak terjadi. Tahukah Anda mengapa itu tidak terjadi, di antara alasan lainnya? Karena saya sangat, sangat teguh,” katanya, seperti dikutip AP, Selasa (16/6/2026).
Namun, pejabat pemerintah Israel lainnya, para pesaing, politisi, dan komentator dengan cepat mengkritik kesepakatan damai awal tersebut, yang menandai semacam referendum informal tentang masa jabatan perdana menteri menjelang pemilu musim gugur ini dan menggarisbawahi semakin dalamnya isolasi Netanyahu di dalam negeri, di kawasan, dan semakin terisolasi dari Amerika Serikat.
Para kritikus mengatakan Netanyahu menyeret Presiden AS Donald Trump ke dalam perang melawan Iran, sambil memberikan janji-janji yang berlebihan tentang apa yang dapat dicapai. Menurut mereka, Trump sekarang mungkin menyeret Israel keluar dari perang tersebut sebelum Israel merasa siap.
Mereka mengatakan Netanyahu salah menilai keinginan Trump untuk konflik yang berkepanjangan, dikalahkan oleh Iran dalam negosiasi, dan semakin terpinggirkan oleh pemain utama lainnya di kawasan itu.
“Israel membayar harga kesombongan dan kebutaan Netanyahu, dan harga manipulasi yang dia coba lakukan terhadap Trump,” kata mantan perdana menteri yang juga rival Netanyahu, Ehud Barak, dalam sebuah wawancara dengan lembaga penyiaran publik Israel, KAN, pada hari Senin.
“Iran muncul lebih kuat; Israel muncul lebih lemah. Itu adalah tanggung jawab strategis Netanyahu. Dia gagal," ujarnya.










































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5514742/original/096572900_1772104605-ShopeePay_Gebyar_Ramadan_2026_01.jpg)





:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4374521/original/081753100_1679993733-ed-us-iXUXMn_-nh8-unsplash.jpg)