Ekonomi Bisa Makin Gelap Karena Trump: 4 Kenyataan Pahit Ini Ancam RI

19 hours ago 6

Jakarta, CNBC Indonesia - Kebijakan tarif perdagangan Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara yang terdampak cukup besar yakni 32%.

Secara umum, AS akan memberlakukan tarif bea impor dengan tarif dasar 10% pada semua impor ke AS dan bea masuk yang lebih tinggi pada puluhan negara lain.

Salah satu yang menjadi perhatian adalah posisi Indonesia yang merupakan penyumbang defisit perdagangan AS yang terkena dianggap telah mengenakan tarif sebesar 64% dan dikenai balasan oleh AS sebesar 32% atau setengahnya.

Dampak Kebijakan Tarif Impor ke RI

1. Defisit Neraca Pembayaran Melebar

Kebijakan tarif impor AS yang mencapai 32% terhadap produk Indonesia akan berdampak signifikan terhadap neraca pembayaran (Balance of Payments/BoP) Indonesia, terutama dalam hal perdagangan dan investasi. Bagi Indonesia, AS merupakan pemasok valuta asing terbesar, menyumbang surplus perdagangan sebesar US$16,8 miliar pada2024.

Bahana Sekuritas mengungkapkan tarif tersebut juga berpengaruh terhadap fundamental jangka panjang rupiah (IDR).

2. Surplus Mengecil

Berdasarkan perhitungan Bahana Sekuritas, penetapan tarif dapat mengurangi surplus perdagangan bulanan Indonesia menjadi US$700-900 juta dari sekitar US$3 miliar saat ini.

Akibatnya, hal ini dapat memperluas defisit transaksi berjalan pada 2025 diproyeksikan menjadi 0,9% dari Produk Domestik Bruto/PDB (ada di bias atas kisaran target BI sebesar 0,5-1,3%).

Surplus yang menyempit juga akan berdampak kepada pasokan dolar AS di Tanah Air.

Hal lain yang patut menjadi perhatian adalah potensi tindakan pembalasan yang mungkin dilakukan oleh negara lain.

Jika semakin banyak negara yang menerapkan tarif universal baru, hal ini akan berdampak pada ekspor Indonesia secara langsung atau tidak langsung melalui melemahnya permintaan global.

3. Investasi Asing Semakin Terbatas

Tarif baru juga dapat memengaruhi aliran Foreign Direct Investment (FDI) global, dimana investasi asing akan berpindah kembali ke negara-negara maju. Hal ini akan menguntungkan Australia, Eropa, dan Inggris (tarif lebih rendah), karena FDI beralih dari pasar negara berkembang konvensional atau ASEAN (tarif lebih tinggi).

Sementara Ekonom Bank Danamon, Hosianna Situmorang mengungkapkan bahwa dampak tarif ini bagi Indonesia yakni lebih ke barang ekspor yang ditujukan ke AS, seperti tekstil, elektronik, dan alas kaki mungkin mengalami kesulitan di pasar AS.

Hosianna juga mempertegas bahwa kebijakan ini berpotensi memberikan kekhawatiran bagi perusahaan-perusahaan Amerika yang kemungkinan akan mengurangi investasinya di Indonesia serta potensi melemahnya akibat ketidakpastian global di tengah penurunan pendapatan ekspor.

Selaras dengan ekonom lainnya, Ekonom INDEF Eisha Maghfiruha Rachbini menjelaskan penerapan tarif pada produk-produk ekspor Indonesia ke AS, akan berdampak secara langsung.

Tarif tersebut akan berdampak pada penurunan ekspor Indonesia ke AS secara signifikan, seperti tekstil, alas kaki, elektronik, furnitur, serta produk pertanian dan perkebunan, seperti minyak kelapa sawit, karet, perikanan.

"Secara teori, dengan adanya penerapan tarif, maka akan terjadi trade diversion dari pasar yang berbiaya rendah ke pasar yang berbiaya tinggi. Sehingga akan berdampak pada biaya yang tinggi bagi pelaku ekspor untuk komoditas unggulan dan melambatnya produksi, dan lapangan pekerjaan," ungkap Eisha dalam keterangan resminya, dikutip Kamis (3/4/2025).

Dari sisi pengusaha, kebijakan tarif ini pun mendapat perhatian. Ketua Umum Apindo (Asosiasi Pengusaha Indonesia), Shinta Kamdani mengajukan empat hal yang harus diambil pemerintah, seperti diplomasi perdagangan yang lebih kuat, meninjau ulang tarif impor produk AS, diversifikasi pasar ekspor, dan revitalisasi industri dan deregulasi agar produk-produk lebih dapat bersaing.

Selain itu, Ketua Komisi XI DPR RI Mukhamad Misbakhun buka suara soal pengenaan tarif dagang 32%.

Ia menilai pemerintah harus berhati-hati dalam merespons kebijakan baru Presiden Trump tersebut. Menurutnya, pembahasan terkait dampak dari kebijakan baru tarifdagang Trump ini cukup kompleks dan melibatkan perhitungan yang matang.

"Kebijakan tarif perdagangan baru AS di era Trump 2.0 ini kan sangat signifikan dampak tekanannya pada ekspor Indonesia ke US, sehingga pemerintah harus melakukan konsolidasi menyeluruh para stake holder untuk menghadapi nya karena pemerintah harus tetap berhati-hati menghitung untung rugi kebijakan tariff baru US tersebut pada kinerja perekonomian Indonesia secara keseluruhan," ungkapnya kepada CNBC Indonesia, Kamis (3/4/2025).

4. Dolar Menguat, Rupiah Ambles
Pelemahan rupiah menjadi salah satu yang paling diantisipasi dari kebijakan tarif Trump. Saat ini, dampak ke rupiah belum terlihat karena pasar keuangan Indonesia tutup untuk merayakan Hari Raya Idul Fitri.
Namun, melihat pasar non-delivery forward di luar negeri, rupiah sudah mengarah ke Rp 16.754/US$1 atau jauh melemah dibandingkan penutupan di pasar reguler pada Kamis (27/3/2025) yakni Rp 16.555/US$1.

Ketidakpastian global dan ketidakjelasan dampak perang dagang diperkirakan akan membuat investor asing kabur dari pasar keuangan Indonesia dan membuat mata uang Garuda jatuh saat pasar dibuka kembali pada Selasa, 8 April 2025.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(rev/rev)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |