Dolar Tembus Rp17.000, Pengusaha Ini 'Selamat' Impor Pakai Yuan

4 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan rupiah yang tembus Rp17.000 per dolar AS saat ini menjadi catatan bagi pelaku industri manufaktur. Tekanan nilai tukar ini datang di tengah ketidakpastian global, termasuk konflik di Timur Tengah yang turut memengaruhi rantai pasok dan biaya logistik. Industri menyatakan fluktuasi kurs tetap memberikan tekanan, meski dampaknya ke perusahaan relatif terbatas.

"Kami tidak banyak bersinggungan langsung dengan dolar AS karena sebagian besar transaksi impor menggunakan yuan China. Namun pelemahan rupiah terhadap berbagai mata uang, termasuk CNY, tetap memberikan tekanan meski relatif kecil terhadap margin," kata Direktur Keuangan PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES), Andrew kepada CNBC Indonesia, Jumat (10/4/2026).

Situasi tersebut membuat perusahaan yang bergerak di bata ringan ini harus menjaga keseimbangan antara efisiensi dan ekspansi. Di saat yang sama, tekanan eksternal seperti geopolitik turut memperberat tantangan operasional, di antaranya memberikan tekanan terhadap rantai pasok dan biaya logistik.

"Efisiensi operasional dan optimalisasi utilisasi pabrik, khususnya pabrik baru, secara langsung dapat menurunkan biaya produksi. Hal ini terlihat sejak tahun lalu, dimana HPP per meter kubik semakin rendah," jelasnya.

Di sisi efisiensi, Perseroan menurunkan biaya produksi sebesar 7,3% per m³ dibandingkan tahun sebelumnya, yang menjadi modal penting untuk peningkatan margin ke depan.

Efisiensi bakal semakin berguna karena di sisi lain, potensi kenaikan harga BBM dan energi menjadi tantangan berikutnya yang harus diantisipasi. Kenaikan ini berisiko mendorong biaya produksi sekaligus distribusi.

"Biaya energi merupakan komponen utama dalam produksi, sementara biaya transportasi memengaruhi biaya pemasaran. Idealnya, kenaikan ini akan berdampak pada harga jual produk," ungkapnya.

Untuk meredam dampak tersebut, perusahaan mengombinasikan efisiensi internal dengan strategi harga yang lebih fleksibel.

"Dengan investasi energi terbarukan dan optimalisasi jaringan distribusi, kami dapat menekan sensitivitas terhadap kenaikan tarif energi. Penyesuaian harga juga dilakukan secara bertahap dan selektif dengan mempertimbangkan daya beli pasar," tambah Andrew.

Sementara itu, dari sisi pasokan bahan baku impor seperti petrokimia, perusahaan memastikan kondisi masih terkendali meski ada tekanan global. Perusahaan batu bata tidak banyak memerlukan bahan baku petrokimia atau plastik dalam produksinya.

"Komponen impor sangat sedikit dan mayoritas berasal dari dalam negeri. Tidak ada kesulitan pasokan, hanya upaya internal untuk menekan harga impor serendah mungkin," jelasnya.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, prospek industri bata ringan pada 2026 masih dinilai tetap tumbuh. Permintaan didorong oleh program pembangunan perumahan dan proyek infrastruktur yang terus berjalan.

"Kami optimistis dapat meningkatkan volume penjualan sekaligus mempertahankan pertumbuhan di tahun 2026," katanya.

Adapun sepanjang tahun 2025, BLES membukukan pendapatan bersih sebesar Rp1,50 triliun, meningkat 2,8% dibandingkan tahun 2024 sebesar Rp1,46 triliun.

Pada kuartal IV, penjualan bersih sebesar Rp430,2 miliar atau 28,6% dari total penjualan tahunan, dan volume penjualan sebesar 1,0 juta m³ atau 28,5% dari total volume tahunan. Secara kumulatif, total volume penjualan sepanjang tahun 2025 mencapai 3,7 juta m³, menunjukkan tingkat permintaan yang tetap solid di pasar.

"Kami melihat 2025 sebagai tahun penguatan fondasi. Dengan kapasitas yang meningkat dan efisiensi yang mulai terbentuk, kami optimistis profitabilitas akan membaik seiring optimalisasi operasional ke depan," katanya.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |