Jakarta, CNBC Indonesia - Israel memaksa sebuah keluarga Palestina menggali kembali makam ayah mereka yang dikuburkan di pemukiman Israel. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut insiden itu sebagai tindakan mengerikan dan tidak manusiawi.
Mengutip Al Jazeera, peristiwa tersebut terjadi di desa Asasa, dekat Jenin, wilayah Tepi Barat yang dihuni oleh Israel.
Hussein Asasa, pria Palestina berusia 80 tahun, meninggal dunia karena sakit pada Jumat lalu dan dimakamkan di pemakaman desa setelah keluarga memperoleh izin resmi dari otoritas keamanan Israel. Namun, tak lama setelah prosesi pemakaman selesai, sekelompok pemukim Israel mendatangi lokasi dan menuntut jenazah dipindahkan. Mereka mengklaim area pemakaman berada di atas lahan yang masuk wilayah permukiman Israel.
Padahal, Putranya, Mohammed, mengatakan terkait pemakaman tersebut keluarganya telah berkoordinasi sebelumnya dengan pasukan keamanan Israel, yang telah memberikan izin.
"Mereka mengatakan tanah itu untuk pemukiman dan pemakaman tidak diperbolehkan. Kami katakan kepada mereka bahwa ini adalah pemakaman desa, bukan bagian dari pemukiman," kata Mohammed Asasa di kutip, Minggu (10/5/2026).
Pihak keluarga mengaku, Israel mengancam akan menggunakan buldoser untuk membongkar makam jika keluarga tidak memindahkan jenazah ayahnya sendiri.
Dalam laporan kantor berita Palestina, Wafa, tentara Israel disebut berada di lokasi dan turut menekan keluarga agar memakamkan ulang jenazah di tempat lain.
"Kami menemukan bahwa mereka [para pemukim] sudah menggali kuburan dan menemukan jenazahnya," kata Asasa.
"Kami melanjutkan penggalian, mengambil jenazahnya, dan menguburkannya di pemakaman lain," lanjutnya.
Namun, militer Israel membantah telah memerintahkan pemindahan makam. Mereka menyatakan pasukan dikirim ke lokasi setelah menerima laporan bentrokan antara warga Palestina dan pemukim Israel. Pihak militer juga mengklaim telah menyita alat gali milik para pemukim demi mencegah eskalasi konflik.
Sementara Kepala Kantor Komisaris Tinggi HAM PBB untuk wilayah Palestina, Ajith Sunghay, mengecam keras insiden tersebut. Ia menyebut tindakan itu mencerminkan meningkatnya dehumanisasi terhadap warga Palestina.
"Ini mengerikan dan menjadi simbol dehumanisasi terhadap warga Palestina yang kami saksikan terjadi di seluruh Wilayah Palestina yang Diduduki (OPT). Tidak ada yang luput, baik yang sudah meninggal maupun yang masih hidup," kata Ajith Sunghay, kepala kantor OHCHR Palestina.
Insiden ini terjadi di tengah meningkatnya kekerasan pemukim Israel di Tepi Barat sejak perang Gaza pecah pada Oktober 2023. Sejumlah serangan pemukim juga dilaporkan terjadi di berbagai wilayah Tepi Barat. Para pemukim melakukan beberapa serangan di seluruh, menyerang seorang anak sambil membakar rumah dan mobil.
Pada bulan Februari, Amnesty International memperingatkan bahwa impunitas global memicu aneksasi ilegal Israel atas Tepi Barat yang diduduki, wilayah yang dianggap krusial bagi negara Palestina di masa depan.
Organisasi hak asasi manusia tersebut menuduh Israel secara terang-terangan memperluas pemukiman ilegalnya.
(hsy/hsy)
Addsource on Google

1 hour ago
4

















































