Jakarta -
Cuka sari apel merupakan sejenis cuka yang dibuat dari ragi, gula, dan apel fermentasi yang dihancurkan. Cuka sari apel kerap digunakan sebagai bahan untuk berbagai makanan, seperti saus salad, acar, dan lain sebagainya.
Sebagian orang juga mengonsumsi cuka sari apel karena manfaatnya untuk kesehatan, seperti:
- Menurunkan kolesterol
- Menurunkan kadar gula darah
- Mendukung penurunan berat badan
- Meningkatkan kesehatan kulit
Karena sifatnya yang asam dan cara kerjanya dalam tubuh, cuka sari apel dapat berinteraksi dan memengaruhi efektivitas obat-obatan yang dikonsumsi. Dikutip dari Health, berikut deretan obat yang sebaiknya tidak dikonsumsi berbarengan dengan cuka sari apel.
1. Obat diabetes dan penurun gula darah
Cuka sari apel dapat membantu menurunkan kadar gula darah pada pengidap diabetes. Penelitian menunjukkan efek ini mungkin terjadi karena cuka sari apel dapat memperlambat pengosongan lambung.
Cuka sari apel juga meningkatkan kemampuan tubuh menyerap karbohidrat, sehingga memengaruhi kadar gula darah.
Karenanya, mengonsumsi cuka sari apel bersamaan dengan obat diabetes atau penurun gula darah dapat memicu hipoglikemia (kondisi kadar gula darah yang terlalu rendah). Contoh obat penurun gula darah meliputi:
- Glucophage, Riomet, atau Glumetza (metformin)
- Glukotrol (glipizid)
- Insulin
- Ozempic atau Wegovy (semaglutide)
Cuka sari apel juga dapat berinteraksi dengan ramuan herba atau suplemen yang mengandung kayu manis dan teh hijau.
2. Digoxin
Digoxin adalah obat yang diresepkan untuk mengobati kondisi jantung, seperti fibrilasi atrium dan gagal jantung. Merek obatnya meliputi Digox dan Lanoxin.
Kombinasi digoxin dan cuka sari apel berpotensi memicu efek keracunan. Sebab, cuka sari apel dapat menurunkan kadar kalium dalam tubuh. Sementara, digoxin tidak dianjurkan jika kadar kalium dalam tubuh rendah.
Gejala keracunan digoxin meliputi:
- Kebingungan
- Penurunan kesadaran
- Kesulitan bernafas
- Detak jantung cepat
- Kehilangan selera makan
- Mual, muntah, diare
- Gangguan penglihatan
3. Diuretik
Diuretik merupakan obat yang diresepkan untuk membantu membuang kelebihan cairan dari dalam tubuh. Obat ini juga membantu mengobati kondisi jantung dan pembuluh darah.
Diuretik bekerja dengan mengalirkan air dan elektrolit seperti natrium dan kalium melalui urin. Contoh diuretik meliputi hidroklorotiazid, Diuril (klorotiazid), dan Lasix (furosemid).
Seperti yang disebutkan sebelumnya, cuka sari apel dapat menurunkan kadar kalium dalam tubuh. Beberapa diuretik juga dapat menurunkan kadar kalium.
Jika cuka sari apel dikonsumsi berbarengan dengan diuretik yang menurunkan kadar kalium, risiko hipokalemia (kondisi kadar kalium yang terlalu rendah) akan meningkat.
4. Pencahar stimulan
Pencahar adalah sekelompok obat yang membantu melancarkan buang air besar . Obat ini sering digunakan untuk mengatasi sembelit dan masalah gastrointestinal lainnya.
Pencahar stimulan adalah jenis pencahar yang meningkatkan pergerakan di usus dan mengurangi jumlah air yang diserap tubuh dari usus. Contoh pencahar termasuk senna dan Dulcolax (bisacodyl).
Mengonsumsi obat pencahar tertentu dan cuka sari apel dapat meningkatkan risiko hipokalemia. Karena hilangnya cairan melalui buang air besar, elektrolit seperti kalium dapat dengan mudah dikeluarkan dari tubuh.
5. Glikosida jantung
Ramuan atau suplemen glikosida jantung digunakan untuk mengobati kondisi jantung, seperti fibrilasi atrium dan gagal jantung.
Seperti halnya digoxin, kombinasi cuka sari apel dan glikosida jantung dapat memicu efek keracunan serius terkait rendahnya kadar kalium.
(ath/kna)