Studi: Surplus Ekspor China Kian Tekan Peluang Industri Negara Berkembang

11 hours ago 7

loading...

Studi dari para ekonom menyatakan suprlus ekspor China semakin menekan peluang industri negara berkembang. Foto/The Telegraph

JAKARTA - Kebangkitan China sebagai kekuatan ekonomi global selama tiga dekade terakhir sering dipandang sebagai salah satu kisah sukses pembangunan terbesar dalam sejarah modern. Melalui industrialisasi berbasis ekspor, negara ini berhasil mengangkat ratusan juta penduduknya keluar dari kemiskinan dan menjelma menjadi pusat manufaktur dunia.

Namun, keberhasilan tersebut kini memunculkan pertanyaan baru: apakah jalur pembangunan yang pernah dinikmati China masih tersedia bagi negara-negara yang saat ini berada di tahap pembangunan lebih awal?

Baca Juga: Kunjungi Pyongyang, Xi Jinping Diduga Berusaha Redam Pengaruh Rusia atas Korut

Pertanyaan itu menjadi fokus kajian ekonom Johns Hopkins University, Shoumitro Chatterjee, dan ekonom Peterson Institute for International Economics, Arvind Subramanian. Dalam analisis mereka, keduanya berargumen bahwa dominasi manufaktur China yang terus bertahan justru berpotensi menghambat proses industrialisasi negara-negara berkembang yang lebih miskin.

Menurut mereka, China kini tidak hanya menguasai sektor manufaktur berteknologi tinggi seperti kendaraan listrik, baterai, panel surya, dan drone. Pada saat yang sama, negara tersebut juga tetap mempertahankan dominasi pada sektor-sektor manufaktur padat karya yang secara historis menjadi pintu masuk industrialisasi bagi negara berkembang.

"China tidak hanya menaiki tangga teknologi; mereka juga menarik tangga di belakangnya," ujar Chatterjee dan Subramanian dalam analisisnya di Foreign Affairs, Minggu (21/6/2026).

Dalam pandangan keduanya, China tidak sekadar naik ke tangga teknologi yang lebih tinggi, tetapi juga mempertahankan posisi dominan pada industri-industri lama yang biasanya ditinggalkan negara ketika tingkat pendapatan dan upah domestiknya meningkat.

Dari "China Shock" ke "China Squeeze"

Perdebatan mengenai dampak kebangkitan ekonomi China sebenarnya bukan hal baru.

Pada awal abad ke-21, dunia mengenal istilah "China Shock", yang merujuk pada lonjakan ekspor China ke Amerika Serikat setelah negara itu bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Banyak penelitian menunjukkan bahwa gelombang impor murah dari China berkontribusi terhadap hilangnya lapangan kerja manufaktur di sejumlah wilayah industri Amerika.

Fenomena tersebut bahkan diyakini ikut mengubah lanskap politik Amerika Serikat dan memperkuat sentimen anti-globalisasi dalam dua dekade terakhir.

Namun menurut Chatterjee dan Subramanian, guncangan yang terjadi saat ini memiliki karakter berbeda.

Jika "China Shock" pertama terutama dirasakan pekerja di Amerika Serikat, maka gelombang terbaru justru lebih terasa di negara-negara berkembang yang berharap mengikuti jejak industrialisasi China.

"Korbannya bukan lagi pekerja di Detroit atau Stuttgart, melainkan pekerja masa depan di Addis Ababa, Dhaka, Lagos, Nairobi, Phnom Penh, Surat, dan Tirupur," tutur mereka.

Kerugian yang dialami negara-negara tersebut, menurut kedua ekonom itu, tidak selalu terlihat dalam bentuk penutupan pabrik atau pemutusan hubungan kerja.

Sebaliknya, kerugiannya hadir dalam bentuk peluang yang tidak pernah terwujud.

"Pabrik-pabrik tidak pernah dibangun, pasar ekspor tidak pernah dimasuki, kemampuan tidak pernah terakumulasi, dan jalur pengembangan tidak pernah dibuka," papar mereka.

Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya soal pekerjaan yang hilang, tetapi juga mengenai pabrik yang tidak pernah berdiri, pasar ekspor yang tidak pernah berhasil dimasuki, serta kemampuan industri yang tidak pernah berkembang.

Mengapa Manufaktur Penting?

Argumen utama Chatterjee dan Subramanian berangkat dari pengalaman pembangunan hampir seluruh negara yang berhasil keluar dari kemiskinan.

Secara historis, manufaktur menjadi kendaraan utama transformasi ekonomi.

Negara-negara yang kini tergolong maju, termasuk Jepang, Korea Selatan, Taiwan, hingga China sendiri, memulai proses industrialisasinya melalui sektor-sektor yang relatif sederhana seperti tekstil, pakaian jadi, alas kaki, mainan, furnitur, dan perakitan elektronik.

Industri-industri tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, termasuk pekerja berkeahlian rendah, sekaligus membangun kapasitas logistik, manajemen, teknologi, dan institusi negara.

China sendiri merupakan salah satu penerima manfaat terbesar dari sistem perdagangan global yang terbuka.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |