Negara Baru BRICS Ini Tetap Pilih Dolar AS untuk Transaksi Minyak

21 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok BRICS mengalami hambatan dalam melakukan dedolarisasi. Hambatan ini terjadi karena dua anggota barunya enggan menggunakan transaksi mata uang lokal untuk transaksi komoditas minyak mentah.

Arab Saudi dan Nigeria kabarnya menjadi dua negara yang enggan bertransaksi emas dengan mata uang lokal masing-masing. Penyebabnya, mereka khawatir transaksi minyak mentah tanpa dolar AS akan mengganggu cadangan devisa.

Dilansir watcher.guru, disebutkan meskipun Arab Saudi telah mengumumkan komitmennya untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional, namun untuk komoditas minyak mentah mereka tetap hanya menerima pembayaran dalam bentuk dolar AS.

Tingkah Arab Saudi, yang baru bergabung ke dalam BRICS pada Januari 2024 itu membuat geng bentukan Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan kesulitan meyakinkan negara-negara anggotanya untuk segera melakukan dedolarisasi.

"BRICS merasa sulit untuk meyakinkan negara lain untuk menggunakan mata uang lokal untuk perdagangan minyak dan bukan dolar AS," demikian laporan watcher.guru, media yang berbasis di AS, dikutip Kamis (3/4/2025).

Sementara itu, di Nigeria penolakan penggunaan mata uang lokal dalam transaksi minyak mentah disampaikan para pemasar dan distributor emas hitam tersebut. Kerangka kerja transaksi Naira untuk minyak mentah Nigeria yang ditetapkan oleh pemerintah tidak disetujui oleh serikat perusahaan minyak.

Olufemi Adewole, Sekretaris Eksekutif Depot and Petroleum Products Marketers Association of Nigeria (DAPPMAN) memperingatkan kerangka kerja tersebut dapat mengganggu stabilitas industri minyak dan menghambat pasokan valuta asing.

Menter Luar Negeri Sugino hadiri KTT BRICS Plus. (Intagram/sugiono_56)Foto: Menter Luar Negeri Sugino hadiri KTT BRICS Plus. (Intagram/sugiono_56)
Menter Luar Negeri Sugino hadiri KTT BRICS Plus. (Intagram/sugiono_56)

Olufemi menolak gagasan BRICS untuk menggunakan mata uang lokal dalam transaksi minyak dengan alasan bahwa investasi langsung asing (FDI) dapat mengalami penurunan tanpa dolar AS.

"Kerangka transaksi naira untuk minyak mentah menghadirkan risiko signifikan yang dapat memengaruhi stabilitas valuta asing Nigeria dan menghalangi investasi asing langsung," katanya.

"Pasar minyak global beroperasi dalam dolar AS karena stabilitasnya. Melanjutkan kebijakan (naira untuk minyak mentah) dapat mengasingkan mitra dagang dan investor yang bergantung pada prediktabilitas dolar," tegas Olufemi.

Ketergantungan terhadap dolar AS dalam transaksi perdagangan ini membuat negara-negara berkembang kini menjauhkan diri dari agenda de-dolarisasi karena menganggap tidak memiliki landasan yang kuat.


(wur)

Saksikan video di bawah ini:

Video: Jaksa Agung Jamin Kualitas BBM Pertamax Sudah Sesuai Standar

Next Article Ini Pendapat Marie Elka Soal Rencana RI Masuk BRICS

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |