Pasien Fibrilasi Atrial Boleh Jalankan Puasa Ramadan, Dokter: Jadwal Minum Obat Bisa Disesuaikan

1 day ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Fibrilasi atrial (atrial fibrillation/AF) adalah salah satu jenis kelainan irama jantung (aritmia) akibat banyaknya aktivitas fisik yang tidak normal di serambi jantung, khususnya serambi kiri.

“Kita tahu jantung normal hanya dikendalikan oleh satu generator listrik seharusnya, tapi pada saat AF ada lebih dari 400 sumber listrik yang secara liar aktif dan menyebabkan iregularitas irama jantung. Bahkan, menyebabkan kecenderungan terjadinya penggumpalan darah di dalam jantung,” kata dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Profesor Yoga Yuniadi dalam temu media di RS Jantung dan Pembuluh Darah (RSJPD) Harapan Kita, Jakarta, Jumat (13/2/2026).

AF juga dikenal sebagai gangguan irama jantung yang kerap berujung pada penyakit stroke, tapi dapat dicegah.

Memasuki bulan Ramadan, timbul tanya apakah pasien AF boleh menjalankan puasa. Terkait hal ini, Yoga mengatakan bahwa mereka dapat tetap berpuasa dengan pergeseran jadwal minum obat.

“Jika puasa mungkin adjustment (penyesuaian) aja waktu pemberian obatnya. Biasanya sih obat AF itu ada obat pengencer darah yang wajib untuk mencegah stroke. Umumnya obat pengencer darah ini diberikan malam hari. Jadi mestinya tidak ada masalah,” kata Yoga.

“Tapi ada beberapa pengencer darah yang diberikan pagi hari, bisa ditarik ke sahur. Kalau hal-hal lain say akita enggak ada masalah,” imbuhnya.

Aritmia Kerap Luput dari Perhatian

Dalam kesempatan yang sama, dokter spesialis jantung dan pembuluh darah, Dicky Armein Hanafy mengatakan bahwa satu dari tiga orang di dunia berisiko mengalami aritmia atau gangguan irama jantung sepanjang hidupnya. Namun, banyak kasus baru terdeteksi setelah menimbulkan komplikasi berat seperti stroke dan gagal jantung.

Aritmia sering kali tidak menimbulkan gejala awal sehingga luput dari perhatian hingga terjadi kondisi yang mengancam jiwa.

“Gangguan irama jantung sering kali tidak bergejala dan baru diketahui ketika komplikasi sudah terjadi. Padahal, sebenarnya deteksi dini dapat dilakukan dengan cara yang sangat sederhana, yaitu dengan MENARI (MEraba NAdi sendiRI) secara rutin,” katanya.

Yoga sebagai Founder of MENARI, menegaskan urgensi deteksi dini gangguan irama jantung. Menurutnya, salah satu jenis gangguan irama jantung adalah AF sebagai penyebab stroke yang dapat dicegah.

“AF merupakan kelainan irama jantung yang paling sering ditemukan di dunia, termasuk di Indonesia, dengan dampak serius karena meningkatkan risiko stroke hingga 5 kali lipat dan risiko kematian 2 kali lipat. Namun demikian, sekitar 50 persen kasus fibrilasi atrium tidak terdiagnosis karena penderitanya tidak menyadari adanya gangguan irama jantung dalam dirinya,” jelas Yoga.

Deteksi Sederhana dengan MENARI

Kondisi tersebut melatarbelakangi dikampanyekannya MENARI alias Memeriksa Nadi Sendiri. Kampanye MENARI sebagai langkah sederhana yang dapat dilakukan masyarakat untuk memeriksa keteraturan denyut jantung secara mandiri melalui perabaan nadi.

Menurut beberapa penelitian, MENARI terbukti mampu meningkatkan deteksi fibrilasi atrium dan membuka peluang penanganan lebih dini guna menurunkan risiko stroke.

“MENARI dilakukan dengan meletakkan jari telunjuk dan jari tengah di pergelangan tangan atau leher, menghitung denyut selama 30 detik lalu dikalikan dua untuk mendapatkan denyut per menit. Denyut normal berkisar 60–100 kali per menit, namun keteraturan irama juga perlu diperhatikan,” tambah dokter spesialis jantung dan pembuluh darah itu.

Yoga menjelaskan, denyut nadi yang terasa tidak teratur, ada denyut yang hilang, iramanya bervariasi, terlalu cepat di atas 100 kali per menit atau terlalu lambat di bawah 60 kali per menit merupakan tanda yang tidak boleh diabaikan. Terutama bila disertai keluhan seperti pusing, keringat dingin, nyeri dada, sesak napas, pingsan, bicara pelo, atau kelemahan anggota gerak. Kondisi tersebut memerlukan pemeriksaan medis lebih lanjut untuk mencegah komplikasi yang lebih serius.

MENARI Secara Ilmiah

Secara ilmiah, Yoga menegaskan bahwa MENARI merupakan langkah awal yang efektif untuk mendeteksi denyut jantung tidak teratur, meskipun tidak dimaksudkan untuk menegakkan diagnosis.

Jika nadi terasa tidak teratur, pemeriksaan lanjutan seperti rekaman EKG perlu dilakukan, terutama pada kelompok berisiko tinggi seperti usia lanjut atau penderita penyakit jantung. Dengan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, termasuk penggunaan pengencer darah pada kasus fibrilasi atrium, risiko stroke dapat berkurang secara bermakna. Ini menjadikan MENARI sebagai kebiasaan sederhana dengan dampak besar bagi pencegahan penyakit kardiovaskular.

“Kebiasaan memeriksa nadi secara berkala dapat membantu menemukan gangguan irama jantung (fibrilasi atrium) yang sebelumnya tidak disadari. Bila gangguan ini terdeteksi dan diobati dengan pengencer darah yang tepat, risiko Stroke dapat berkurang secara bermakna.”

“Walaupun penelitian besar yang secara langsung membuktikan bahwa kebiasaan meraba nadi sendiri menurunkan angka stroke masih terbatas, tapi tetap saja jalur manfaatnya, mulai dari deteksi dini hingga pencegahan stroke, sudah sangat kuat secara ilmiah,” katanya.

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |