Jakarta, CNBC Indonesia - Peringatan Hari Buruh Internasional atau May Day 2026 dipastikan berlangsung dalam dua arus berbeda. Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama simpatisan Partai Buruh memilih menggelar aksi terpisah di DPR RI hingga Istora Senayan, alih-alih bergabung dengan peringatan di Monas.
Presiden KSPI sekaligus Partai Buruh, Said Iqbal menegaskan, aksi buruh tahun ini akan melibatkan ratusan ribu pekerja di seluruh Indonesia dan digelar serentak di berbagai daerah.
"Kami ingin menegaskan kembali bahwa ratusan ribu buruh, anggota KSPI dan simpatisan Partai Buruh yang mendukung di dalamnya, akan dilakukan aksi serempak May Day, 1 Mei 2026 di seluruh Indonesia, 38 provinsi, lebih dari 350 kabupaten, kota," kata Said dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Jumat (10/4/2026).
Untuk aksi di Jakarta, katanya, buruh akan bergerak dalam dua tahap, yakni aksi di DPR RI, kemudian melakukan long march ke Istora Senayan.
"Untuk aksi di Jakarta, kami akan melakukan aksi May Day di dua lokasi, yaitu yang pertama, aksi di depan gedung DPR-MPR RI dari sekitar jam 10 sampai dengan jam 12, dan kemudian long march dari DPR-RI menuju Istora Senayan," ujarnya.
Setelah itu, agenda berlanjut di Istora dengan perayaan May Day sekaligus deklarasi organisasi baru buruh.
"Menuju Istora Senayan untuk melakukan May Day fiesta sekaligus deklarasi sebuah organisasi kemasyarakatan buruh. Jadi ormasnya buruh yang diinisiasi oleh KSPI yang kami beri nama Garda Buruh Nasional," ungkap dia.
Organisasi tersebut, kata Said, akan menjadi saluran untuk menyampaikan aspirasi buruh langsung kepada Presiden Prabowo Subianto sekaligus mengawal program-program pemerintah.
Foto: REUTERS/Darren Whiteside
Workers participate in a Mayday rally in Jakarta, Indonesia May 1, 2018. REUTERS/Darren Whiteside
Aksi May Day Dilaksanakan Terpisah
Ia kemudian menegaskan, tidak akan bergabung dengan peringatan May Day di Monas yang disebut-sebut akan diikuti serikat buruh lain, dan kemungkinan akan digelar bersama pemerintah.
"Yang kedua, aksi KSPI yang didukung oleh simpatisan Partai Buruh tidak bergabung bersama-sama peringatan May Day yang diselenggarakan oleh sahabat-sahabat Serikat Buruh di Monas," tegas Said.
Ia menyebut pihaknya telah mendapat informasi soal agenda di Monas, meski belum ada kepastian kehadiran Presiden Prabowo Subianto dalam acara yang direncanakan tersebut.
"Apakah Presiden Prabowo Subianto akan hadir atau tidak hadir di acara peringatan May Day di Monas? kami belum mendapat informasi," ujarnya.
Karena itu, KSPI memilih tetap fokus pada aksi di DPR RI. "Aksi May Day KSPI untuk di Jakarta dilakukan di DPR RI, bukan di Monas. Setelah dari DPR RI, kami akan long march ke Istora Senayan," tegas dia kembali.
Said kemudian membeberkan alasan di balik keputusan tersebut. Salah satunya karena tuntutan buruh sejak May Day 2025 belum juga dipenuhi, terutama terkait RUU Ketenagakerjaan.
"Pertimbangan pertama, KSPI dan simpatisan Partai Buruh berpendapat terhadap enam isu perburuhan yang sudah disampaikan dalam May Day 2025, belum ada yang dipenuhi oleh pemerintah dan DPR RI. Wabil khusus, isu utamanya adalah disahkannya RUU Ketenagakerjaan," jelasnya.
Ia menegaskan, kondisi ini membuat KSPI tidak bisa ikut dalam peringatan bersifat seremonial, yang rencananya akan dilangsungkan di Monas.
"Karena yang tahun lalu saja saat May Day 2025, belum ada satu pun yang dipenuhi oleh pemerintah," ucap Said.
Di sisi lain, KSPI menekankan keputusan ini bukan didasari rasa kecewa, melainkan sebagai bentuk pengingat kepada pemerintah dan DPR.
"Ini bukan masalah kecewa atau tidak kecewa. Ini bertujuan mengingatkan mengapa KSPI melakukan aksi terpisah di DPR RI," katanya.
"Sampai dengan May Day dan sudah lebih 1 tahun, pemerintah dan DPR tidak pernah membahas. Saya ulangi, tidak pernah membahas," ujar dia.
Karena itu, menurutnya, suara buruh harus disampaikan langsung di DPR. "Suara ini harus keras disuarakan, lantang disuarakan oleh KSPI dan buruh Indonesia dengan simpatisan Partai Buruh kalau di DPR," tukasnya.
Selain itu, KSPI juga menilai langkah ini penting untuk menjaga wibawa Presiden agar tidak kembali mengulang janji yang sama.
"Pertimbangan yang kedua, karena justru KSPI dan simpatisan Partai Buruh berpandangan untuk menjaga marwah atau kemuliaan Presiden Republik Indonesia. Karena tidak mungkin pada peringatan tema yang sama yaitu May Day, Presiden berjanji lagi untuk hal yang sama, janji yang sama yang belum dipenuhi," jelas Said.
Ia pun menilai DPR menjadi tempat paling tepat untuk menyuarakan tuntutan, khususnya terkait legislasi.
"Dengan demikian saat May Day, isu pengesahan RUU Ketenagakerjaan menurut pendapat KSPI lebih tepat disampaikan di DPR. Bukan sekedar seremonial peringatan," ucapnya.
Lebih lanjut, Said memastikan aksi akan berlangsung damai dan melibatkan puluhan ribu buruh di Jakarta.
"Yang terakhir, aksi ini atau aksi May Day di seluruh Indonesia, akan dilaksanakan dengan damai, tertib, anti kekerasan, dan tidak boleh anarkis. Karena kami ingin dan sudah berjanji aksi May Day yang diikuti di DPR ini antara 30.000 sampai 50.000 buruh. Jadi minimal 30.000 buruh," pungkasnya.
(wur)
[Gambas:Video CNBC]

4 hours ago
3















































