Bursa Saham Mirip Saat Covid: Dow Jones Turun 1.670 Poin, Eropa Hancur

19 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham dunia berguguran pada perdagangan kemarin, Kamis (3/3/2025). Bursa Wall Street jeblok dan mencatat kinerja terburuk sejak krisis pandemi Covid-19 pada 2020.

Bursa saham dunia ambruk setelah Presiden Amerika Serikat (AS) mengumumkan kebijakan baru tarif ke 180 negara. Tarif ini dikhawatirkan meningkatkan risiko perang dagang global yang dapat menjatuhkan ekonomi ke dalam jurang resesi.

Dari bursa AS, Wall Street ambruk berjamaah pada perdagangan Kamis atau Jumat dini hari waktu Indonesia. Indeks S&P jeblok 274,45 poin atau 4,84% dan ditutup di 5.396,52. Penutupan kemarin menjadi hari terburuk sejak Juni 2020 atau awal pandemi Covid-19.

Dow Jones Industrial Average anjlok 1.679,39 poin, atau 3,98%, ke 40.545,93. Pergerakan ini juga menandai sesi terburuknya sejak Juni 2020.

Nasdaq Composite merosot 5,97% dan berakhir di 16.550,61, mencatat penurunan terbesar sejak Maret 2020.

Penurunan di seluruh ekuitas terjadi di hamper semua saham dan sektor, dengan lebih dari 400 konstituen S&P 500 mengalami kerugian.

Kinerja S&P 500 kemarin juga menjadi level terendah sejak sebelum kemenangan pemilu Trump pada 5 November 2024. Indeks acuan ini sudah jeblok 12% dari rekor penutupannya yang dicapai pada Februari.

Bursa Wall Street jeblok sejalan dengan ambruknya saham perusahaan multinasional.

Nike dan Apple masing-masing turun 14% dan 9%. Catatan ini menjadi sinyal jika perusahaan besar yang menjual barang impor mengalami pukulan paling keras.

Five Below jatuh hampir 28%, Dollar Tree anjlok 13%, dan Gap merosot 20%. Saham teknologi juga turun dalam suasana pasar yang menghindari risiko, dengan Nvidia turun hampir 8% dan Tesla lebih dari 5%.

Trump pada Kamis kemarin mengumumkan jika AS akan memberlakukan tarif dasar sebesar 10% untuk semua negara mulai 5 April. Tarif yang lebih besar akan diberlakukan kepada negara-negara yang memberlakukan tarif lebih tinggi terhadap AS akan dikenakan dalam beberapa hari mendatang.

Pada Kamis,Trump mengatakan dan membandingkan kejatuhan pasar serta, penerapan tarif dengan "sebuah operasi, seperti ketika seorang pasien dioperasi."

"Pasar akan melonjak. Saham akan melonjak. Negara akan melonjak. Dan seluruh dunia ingin melihat apakah ada cara mereka bisa membuat kesepakatan," kata Trump dikutip dari CNBC International.

Sejumlah analis mengingatkan tarif Trump masih akan berdampak ke depan.

"Ini adalah skenario terburuk untuk tarif dan [hal ini] belum diperhitungkan pelaku pasar, itulah mengapa kita melihat reaksi penghindaran risiko yang begitu besar," kata Mary Ann Bartels, Kepala Strategi Investasi di Sanctuary Wealth, kepada CNBC International.

"Pertanyaan besar adalah apakah S&P 500 bisa bertahan di level 5.500. Jika tidak bisa bertahan, kita mungkin melihat penurunan lain sebesar 5-10%, yang bisa mengarah ke level terendah 5.200-5.400." imbuhnya.

Bursa saham yang ambruk membuat investor beralih ke obligasi untuk mencari keamanan. Imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun turun serendah 4% karena harga obligasi meningkat.

Ekonom JPMorgan mengatakan bahwa resesi kini kemungkinan besar akan terjadi jika tarif baru ini bertahan dan tidak dinegosiasikan lebih rendah.

Tak hanya Amerika, bursa dunia dari Eropa hingga Asia juga jatuh berguguran.

Bursa Eropa dan Asia Berguguran

Bursa saham Eropa mengalami hari terburuk dalam delapan bulan Kamis kemarin.

Indeks Stoxx Europe 600 anjlok 2,6%, CAC 40 Prancis turun 3,3%, DAX Jerman melemah 3%, dan OMXC25 Denmark jatuh 2,4.

Bank-bank Eropa, yang sebelumnya memimpin reli tahun ini, menjadi sektor yang paling terpukul dengan penurunan 5,5%. Industri otomotif juga mengalami tekanan besar, memperpanjang kerugian sepanjang tahun menjadi 7,2%, setelah tarif baru Trump terhadap impor mobil ke AS mulai berlaku setelah tengah malam waktu Washington.

Prancis dan Jerman berencana mendorong tarif yang lebih agresif guna memperkuat posisi negosiasi Uni Eropa. Eskalasi dramatis dalam perang dagang global yang dipicu oleh Trump berpotensi menghapus sebagian besar ekspansi ekonomi zona euro yang diproyeksikan oleh Bank Sentral Eropa untuk tahun ini dan tahun depan.

"Pertanyaannya adalah seberapa cepat dampak ini akan tercermin dalam data ekonomi," kata Kevin Thozet, anggota komite investasi di Carmignac, Paris, kepada Reuters.

Kekhawatiran terhadap tarif menggantikan sentimen positif yang sebelumnya telah mendukung saham Eropa, yang sempat naik karena harapan akan peningkatan belanja pemerintah di Jerman, suku bunga yang lebih rendah, dan valuasi saham yang lebih murah.

Dari Asia, bursa saham Jepang Nikkei jeblok 2,8% dan membawa indeks ke level terendah dalam delapan bulan.

Bursa Vietnam juga jeblok karena negara tersebut menjadi salah satu yang dikenai tarif tertinggi yakni 46%. Vietnam adalah salah satu hub produsen apparel dunia sehingga akan mendapat pukulan sangat keras dari kebijakan tarif.

Indeks VN ambruk 6,7% sementara HNX jatuh 7,21%.
Investor asing juga terus melepas saham dan mencatat net sell sebesar VND 1,9 triliun (US$ 75,5 juta) atau sekitar Rp 1,25 triliun (US$1=Rp 16.555). Sepanjang kuartal pertama, total Net sell menembus VND 26 triliun (sekitar US$ 1 miliar).

Menurut Luu Chi Khang, Direktur Pusat Riset di CSI Securities, reaksi tajam pasar disebabkan oleh tarif tinggi yang diumumkan AS secara tak terduga terutama tarif 46% terhadap barang Vietnam, yang dianggap mengejutkan.

"Amerika Serikat adalah pasar ekspor terbesar bagi Vietnam, menyumbang hingga 30% dari total nilai ekspor negara ini. Tarif 46% akan berdampak besar pada ekonomi domestic. Dampak ini bisa berlangsung lama kecuali Vietnam berhasil bernegosiasi untuk menurunkan tarif tersebut." tuturnya kepada Vietnam net.

(mae/mae)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |