- Mengapa kita harus peduli terhadap anak yatim?
- Bagaimana wujud kepedulian Nabi Muhammad terhadap anak yatim?
- Ayat Al Quran tentang sedekah kepada anak yatim?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Ceramah acara Ramadan santunan anak yatim menjadi kesempatan untuk melatih kepekaan sosial dan spiritual umat Islam. Tausiyah atau ceramah acara santunan anak yatim dalam kegiatan ini berfungsi sebagai media edukasi untuk menanamkan nilai kepedulian, mengubah rasa iba dan kepedulian menjadi aksi nyata pemberdayaan dan kasih sayang.
Esensi utama dari acara ini adalah membangun jembatan persaudaraan yang kokoh antara para aghniya (orang mampu) dengan anak-anak yang kehilangan sosok ayah. Hal ini untuk memastikan mereka tidak hanya terpenuhi kebutuhan fisiknya, tetapi juga terisi jiwanya dengan perhatian dan harapan akan masa depan yang lebih baik.
Rasulullah SAW: "Aku dan orang yang menanggung anak yatim di surga seperti ini," seraya beliau mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengah (HR. Bukhari). Mengomentari hadits ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab Fathul Bari, menjelaskan bahwa isyarat tersebut menunjukkan betapa tingginya derajat penyantun yatim serta kedekatan posisinya dengan Nabi di surga.
Berikut ini adalah 7 ceramah acara santunan anak yatim tentang kepedulian, dengan tema pilihan.
Teks Ceramah Santunan Anak Yatim 1: Kedudukan Dekat dengan Nabi di Surga
Tema: Motivasi Tertinggi dalam Menyantuni Yatim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang telah melembutkan hati kita untuk berkumpul di majelis yang penuh berkah ini. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad SAW, manusia paling mulia yang juga tumbuh sebagai seorang yatim, namun memiliki hati seluas samudra.
Hadirin wal hadirat yang dimuliakan Allah, serta anak-anakku yang saya cintai. Hari ini kita berkumpul bukan sekadar untuk membagikan materi, tetapi untuk menjemput janji Allah dan Rasul-Nya. Ada sebuah motivasi tertinggi bagi siapa saja yang mau menyisihkan hartanya dan kasih sayangnya untuk anak yatim.
Motivasi itu bukanlah balasan duniawi semata, melainkan kedudukan yang sangat istimewa di akhirat kelak. Kita semua merindukan surga, namun ada yang lebih indah dari sekadar masuk surga, yaitu bertetangga dengan Rasulullah SAW di dalamnya.
Rasulullah SAW memberikan garansi kedekatan tersebut melalui lisan beliau yang mulia. Beliau mengibaratkan kedekatan penyantun anak yatim dengan dirinya seperti dekatnya dua jari.
Mari kita perhatikan hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari berikut ini:
أَنَا وَكَافِلُ الْيَتِيمِ فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا، وَأَشَارَ بِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا شَيْئًا
Artinya: "Aku dan orang yang menanggung (memelihara) anak yatim di surga seperti ini," beliau mengisyaratkan dengan jari telunjuk dan jari tengah serta merenggangkan sedikit di antara keduanya. (HR. Bukhari).
Hadits ini sangat populer, namun maknanya sangat dalam jika kita bedah menggunakan penjelasan para ulama. Apa sebenarnya makna kedekatan jari telunjuk dan jari tengah ini? Apakah hanya sekadar dekat tempatnya?
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitab syarah hadits terkemuka, Fathul Bari (Juz 10, Halaman 436), menjelaskan makna hadits ini dengan sangat indah. Beliau berkata bahwa isyarat ini menunjukkan tingginya derajat dan kedekatan posisi penyantun yatim dengan Nabi SAW.
Beliau menjelaskan: "Cukuplah ini sebagai penjelas tentang tingginya derajat orang yang menanggung anak yatim, karena tidak ada kedudukan di atas kedudukan para Nabi, dan tidak ada kedekatan yang lebih dekat daripada jari telunjuk dengan jari tengah."
Artinya, menyantuni anak yatim adalah "jalan pintas" untuk mencapai derajat spiritual yang tinggi tanpa harus menjadi seorang Nabi. Ini adalah peluang emas bagi kita umat akhir zaman yang amalannya mungkin tidak seberapa dibandingkan umat terdahulu.
Maka, santunan yang kita berikan hari ini, janganlah dianggap sebagai beban atau sekadar "buang sial". Anggaplah ini sebagai tiket VIP untuk bisa menatap wajah Rasulullah SAW dari jarak dekat di surga nanti.
Anak-anak yatim ini adalah kunci surga kita. Membahagiakan mereka berarti membahagiakan Rasulullah. Menghapus air mata mereka berarti mengundang rahmat Allah SWT turun ke dalam kehidupan kita.
Semoga Allah mencatat amal kita hari ini sebagai bukti cinta kita kepada Rasulullah SAW. Semoga harta yang dikeluarkan menjadi saksi pembela di yaumil hisab kelak.
Mari kita tutup majelis ini dengan doa bersama, memohon keberkahan untuk kita dan anak-anak yatim yang hadir.
Allahummaghfir lil mu'minina wal mu'minat. Ya Allah, muliakanlah siapa saja yang memuliakan anak yatim, lapangkanlah rezeki mereka, dan kumpulkanlah kami semua kelak di surga-Mu bersama Baginda Nabi Muhammad SAW.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 2: Obat Bagi Hati yang Keras
Tema: Terapi Spiritual Melalui Kasih Sayang
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Bismillah walhamdulillah, wash-shalatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Segala puji bagi Allah yang memegang kendali atas setiap hati manusia. Kita bersyukur bisa hadir di tengah anak-anak yatim yang wajahnya memancarkan cahaya ketulusan.
Hadirin sekalian yang dirahmati Allah. Pernahkah kita merasa hati ini gersang? Ibadah terasa hambar, nasihat sulit masuk, dan rasa empati kepada sesama mulai memudar? Itu adalah tanda-tanda penyakit qaswatul qalb atau kerasnya hati.
Penyakit hati yang keras ini berbahaya, karena ia bisa menjauhkan kita dari rahmat Allah. Namun, Islam adalah agama yang solutif. Rasulullah SAW memberikan resep yang sangat spesifik untuk melunakkan hati yang membatu.
Resep itu bukanlah dengan memperbanyak puasa sunnah semata, atau shalat malam sepanjang waktu, melainkan dengan melakukan aksi sosial yang nyata: mendekati dan menyantuni anak yatim.
Simaklah nasihat Nabi SAW kepada seorang sahabat yang mengeluhkan kekerasan hatinya berikut ini:
إِنْ أَرَدْتَ أَنْ يَلِينَ قَلْبُكَ ، فَأَطْعِمِ الْمِسْكِينَ ، وَامْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيمِ
Artinya: "Jika engkau ingin hatimu menjadi lunak, maka berilah makan orang miskin dan usaplah kepala anak yatim." (HR. Ahmad).
Hadits ini mengajarkan kita bahwa sentuhan fisik yang didasari kasih sayang kepada anak yatim memiliki dampak psikologis dan spiritual yang dahsyat bagi pelakunya.
Al-Hafizh Ibnu Rajab Al-Hanbali dalam kitabnya yang fenomenal, Jami’ul ‘Ulum wal Hikam, memberikan penjelasan mendalam mengenai hal ini. Beliau menukil bahwa menyayangi anak yatim dapat melahirkan sifat rahmah (kasih sayang) dalam hati.
Ibnu Rajab menjelaskan bahwa hati menjadi keras karena dominasi hawa nafsu dan cinta dunia. Ketika seseorang duduk bersama anak yatim, mengusap kepalanya, dan memberinya makan, ia sedang melawan ego dan kesombongan dirinya sendiri. Ia sedang melatih hatinya untuk tunduk dan peka.
Maka, Bapak/Ibu sekalian, saat memberikan santunan nanti, jangan hanya menyerahkan amplop atau bingkisan. Tataplah mata mereka, usaplah kepala mereka dengan penuh kasih sayang, bukan sekadar formalitas.
Rasakanlah getaran doa dari hati-hati kecil mereka. Sentuhan tangan Anda di kepala mereka adalah sentuhan yang akan meruntuhkan dinding-dinding kekerasan di hati Anda.
Semoga dengan acara santunan ini, Allah tidak hanya memberikan pahala, tetapi juga menyembuhkan penyakit hati kita, menjadikan kita pribadi yang lembut, pemaaf, dan penuh kasih sayang.
Mari kita berdoa memohon kelembutan hati kepada Sang Pembolak-balik Hati.
Ya Muqallibal qulub, tetapkanlah hati kami di atas agama-Mu. Ya Allah, lembutkanlah hati kami dengan berkah anak-anak yatim ini, jauhkan kami dari sifat sombong dan kikir, serta jadikanlah kami hamba-Mu yang pandai bersyukur.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 3: Harta Tidak Akan Berkurang
Tema: Logika Iman dalam Bersedekah
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah Ar-Razzaq, Dzat Yang Maha Pemberi Rezeki. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW yang mengajarkan kita bahwa kedermawanan adalah pintu kekayaan yang sesungguhnya.
Bapak-bapak, Ibu-ibu, dan para donatur yang dimuliakan Allah. Secara matematika manusia, 10 dikurangi 1 hasilnya adalah 9. Harta yang kita berikan kepada orang lain, secara fisik memang berkurang jumlahnya di dompet atau rekening kita.
Namun, matematika Allah berbeda dengan matematika manusia. Dalam kamus iman, harta yang disedekahkan, terutama kepada anak yatim, tidaklah hilang. Ia justru berkembang, bertambah, dan menjadi abadi di sisi Allah.
Banyak orang takut miskin jika terlalu banyak memberi. Padahal, Rasulullah SAW telah bersumpah atas nama Allah bahwa sedekah tidak akan memiskinkan pelakunya.
Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Muslim:
مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ وَمَا زَادَ اللَّهُ عَبْدًا بِعَفْوٍ إِلاَّ عِزًّا وَمَا تَوَاضَعَ أَحَدٌ لِلَّهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللَّهُ
Artinya: "Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah Allah menambahkan kepada seorang hamba sifat pemaaf melainkan akan semakin memuliakannya. Dan tidaklah seorang hamba bersikap tawadhu' karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim).
Lalu, bagaimana memahami bahwa harta tidak berkurang padahal secara fisik uang kita keluar? Di sinilah kita butuh penjelasan para ulama.
Imam An-Nawawi dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim (Juz 16, Halaman 141), memberikan dua penafsiran yang sangat indah mengenai hadits ini.
Pertama, harta tersebut diberkahi (barakah) dan dihindarkan dari bahaya. Artinya, sisa harta yang ada menjadi lebih bermanfaat, awet, dan menjauhkan pemiliknya dari musibah yang mungkin menghabiskan biaya lebih besar.
Kedua, jika secara dzatnya berkurang di dunia, maka kekurangan itu akan "ditambal" dengan pahala yang berlipat ganda di akhirat, serta ganti yang lebih baik di dunia melalui pintu rezeki yang tidak disangka-sangka.
Jadi, santunan yang Anda berikan hari ini kepada anak yatim adalah investasi paling aman. Tidak ada inflasi, tidak ada kerugian, yang ada hanyalah keuntungan yang berlipat ganda.
Maka, berbahagialah para penyantun yatim. Anda sedang bertransaksi dengan Allah. Dan Allah tidak akan pernah mengingkari janji-Nya untuk melipatgandakan rezeki orang yang bersyukur dan berbagi.
Semoga harta yang Bapak/Ibu keluarkan hari ini menjadi pembersih bagi harta yang lain, serta menjadi penolak bala bagi keluarga di rumah.
Mari kita tengadahkan tangan, memohon keberkahan harta.
Allahumma aktsir amwalana wa auladana, wa barik lana fi ma a'thaitana. Ya Allah, perbanyaklah harta dan keturunan kami, dan berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami. Gantikanlah sedekah ini dengan berlipat kebaikan di dunia dan akhirat.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 4: Rumah Terbaik dalam Pandangan Allah
Tema: Membangun Lingkungan yang Ramah Yatim
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang memerintahkan kita untuk berbuat ihsan. Semoga shalawat dan salam tercurah kepada Rasulullah SAW, suri tauladan dalam memuliakan manusia.
Hadirin yang saya hormati. Kita sering berlomba-lomba membangun rumah yang megah, memperindahnya dengan perabot mewah. Namun, tahukah Anda kriteria "Rumah Terbaik" menurut pandangan Allah dan Rasul-Nya?
Rumah terbaik bukanlah yang paling luas tanahnya, bukan yang paling tinggi pagarnya, ataupun yang paling mahal harganya. Rumah terbaik adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang dimuliakan.
Sebaliknya, rumah terburuk, meskipun megah bak istana, adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim namun ia diperlakukan dengan buruk atau dihina.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Ibnu Majah:
خَيْرُ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُحْسَنُ إِلَيْهِ ، وَشَرُّ بَيْتٍ فِي الْمُسْلِمِينَ بَيْتٌ فِيهِ يَتِيمٌ يُسَاءُ إِلَيْهِ
Artinya: "Sebaik-baik rumah kaum muslimin adalah rumah yang terdapat di dalamnya anak yatim yang diperlakukan dengan baik. Dan seburuk-buruk rumah kaum muslimin adalah rumah yang di dalamnya terdapat anak yatim namun ia diperlakukan dengan buruk." (HR. Ibnu Majah).
Hadits ini menjadi standar sosial bagi kita. "Rumah" di sini bisa dimaknai secara harfiah (tempat tinggal) maupun secara luas (lingkungan masyarakat atau panti asuhan).
Imam Al-Munawi dalam kitab Faydhul Qadir (Juz 3, Halaman 494) menjelaskan bahwa berbuat baik (ihsan) kepada anak yatim mencakup mendidik mereka, memberi nafkah, dan menjaga harta mereka.
Beliau menekankan bahwa keberadaan anak yatim di sebuah rumah adalah sumber turunnya rahmat Allah. Jika mereka dimuliakan, malaikat akan mendoakan penghuni rumah tersebut. Namun jika mereka disia-siakan, laknatlah yang akan turun.
Maka, acara santunan hari ini adalah upaya kita bersama untuk menjadikan lingkungan kita sebagai "Sebaik-baik Rumah". Kita ingin memastikan anak-anak ini merasa dimiliki, dicintai, dan terlindungi.
Kepada anak-anakku sekalian, janganlah berkecil hati. Kalian adalah tamu-tamu istimewa yang membawa keberkahan bagi siapa saja yang menerima kalian.
Dan bagi para donatur, terima kasih telah menjadikan hati dan rumah Anda sebagai tempat berteduh bagi mereka. Anda telah memilih untuk memiliki kriteria rumah terbaik di mata Allah.
Semoga Allah memberkahi tempat tinggal kita, menjadikan rumah tangga kita sakinah mawaddah warahmah dengan keberkahan menyantuni yatim.
Mari kita tutup dengan doa keselamatan dunia akhirat.
Rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah wa qina 'adzaban nar. Ya Allah, jadikanlah rumah kami surga bagi penghuninya, hiasilah akhlak kami dengan kasih sayang kepada sesama, dan lindungilah kami dari sifat dzalim.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah 5: Perlindungan dari Api Neraka
Tema: Sedekah sebagai Perisai Akhirat
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillahi rabbil 'alamin. Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah yang masih memberikan kita kesempatan untuk beramal shalih. Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad SAW.
Bapak, Ibu, dan Saudara sekalian. Hidup di dunia ini hanyalah persinggahan sementara. Tujuan akhir kita adalah akhirat. Di sana, hanya ada dua tempat kembali: Surga atau Neraka.
Setiap kita pasti menginginkan keselamatan dari api neraka. Tahukah Bapak/Ibu, bahwa salah satu perisai paling kuat untuk menahan panasnya api neraka adalah sedekah yang kita berikan dengan tulus, termasuk santunan anak yatim.
Sekecil apapun kepedulian yang kita berikan, jika didasari keikhlasan, ia mampu menjadi benteng penghalang azab. Jangan pernah meremehkan sedekah, walaupun hanya sebutir kurma.
Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim:
اتَّقُوا النَّارَ وَلَوْ بِشِقِّ تَمْرَةٍ
Artinya: "Jauhilah api neraka, walau hanya dengan bersedekah sebiji kurma." (HR. Bukhari dan Muslim).
Hadits yang singkat ini memiliki makna yang sangat dahsyat. Bahwa keselamatan akhirat bisa diraih dengan amal sosial, bukan hanya ibadah ritual semata.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jawziyyah dalam kitab Uddat as-Sabirin menjelaskan filosofi di balik sedekah sebagai pelindung. Beliau menyebutkan bahwa sedekah memiliki pengaruh yang ajaib dalam menolak bala (bencana) dan memadamkan kemurkaan Allah.
Sebagaimana air memadamkan api, sedekah memadamkan dosa-dosa dan panasnya api neraka. Ketika kita memberi makan anak yatim, hakikatnya kita sedang membangun tembok dingin yang melindungi diri kita di hari kiamat.
Hari ini, yang kita berikan mungkin berupa uang, makanan, atau pakaian. Namun di mata Allah, itu adalah material pembangun benteng keselamatan kita.
Anak-anak yatim ini adalah ladang pahala yang Allah hadirkan di depan mata kita. Merekalah yang membantu kita menyelamatkan diri kita sendiri. Sejatinya, kita lebih butuh kepada pahala sedekah ini daripada butuhnya mereka kepada uang kita.
Maka, ikhlaskanlah niat. Jangan berharap pujian manusia. Biarlah Allah yang mencatatnya sebagai tameng kita di hari di mana tidak ada naungan selain naungan-Nya.
Semoga kita semua yang hadir di sini diharamkan wajahnya dari tersentuh api neraka berkat kasih sayang yang kita tebar hari ini.
Mari berdoa memohon perlindungan Allah.
Allahumma ajirna minan nar. Ya Allah, selamatkanlah kami, orang tua kami, dan keluarga kami dari api neraka. Terimalah sedekah kami sebagai penebus dosa-dosa kami yang telah lalu.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah: Menghindari Dusta Agama
Tema: Refleksi Surat Al-Ma’un dan Tanggung Jawab Sosial
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, was-sholatu was-salamu ‘ala Rasulillah. Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan Al-Qur'an sebagai pedoman hidup. Semoga shalawat tercurah kepada Sang Pembawa Risalah.
Hadirin wal hadirat rahimakumullah. Menjadi seorang Muslim yang taat bukan hanya dinilai dari rajinnya shalat atau fasihnya bacaan Qur'an. Ada satu parameter penting yang Allah letakkan dalam Al-Qur'an tentang siapa itu "Pendusta Agama".
Ini adalah gelar yang menakutkan. Kita tentu tidak ingin shalat kita rajin, puasa kita penuh, namun di mata Allah kita dicap sebagai pendusta agama.
Siapakah mereka? Allah menjawabnya dengan tegas dalam Surat Al-Ma’un ayat 1-3.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ . فَذَلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ . وَلَا يَحُضُّ عَلَى طَعَامِ الْمِسْكِينَ
Artinya: "Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Maka itulah orang yang menghardik anak yatim, dan tidak mendorong memberi makan orang miskin." (QS. Al-Ma’un: 1-3).
Ayat ini adalah peringatan keras (warning) bagi kita semua. Bahwa kesalehan ritual harus berbanding lurus dengan kesalehan sosial.
Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya, Al-Jami' li Ahkamil Qur'an, menjelaskan kata Yadu'u (menghardik) dalam ayat tersebut bermakna menolak hak anak yatim dengan kasar, bersikap dzalim, dan tidak memberikan kasih sayang.
Beliau menekankan bahwa ayat ini turun sebagai teguran bagi orang-orang yang memiliki kemampuan harta namun kikir dan tidak peduli pada nasib kaum lemah. Menelantarkan anak yatim adalah tanda hilangnya substansi beragama dalam diri seseorang.
Acara santunan hari ini adalah bukti nyata kita ingin terlepas dari sifat pendusta agama. Kita ingin membuktikan keimanan kita dengan aksi nyata.
Peduli anak yatim adalah fardhu kifayah (kewajiban kolektif). Jika ada anak yatim yang kelaparan di lingkungan kita, maka kita semua yang mampu akan dimintai pertanggungjawaban.
Semoga kehadiran kita di sini menjadi bukti di hadapan Allah bahwa kita adalah orang yang peduli, bukan penghardik. Kita adalah orang yang merangkul, bukan memukul.
Semoga Allah menjauhkan sifat nifaq (kemunafikan) dari hati kita dan menjadikan kita mukmin sejati lahir dan batin.
Mari kita tutup dengan doa.
Allahumma inna na'udzubika minan nifaq. Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari kemunafikan. Jadikanlah kami hamba yang peka terhadap penderitaan sesama, dan berikanlah kemampuan kepada kami untuk terus berbagi.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Teks Ceramah: Menyantuni Yatim, Mengundang Barakah Langit
Tema: Keajaiban Doa dan Rezeki
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Alhamdulillah, segala puji bagi Allah yang Maha Kaya dan Maha Terpuji. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad SAW yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.
Bapak, Ibu, dan adik-adikku yang saya cintai. Seringkali manusia mencari kunci kesuksesan dan keberkahan hidup ke sana ke mari. Padahal, kunci itu ada di dekat kita, yaitu pada diri dhuafa dan anak-anak yatim.
Banyak pengusaha sukses, pejabat yang amanah, atau keluarga yang bahagia, yang rahasianya ternyata sederhana: mereka rutin memuliakan anak yatim. Mengapa? Karena doa anak yatim dan orang lemah itu mustajab dan mampu menembus langit tanpa penghalang.
Kita ditolong oleh Allah, diberi rezeki, dan diberi kemenangan, seringkali bukan karena hebatnya strategi kita, melainkan karena doa orang-orang yang kita anggap lemah tersebut.
Rasulullah SAW bersabda dalam hadits riwayat Imam An-Nasai:
إِنَّمَا يَنْصُرُ اللَّهُ هَذِهِ الْأُمَّةَ بِضَعِيفِهَا بِدَعْوَتِهِمْ وَصَلَاتِهِمْ وَإِخْلَاصِهِمْ
Artinya: "Sesungguhnya Allah hanya menolong umat ini dengan sebab orang-orang lemah mereka, (yaitu) dengan doa mereka, shalat mereka, dan keikhlasan mereka." (HR. An-Nasai).
Hadits ini menegaskan bahwa kekuatan spiritual kaum dhuafa dan yatim adalah "senjata rahasia" umat Islam.
Syaikh Abdurrahman As-Sa'di dalam kitab tafsirnya Taisir Karimir Rahman (saat menjelaskan ayat terkait orang lemah) dan para syarah hadits, menjelaskan bahwa orang-orang lemah (termasuk yatim) memiliki hati yang lebih ikhlas dan lebih fokus kepada Allah karena ketergantungan mereka kepada makhluk sangat minim.
Keikhlasan hati mereka saat mendoakan orang yang menyantuni mereka itulah yang membuat pintu langit terbuka. Doa mereka tulus, tidak basa-basi.
Maka, ketika Bapak/Ibu memberikan santunan, mintalah doa kepada mereka. "Nak, doakan Bapak sehat ya, doakan usaha Ibu lancar ya." Permintaan itu sangat berharga.
Hari ini kita memberi mereka kebahagiaan berupa materi, namun sejatinya mereka memberi kita kebahagiaan berupa keberkahan hidup yang tak ternilai harganya.
Jangan pernah lelah untuk berbagi. Semakin banyak kita memberi, semakin deras aliran keberkahan yang Allah curahkan.
Semoga pertemuan ini menjadi wasilah turunnya pertolongan Allah bagi segala urusan kita, mengangkat kesulitan kita, dan memudahkan hajat-hajat kita.
Mari kita aminkan doa penutup ini dengan khusyuk.
Rabbana taqabbal minna innaka antas sami'ul 'alim. Ya Allah, terimalah amal ibadah kami. Bukakanlah pintu-pintu rezeki dari langit dan bumi, dan jadikanlah anak-anak yatim ini sebagai saksi kebaikan kami di hari akhir nanti.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
People also Ask:
Mengapa kita harus peduli terhadap anak yatim?
Hal ini karena anak yatim termasuk salah satu golongan yang berhak mendapatkan santunan. Dengan melakukan santunan anak yatim, Anda dapat membantu mereka memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari dan mendapatkan pendidikan dan kesehatan yang layak. Santunan anak yatim juga dapat menjadi ladang pahala yang besar.
Bagaimana wujud kepedulian Nabi Muhammad terhadap anak yatim?
Rasulullah SAW selalu mendahulukan kelembutan hati dalam menyikapi anak-anak yatim. Beliau membela kehormatan mereka dan menegaskan bahwa menyakiti mereka adalah dosa besar. Bahkan dalam sabdanya, beliau menyandingkan pengasuh anak yatim sebagai teman dekatnya di surga.
Ayat Al Quran tentang sedekah kepada anak yatim?
Seperti yang dijelaskan dalam Al-Quran surat Al-Insan ayat 8-10, “Dan mereka memberikan makanan dengan mencintai-Nya kepada orang miskin dan anak yatim dan orang yang ditawan, (mereka berkata), “Kami memberi kamu makanan hanya karena kami ingin mengharapkan wajah Allah, kami tidak menginginkan balasan dan tidak ...
Kenapa 10 Muharram harus menyantuni anak yatim?
Rasulullah bersabda, "Barangsiapa yang memberi keluarganya cukup pada hari Asyura, Allah akan memberi kelapangan rezeki kepadanya sepanjang tahun." (HR At-Thabrani dan Al-Baihaqi). Keutamaan sedekah yatim di bulan Muharram sangat banyak, bisa menjadi cara mengumpulkan pahala untuk di akhirat nanti.

2 days ago
6
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360669/original/037067400_1611729331-rumman-amin-DtnuHnc3Kzs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326255/original/074223700_1756094319-pexels-mahmut-33108520.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5499939/original/029288400_1770801430-XLSmart_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2767867/original/012102100_1554201069-20190402-Wiranto_-Menkopolhukam-Pimpin-Kampanye-Rapat-Umum-Jokowi-Amin-di-Gorontalo--ANTONIUS-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5130499/original/005554400_1739345568-pexels-nicole-michalou-5779170.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5497951/original/063973500_1770695044-WhatsApp_Image_2026-02-10_at_10.17.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5170214/original/048710600_1742596937-20250322-Penukaran_Uang-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5031588/original/007923300_1733102277-IMG-20241202-WA0036.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5502087/original/071500100_1770967677-Yoga.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417717/original/026810000_1763544372-Ilustrasi_Sholawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5068928/original/026798500_1735285005-147116947457b043c25600c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502262/original/070288400_1770975284-Gambar_Marhaban_Ya_Ramadhan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5501360/original/044062500_1770896839-IM3_03.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5156108/original/043999400_1741427558-c1438f3fe8817e50e6a2ece010cad8b7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4195529/original/072417900_1666083849-062171100_1628127938-pexels-themrdan-4331578.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500882/original/010354000_1770880715-Screenshot_2026-02-12_141539.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1776134/original/064656500_1511191072-000_DV1962250.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2222876/original/010352000_1526972383-20180521-Kampung-Ramadan-Di-Jogokaryan-Yogya-GHOLIB-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501423/original/040945800_1770905189-Sup_Telur_Tomat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4754808/original/009450500_1709018216-dates-6638825_1280.jpg)




























