Siasat Industri Agar Label Nutrisi Lebih Mudah Dipahami

7 hours ago 5

Jakarta -

Permasalahan penyakit tidak menular di Indonesia masih menjadi persoalan tersendiri, mengingat konsumsi gula garam lemak (GGL) masih sangat tinggi di Indonesia. Di sisi lain, belum semua orang punya kesadaran untuk membaca dan memahami label nutrisi pada kemasan pangan.

R&D Director Tempo Scan Group, Linda Lukitasari, mengatakan bahwa pihaknya selaku industri terus melakukan terobosan agar label nutrisi produk pangan yang mereka produksi bisa dipahami secara luas oleh masyarakat. Tidak sekedar label nutrisi, infografis yang menggambarkan manfaat dan kandungan dalam setiap produk pangan yang diproduksi juga turut disertakan.

"Kita memberikan penjelasan tidak hanya kata-kata, tapi seringkali juga dengan gambar, dengan desain, supaya menarik ilustrasinya, sehingga masyarakat bisa memahami. Untuk kita di industri tentunya tidak hanya sekedar ingin menyampaikan apa yang normatif, tetapi juga apa keunggulan suatu produk," kata Linda dalam acara detikcom Leaders Forum 'Bijak Membaca Label Nutrisi', Jumat (28/2/2025).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, Taruna Ikrar, dalam kesempatan yang sama menuturkan bahwa produsen memang harus mencantumkan informasi produk secara lengkap di kemasan. Tidak hanya mencantumkan label nutrisi, tanggal kedaluwarsa, izin edar, peruntukan, dan kegunaan, tetapi juga sekaligus label 'warning' apabila produk tersebut memang memiliki risiko tertentu.

Oleh karena itu, produsen harus membuat kemasan sebuah produk pangan informatif dan mudah dipahami. Tujuannya agar masyarakat bisa menjadi konsumen yang lebih bijak dalam memilih produk untuk dikonsumsi.

"Pada saat kita sahkan itu label, itu harus informatif, karena label itu bukan untuk disembunyikan, tapi untuk ditampilkan. Sehingga, ada tim dari Badan POM yang akan mengevaluasi sejauh mana aspek informatifnya," jelasnya.

detikcom Leaders Forum 'Bijak Membaca Label Nutrisi'R&D Director Tempo Scan Group, Linda Lukitasari dalam acara detikcom Leaders Forum 'Bijak Membaca Label Nutrisi'. Foto: Grandyos Zafna/detikHealth

Label nutrisi juga harus mempertimbangkan target penjualan produk tersebut. Misalnya untuk produk yang ditujukan bagi anak usia sekolah dasar, maka label nutrisi harus mudah dipahami anak-anak di usia tersebut.

Apabila dalam proses evaluasi dianggap tidak sesuai, BPOM RI bisa menunda persetujuan produk tersebut untuk beredar.

Berkaitan dengan rendahnya kesadaran masyarakat untuk membaca label nutrisi, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (P2PTM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, dr Siti Nadia Tarmizi, MEpid, menuturkan pihaknya akan terus melakukan edukasi pada masyarakat.

Langkah ini juga didorong dengan regulasi yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Pemerintah (PP) No 28 Tahun 2024 yang mengatur bahwa industri harus mencantumkan label gizi yang memuat informasi kandungan GGL. Aturan tersebut merupakan turunan dari UU Kesehatan No 17 Tahun 2023.

Nantinya, aturan tersebut juga diterapkan di restoran cepat saji. Diharapkan kesadaran masyarakat akan jenis dan jumlah nutrisi yang masuk ke dalam tubuh bisa meningkat dengan adanya aturan-aturan ini.

"Untuk siap saji pun kita edukasi untuk juga memberikan informasi nutrisi. Kalau sekarang pergi ke negara-negara lain Singapura, kalau pergi ke resto siap saji sudah ada berapa kadar gula, bahkan menunya tertulis kalorinya. Kalau ada di situ, kita jadi mikir, kita mau makan burger 2000 kalori ini jadi mikir," tandasnya.


(avk/up)

Read Entire Article
Kabar Sehat | Legenda | Hari Raya | Pemilu |