Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak di Yaman kembali mencapai titik didih seiring dengan mencuatnya keretakan antara dua kekuatan besar Timur Tengah, Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA). Pasukan di wilayah selatan Yaman dilaporkan menolak keras untuk bersatu di bawah komando koalisi pimpinan Arab Saudi.
Mengutip laporan AFP, seorang pejabat Yaman yang pro-UEA menyatakan pada hari Minggu (11/1/2025) bahwa Dewan Transisi Selatan (STC), tidak akan setuju untuk bergabung dalam komando tunggal koalisi pimpinan Saudi yang baru saja diumumkan sehari sebelumnya.
Faraj Al Bahsani, Wakil Presiden STC yang didukung UEA, menegaskan bahwa penyatuan pasukan di bawah bendera koalisi adalah hal yang mustahil.
"Pasukan selatan, baik yang berafiliasi dengan Dewan Transisi Selatan (STC), pasukan di Hadramawt, maupun kekuatan lainnya, tidak akan menerima hal ini," ujar Bahsani dalam sebuah wawancara kepada AFP.
Bahsani, yang juga anggota dewan kepemimpinan, saat ini berbasis di Uni Emirat Arab untuk menjalani perawatan medis. Ia merupakan mantan gubernur Hadramout, provinsi kaya minyak yang berbatasan dengan Arab Saudi. Wilayah ini menjadi titik sengketa panas setelah STC sempat menguasainya sebelum akhirnya dipaksa keluar.
Penolakan ini muncul setelah Ketua Dewan Kepresidenan Yaman, Rashad Al Alimi, menyatakan pada hari Sabtu bahwa seluruh kekuatan militer di Yaman Selatan akan beroperasi di bawah komando koalisi pimpinan Arab Saudi.
Ketegangan kemudian semakin meruncing karena pengumuman Alimi pada hari Sabtu muncul hanya beberapa hari setelah pasukan Yaman yang didukung Arab Saudi berhasil merebut kembali sebagian besar wilayah dari tangan STC yang disokong UEA. Sebelumnya, kelompok pro-UEA tersebut sempat mencaplok dua provinsi utama pada bulan Desember lalu.
Kondisi ini menunjukkan adanya persaingan pengaruh yang semakin nyata antara Riyadh dan Abu Dhabi di Yaman, yang dikhawatirkan dapat memperkeruh konflik berkepanjangan di negara tersebut. Diketahui, negara itu berada dalam perang saudara sejak 2014 lalu, ketika pemberontak Houthi yang pro-Iran mengambil alih kekuasaan di Ibu Kota Sana'a.
(tps/tps)
[Gambas:Video CNBC]

2 hours ago
1

















































