Cerita Petugas Haji Rawat Jemaah Lansia: Secangkir Kopi Pahit dan Rindu

12 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Ada kebiasaan-kebiasaan kecil yang ternyata tidak pernah benar-benar ditinggalkan seseorang, bahkan ketika ribuan kilometer jauhnya dari rumah.

Bagi seorang jemaah haji lansia asal Jawa Tengah, aroma kopi pahit di pagi hari menjadi pengingat akan rutinitas yang telah menemani hidupnya selama puluhan tahun.

Kebiasaan sederhana itu ikut dibawa hingga ke Tanah Suci. Di tengah rangkaian ibadah haji yang panjang dan melelahkan, secangkir kopi pahit menjadi bagian dari kesehariannya, hal kecil yang dipahami Pelaksana Lansia dan Disabilitas (Landis) Sektor 5 Daerah Kerja (Daker) Makkah Sania Laili Khusnia sebagai bentuk perhatian pada jemaah yang ia dampingi.

Setiap pagi, sebelum menyentuh makanan, jemaah berusia lebih dari 70 tahun itu selalu meminta diseduhkan kopi hitam.

"Beliau selalu bilang minta 'jarang umup'. Kalau orang Jawa bilang itu air mendidih. Beliau sudah membawa kopi sendiri dari Indonesia, dikasih kopi dari sini tidak mau karena katanya rasanya berbeda," ujar Sania pada tim Media Center Haji di Makkah, Rabu 17 Juni 2026.

Baginya, cerita tentang kopi itu bukan sekadar kisah minuman. Itu adalah potongan kecil tentang bagaimana seorang lansia membawa rumahnya ke Tanah Suci. Tentang rasa yang akrab, kebiasaan yang menenangkan, dan kenangan yang membuat perjalanan ibadah terasa lebih dekat.

Dampingi Jemaah Haji Lansia

Selama hampir dua bulan bertugas, Sania bersama tim Landis tidak hanya mendampingi jemaah untuk memastikan ibadah berjalan lancar. Mereka belajar mengenali kebiasaan, memahami kekhawatiran, serta menjadi tempat berbagi cerita bagi para lansia yang jauh dari keluarga.

Peran itu terasa semakin kuat saat mendampingi 38 jemaah dalam program Safari Wukuf Lansia (SWL). Selama beberapa hari, petugas membersamai mereka dari pagi hingga malam, memastikan kebutuhan dasar hingga ibadah mereka terpenuhi.

Bagi Sania, masa pendampingan itu membuat hubungan antara petugas dan jemaah berubah. Waktu yang panjang melahirkan kedekatan yang tidak direncanakan.

"Selama sembilan hari itu kita mulai dekat. Mereka mulai cerita tentang anak, cucu, keluarga di rumah. Bahkan ada yang sampai menjodohkan," kata Sania sambil tertawa mengenang momen tersebut.

Kedekatan itu terasa ketika waktu perpisahan tiba. Setelah hari-hari panjang bersama, sebagian jemaah tidak mampu menyembunyikan rasa haru. Mereka memeluk petugas dan menyampaikan terima kasih karena telah menemani puncak ibadah haji mereka.

Momen Paling Diingat

Ada satu momen yang paling membekas bagi Sania. Seorang jemaah lansia sempat bertanya berapa biaya yang harus dibayarkan atas pelayanan yang diberikan.

"Mbah bilang, 'Saya perlu bayar berapa?' Saya jawab, 'Tidak usah bayar, mbah. Yang penting si mbah sehat, ibadah hajinya selesai, kita sudah senang'. Setelah itu beliau menangis, kita juga ikut menangis," tuturnya.

Bagi petugas Landis, mendampingi lansia berarti hadir dalam ruang-ruang yang sangat personal. Mereka tidak hanya mengantar ke tempat ibadah, tetapi juga membantu aktivitas yang sebelumnya mungkin tidak pernah mereka bayangkan.

Ada jemaah yang membutuhkan bantuan mandi, membersihkan diri, mengganti pakaian, serta menjaga ketika kondisi kesehatan menurun.

Abdul Aziz, petugas Landis lainnya mengatakan, sebagian jemaah awalnya merasa sungkan ketika harus menerima bantuan dari orang yang baru dikenal.

"Awalnya mereka merasa malu karena kita baru bertemu. Tapi setelah berjalan beberapa hari, mereka mulai terbuka. Kita ngobrol tentang keluarga mereka di rumah, dan mereka merasa nyaman," kata Aziz.

Rasa percaya itu tumbuh dari perhatian yang diberikan secara terus-menerus. Petugas mengingat kebiasaan jemaah, memastikan jadwal obat tidak terlewat, dan berkoordinasi dengan tenaga kesehatan ketika ada kebutuhan khusus.

Setiap Lansia Miliki Kondisi Berbeda

Petugas Landis lainnya, Muhammad Rosy menyebut, setiap lansia memiliki kondisi berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang berbeda pula.

"Ada yang minum obat pagi, siang, dan malam. Semua kita tandai. Tapi untuk urusan obat, kita tetap koordinasi dengan dokter agar tidak terjadi kesalahan," ucap dia.

Sektor 5 Makkah terdiri dari 18 hotel dengan sekitar 3.800 jemaah lansia. Di balik perjalanan ibadah mereka, ada tangan-tangan yang bekerja dalam diam. Petugas menjaga ketika malam tiba, mendampingi ketika langkah mulai berat, dan mendengarkan cerita ketika kerinduan kepada rumah muncul.

Hampir 30 hari bersama membuat para petugas menyadari satu hal: pelayanan kepada jemaah lansia bukan hanya tentang membantu mereka menjalankan ibadah, tetapi juga menghadirkan rasa aman di tempat yang jauh dari rumah.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan hanya catatan tugas atau panjangnya hari pengabdian. Ada kenangan tentang senyum, doa, cerita keluarga, dan secangkir kopi pahit yang membawa sedikit rasa rumah ke tengah perjalanan suci mereka.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |