Jakarta -
Jalan kaki banyak diklaim sebagai aktivitas fisik yang menyehatkan. Namun mengingat banyaknya variabel saat berjalan kaki, maka tidak semua klaim tersebut bisa ditelan mentah-mentah.
Sebagai aktivitas fisik, yang memang menjadi bagian dari pola hidup sehat, jalan kaki tentu memberikan manfaat bagi kesehatan. Di media sosial, tak sulit menemukan berbagai cerita sukses tentang menurunkan berat badan dengan rutin berjalan kaki.
Akibatnya, banyak yang berharap terlalu tinggi dari aktivitas yang memang murah meriah ini. Padahal, ada banyak faktor yang turut mempengaruhi seberapa besar manfaat yang bisa diharapkan saat berjalan kaki.
Supaya benar-benar mendapat manfaat sesuai yang diharapkan, yuk mari kenali fakta-fakta di balik mitos jalan kaki yang kerap disalahpahami.
1. Harus 10 Ribu Langkah Sehari?
MITOS. Faktanya, sebuah riset di Universidad de Granada (UGR) menyebut, hanya perlu 8 ribu langkah berjalan kaki dalam sehari untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Studi yang dipublikasikan di Journal of American College of Cardiology ini mematahkan anggapan bahwa jalan kaki idealnya harus 10 ribu langkah setiap hari.
"Secara tradisional, banyak orang berpikir bahwa Anda harus mencapai sekitar 10.000 langkah sehari untuk memperoleh manfaat kesehatan, sebuah gagasan yang muncul di Jepang pada tahun 1960an tetapi tidak memiliki dasar sains," kata penulis utama studi tersebut, Profesor Francisco B. Ortega dari Departemen Pendidikan Jasmani dan Olahraga UGR, dikutip dari Daily Records, Selasa (31/10/2023).
2. Jalan Kaki Tak Sesehat Lari?
MITOS. Dikutip dari Everydayhealth, praktisi sport medicine Michael Fredericson, MD, menyebut jalan kaki sebagai olahraga low impact. Secara umum, ini berarti lebih mudah dilakukan oleh kebanyakan orang dibanding lari yang butuh skill yang lebih spesifik.
Soal mana yang lebih menyehatkan antara lari dan jalan kaki, Fredericson menjawab tergantung goal atau tujuannya. Untuk goal yang spesifik seperti meningkatkan kapasitas paru-paru misalnya, lari memang lebih efektif. Namun untuk mengurangi risiko hipertensi, hiperkolesterolemia, dan diabetes mellitus, sebuah studi di jurnal Arteriosclerosis, Thrombosis, and Vascular Biology menyimpulkan lari dan jalan kaki punya manfaat yang sama.
3. Harus 30 Menit dan Harus Non Stop?
MITOS. Personal trainer dari American Council on Exercise (ACE), Anthony Wall, menyarankan jalan kaki minimal selama 30 menit setiap hari selama 5 hari dalam sepekan. Namun demikian, tidak ada panduan yang secara spesifik mengharuskan seseorang untuk melakukannya secara nonstop.
Faktanya, US Centers for Disease Control and Prevention (US CDC) dalam panduannya menganjurkan aktivitas fisik selama 150 menit dalam sepekan. Anjuran ini setara dengan 30 menit sehari selama 5 hari dalam sepekan, dan bisa dibagi lagi menjadi durasi yang lebih kecil.
"Anda tidak harus melakukan semuanya dalam satu waktu," tulis CDC dalam laman resminya.
NEXT: Jalan cepat lebih sehat?
4. Jalan Cepat Lebih Sehat?
FAKTA. Bukan cuma jalan kaki, aktivitas fisik apapun akan membakar lebih banyak kalori ketika dilakukan dengan intensitas yang lebih tinggi. Jalan kaki dengan kecepatan lebih tinggi berarti dilakukan dengan intensitas lebih tinggi, sehingga lebih efektif untuk menurunkan berat badan.
Terkait manfaatnya bagi jantung, sebuah studi di University of Porto membuktikan kaitan antara kecepatan jalan kaki dengan risiko penyakit kardiovaskular. Seseorang dengan kecepatan jalan kaki rata-rata 5 km/jam teramati punya risiko 50 persen lebih rendah dibanding mereka yang jalan kaki dengan kecepatan rata-rata di bawah 3 km/jam.
Simak Video "Mitos atau Fakta: Lari Lebih Efektif Bakar Lemak Dibanding Jalan Kaki"
[Gambas:Video 20detik]