- Apa saja tema Ramadhan yang cocok untuk kultum subuh?
- Bagaimana memilih tema Ramadhan agar tidak monoton?
- Apakah tema Ramadhan harus selalu tentang puasa?
Baca artikel ini 5x lebih cepat
Liputan6.com, Jakarta - Mempersiapkan materi ceramag tema Ramadhan tentu penting untuk menyambut bulan penuh berkah ini. Bulan suci Ramadhan selalu menjadi momentum emas bagi umat Muslim untuk meningkatkan kualitas diri dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Setiap momen di bulan penuh berkah ini adalah kesempatan berharga untuk berdakwah, bahkan dalam durasi yang singkat, seperti 3 hingga 5 menit.
Namun, seringkali para dai atau khatib, baik pemula maupun yang berpengalaman, menghadapi tantangan dalam menentukan tema Ramadhan yang singkat, padat, berdalil, dan mampu menyentuh hati jamaah. Keterbatasan waktu menuntut penyampaian pesan yang efektif tanpa mengurangi esensi ajaran Islam.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, artikel ini menyajikan kumpulan tema Ramadhan praktis yang diinspirasi dari kajian Kitab Shahih Bukhari (Kitabus Shum) oleh Ustaz Adi Hidayat. Tema-tema ini dirancang agar bisa langsung dipakai, dilengkapi dengan dalil, pesan utama, dan struktur ceramah yang aplikatif dan menyentuh hati. Dengan memilih tema yang tepat, diharapkan pesan-pesan kebaikan dapat tersampaikan secara optimal, membangkitkan semangat ibadah, dan membawa perubahan positif bagi setiap Muslim.
Panduan ini akan membantu Anda dalam menyusun ceramah singkat yang berbobot, menjadikan setiap detik Ramadhan penuh makna. Mari manfaatkan kesempatan ini untuk menebarkan ilmu dan kebaikan, menginspirasi jamaah untuk meraih takwa sejati di bulan Ramadhan. Jadi simak contoh teks ceramah selengkapnya berikut ini sebagaimana telah Liputan6.com susun pada Jumat (13/2/2026).
Puasa: Lebih dari Sekadar Menahan Lapar dan Dahaga
Esensi puasa jauh melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga. Puasa adalah pembentukan karakter, sebuah latihan spiritual untuk mengendalikan diri dan menjauhi perbuatan buruk. Tema Ramadhan ini menekankan bahwa ibadah puasa merupakan sarana untuk melatih jiwa dan raga agar lebih dekat dengan ketaatan kepada Allah SWT.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 183, “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Nabi Muhammad SAW juga bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari nomor 1903, “Barang siapa tidak meninggalkan kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Hadis ini menegaskan bahwa puasa yang sejati bukan hanya menahan diri dari makan dan minum, melainkan juga menahan lisan dari perkataan kotor, dusta, ghibah, dan provokasi. Ini juga berarti menahan anggota tubuh lainnya dari perbuatan maksiat. Jika seseorang berpuasa namun lisan dan perbuatan masih buruk, maka puasanya tidak bernilai di sisi Allah. Puasa adalah latihan untuk membentuk karakter moral yang baik, melatih untuk tidak berkata kotor dan tidak berbuat yang tidak pantas.
Puasa sebagai Perisai Mukmin: Melindungi dari Maksiat
Puasa memiliki keutamaan yang sangat besar, salah satunya adalah sebagai perisai bagi seorang mukmin. Tema Ramadhan ini akan membahas bagaimana puasa melindungi kita dari maksiat dan membentuk moralitas. Dengan menjadikan puasa sebagai perisai, seorang Muslim dapat membentengi diri dari godaan dan hal-hal negatif.
Nabi Muhammad SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari nomor 1894, “Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berbuat bodoh. Jika ada seseorang yang mencaci atau mengajaknya bertengkar, hendaklah ia berkata, 'Sesungguhnya aku sedang berpuasa, sesungguhnya aku sedang berpuasa'.”
Hadis ini menjelaskan bahwa puasa berfungsi sebagai perisai (junnah) yang melindungi kita dari perbuatan maksiat dan perkataan buruk. Saat berpuasa, kita dilatih untuk meninggalkan maksiat dan meningkatkan ketaatan. Ini membentuk karakter moral. Ketika seseorang diprovokasi atau dicaci, ia diingatkan untuk berkata, “Saya sedang puasa,” sebagai bentuk pengendalian diri.
Ini adalah latihan untuk menata lisan dan perilaku agar tidak mudah terpancing emosi. Dengan demikian, puasa tidak hanya menahan lapar dan haus, tetapi juga melatih kita untuk menjadi pribadi yang lebih sabar, santun, dan berakhlak mulia.
Kunci Puasa Utama: Imanan wa Ihtisaban
Untuk mencapai kualitas puasa yang utama, ada tiga syarat penting: iman, ikhlas, dan evaluasi diri (muhasabah). Tema Ramadhan ini akan mengupas bagaimana ketiga hal ini menjadikan puasa kita diterima dan diampuni dosa-dosa. Memahami syarat-syarat ini akan membantu kita menjalankan ibadah puasa dengan lebih bermakna.
Nabi Muhammad SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari nomor 1901, “Barang siapa puasa Ramadhan karena iman dan ihtisab, diampuni dosanya yang telah lalu.”
Ustaz Adi Hidayat menjelaskan, “Siapapun yang menunaikan puasa Ramadhan dengan dasar iman, dilakukan karena Allah, dan berniat untuk memperbaiki dirinya... maka yang diberikan oleh Allah pertama kali ampunan dari semua dosa yang pernah dikerjakan.”
Hadis ini menyebutkan dua syarat utama: imanan (karena iman) dan ihtisaban (mengharap pahala dan evaluasi diri). Imanan berarti puasa kita didasari ketaatan kepada Allah, bukan karena kewajiban semata atau hal-hal duniawi.
Ini adalah latihan untuk menanamkan rasa memiliki Allah dalam diri kita, sehingga hidup terasa ringan dan kita tidak mudah berbuat maksiat.
Ihtisaban berarti kita berpuasa dengan keikhlasan dan kesungguhan untuk mengevaluasi diri, memperbaiki kekurangan, dan meningkatkan amal saleh. Ini adalah proses takhalli (mengosongkan hati dari sifat buruk) dan tahalli (menghiasi hati dengan sifat baik). Dengan niat yang benar, puasa akan menghasilkan perubahan positif.
Meneladani Kedermawanan Nabi di Bulan Berkah
Ramadhan adalah bulan berbagi, sedekah, dan kelembutan hati. Tema Ramadhan ini akan mengajak kita meneladani kedermawanan Nabi Muhammad SAW yang meningkat pesat di bulan suci ini. Mengikuti jejak Rasulullah dalam berderma akan melipatgandakan pahala dan keberkahan di bulan Ramadhan.
Sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma meriwayatkan, “Nabi Muhammad SAW adalah manusia yang paling dermawan dalam kebaikan. Dan beliau lebih dermawan lagi di bulan Ramadhan, ketika Jibril datang menemuinya.”
Ustaz Adi Hidayat menambahkan, “Kebaikan itu nambah ketika Ramadhan tiba.”
Hadis ini menunjukkan bahwa kedermawanan Nabi SAW mencapai puncaknya di bulan Ramadhan, terutama saat beliau bertadarus Al-Qur'an bersama Malaikat Jibril. Cahaya Al-Qur'an yang hadir dalam diri Nabi memicu perilaku terbaik, termasuk kedermawanan yang melimpah ruah, bahkan melebihi hembusan angin yang berhembus.
Ini adalah pelajaran bagi kita bahwa puasa yang dilandasi iman akan melipatgandakan kebaikan yang biasa kita kerjakan. Mari kita tingkatkan sedekah, berbagi makanan berbuka, atau membantu sesama. Tidak harus dengan harta yang banyak, bahkan berbagi seteguk air pun sudah menunjukkan pembuktian iman.
Menjaga Lisan dan Jari-Jari di Era Digital
Puasa adalah momentum terbaik untuk melatih pengendalian diri, termasuk dalam menjaga lisan dan ekspresi digital kita. Tema Ramadhan ini akan mengingatkan pentingnya menahan diri dari perkataan dan perbuatan buruk. Di era informasi yang serba cepat ini, menjaga lisan dan jari-jari menjadi semakin krusial.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Barang siapa tidak meninggalkan kata dusta dan perbuatan buruk, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Dalam riwayat lain, beliau juga bersabda, “Puasa adalah perisai. Apabila salah seorang dari kalian berpuasa, janganlah ia berkata kotor dan berbuat bodoh.”
Hadis-hadis ini secara tegas melarang kita untuk berkata kotor, berdusta, berghibah, atau melakukan provokasi, baik secara lisan maupun melalui tulisan di media sosial. Di era digital ini, “lisan” kita tidak hanya terbatas pada mulut, tetapi juga “jari-jari” yang mengetik status atau komentar.
Jika kita masih menyebarkan berita bohong, mencela, atau memprovokasi orang lain saat berpuasa, maka puasa kita tidak akan bernilai di sisi Allah. Puasa melatih kita untuk menimbang setiap perkataan dan ekspresi. Jika ada yang tidak baik, iman kita harus aktif untuk mengontrolnya dan segera memperbaikinya.
Niat yang Benar: Fondasi Amal Diterima Allah
Niat adalah fondasi setiap amal. Tema Ramadhan ini akan membahas bagaimana niat yang benar, yang mencakup takhalli (membersihkan hati) dan tahalli (menghiasi diri dengan amal), menjadi kunci diterimanya ibadah kita. Memastikan niat yang lurus adalah langkah awal menuju ibadah yang berkualitas.
Nabi Muhammad SAW bersabda, “Sesungguhnya setiap amal perbuatan itu tergantung pada niatnya, dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
Sayyidah Aisyah radhiyallahu 'anha juga menyampaikan bahwa manusia akan dibangkitkan di hari kiamat dan mendapatkan tempatnya sesuai dengan niatnya masing-masing.
Niat bukan sekadar ucapan lisan atau lintasan hati, melainkan komitmen yang benar. Niat yang benar dalam puasa Ramadhan melibatkan dua aspek: takhalli dan tahalli.
Takhalli adalah upaya mengosongkan dan menghilangkan hal-hal tidak baik dari hati, seperti pesimis, sifat buruk, atau orientasi duniawi semata. Kita harus berniat untuk memperbaiki sifat-sifat negatif ini.
Kemudian, tahalli adalah menghiasi hati dengan meningkatkan amal saleh. Jika kita berniat puasa hanya untuk dunia, maka hanya dunia yang kita dapat. Namun, jika kita niatkan karena Allah dan untuk akhirat, maka dunia dan akhirat akan kita raih. Niat yang benar akan mengarahkan vektor kegiatan kita menjadi benar di hadapan Allah.
Al-Qur'an dan Ramadhan: Dua Pusaka Tak Terpisahkan
Ramadhan adalah bulan Al-Qur'an. Tema Ramadhan ini akan membahas pentingnya target tilawah, tadabbur, dan doa khatam Al-Qur'an di bulan suci ini. Interaksi intens dengan Al-Qur'an di bulan Ramadhan akan membawa keberkahan dan petunjuk bagi kehidupan.
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surah Al-Baqarah ayat 185, “Bulan Ramadhan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil).”
Nabi Muhammad SAW juga biasa bertadarus Al-Qur'an bersama Malaikat Jibril setiap malam di bulan Ramadhan.
Kisah tadarus Nabi dan Jibril menunjukkan betapa istimewanya interaksi dengan Al-Qur'an di bulan Ramadhan. Ini adalah kesempatan kita untuk meningkatkan tilawah, tadabbur, dan bahkan menghafal Al-Qur'an.
Ustaz Adi Hidayat menyarankan untuk membuat kurikulum Ramadhan, termasuk target bacaan Al-Qur'an. Misalnya, satu juz per hari, yang bisa dibagi menjadi dua lembar (sekitar 30 ayat) setiap sebelum dan sesudah shalat fardhu. Bagi yang belum lancar, Nabi SAW menjanjikan dua pahala: pahala kesungguhan dan pahala bacaan. Jangan lewatkan kesempatan ini untuk menjadikan Al-Qur'an sebagai penuntun hidup kita.
FAQ
Q: Apa saja tema Ramadhan yang cocok untuk kultum subuh?
A: Tema Ramadhan tentang keutamaan puasa, niat, dan pengendalian lisan sangat cocok untuk kultum subuh karena singkat, padat, dan aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Q: Bagaimana memilih tema Ramadhan agar tidak monoton?
A: Untuk menghindari monoton, gunakan variasi tema Ramadhan dari berbagai sumber seperti kitab hadis tematik, ganti sudut pandang (iman, sosial, keluarga), dan sesuaikan dengan situasi serta kebutuhan jamaah.
Q: Apakah tema Ramadhan harus selalu tentang puasa?
A: Tidak. Tema Ramadhan tidak harus selalu tentang puasa. Anda bisa mengangkat tema tentang Al-Qur’an, sedekah, malam Lailatul Qadar, atau akhlak sosial. Yang terpenting, tema tersebut tetap dalam bingkai dan semangat Ramadhan.
Q: Berapa durasi ideal untuk ceramah Ramadhan di masjid?
A: Durasi ideal untuk ceramah Ramadhan bervariasi: 5–7 menit untuk ba’da subuh, dan 10–15 menit untuk ba’da tarawih. Tema Ramadhan berdurasi 3–5 menit sangat cocok untuk kultum singkat atau sela-sela kajian.
Q: Di mana bisa mendapatkan referensi tema Ramadhan selain dari artikel ini?
A: Anda bisa mendapatkan referensi tema Ramadhan dari kitab Sahih Bukhari (khususnya Kitabus Shum), Riyadhus Shalihin.

1 day ago
4
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3360669/original/037067400_1611729331-rumman-amin-DtnuHnc3Kzs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5326255/original/074223700_1756094319-pexels-mahmut-33108520.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5499939/original/029288400_1770801430-XLSmart_01.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2767867/original/012102100_1554201069-20190402-Wiranto_-Menkopolhukam-Pimpin-Kampanye-Rapat-Umum-Jokowi-Amin-di-Gorontalo--ANTONIUS-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5130499/original/005554400_1739345568-pexels-nicole-michalou-5779170.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5497951/original/063973500_1770695044-WhatsApp_Image_2026-02-10_at_10.17.00.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5170214/original/048710600_1742596937-20250322-Penukaran_Uang-ANG_3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5031588/original/007923300_1733102277-IMG-20241202-WA0036.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5502087/original/071500100_1770967677-Yoga.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5417717/original/026810000_1763544372-Ilustrasi_Sholawat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5068928/original/026798500_1735285005-147116947457b043c25600c.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5502262/original/070288400_1770975284-Gambar_Marhaban_Ya_Ramadhan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1100,20,0)/kly-media-production/medias/5501360/original/044062500_1770896839-IM3_03.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5156108/original/043999400_1741427558-c1438f3fe8817e50e6a2ece010cad8b7.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4628436/original/095598200_1698637528-8712637.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5500882/original/010354000_1770880715-Screenshot_2026-02-12_141539.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/1776134/original/064656500_1511191072-000_DV1962250.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/2222876/original/010352000_1526972383-20180521-Kampung-Ramadan-Di-Jogokaryan-Yogya-GHOLIB-4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5501423/original/040945800_1770905189-Sup_Telur_Tomat.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4754808/original/009450500_1709018216-dates-6638825_1280.jpg)




























